Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Selasa, 17 Agustus 2010

Titip Rindu Untuk Pemimpin Yang Shalih

Kutipan : Naungan Allah

”Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala; seorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid; Dua orang saling mencintai karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karenanya; seorang laki-laki yang ketika diajak seorang wanita bangsawan yang cantik lalu ia menjawab: ”Sesungguhnya saya takut kepada Allah”; seorang yang mengeluarkan sedekah sedang ia merahasiakannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan, seorang yang mengingat Allah di tempat sepi sampai meneteskan air mata.” (HR Mutafaqun ’Alaih)

Di negeri yang belum kunjung reda dilanda bencana, sepertinya tidak ada yang lebih menyesakkan dada, selain perilaku tercela yang semakin menambah duka lara. Hal itu akan bertambah menyakitkan, ketika hukum ternyata juga tidak punya batasan jelas,  siapa yang sebenarnya paling layak mendapat hukuman. Kita sudah berbuat baik, tapi justru kebaikan tersebut mendatangkan tuduhan dan hukuman. Lebih menyedihkan lagi bila itu dilakukan oleh pemimpin atau penguasa yang semestinya mengayomi kita.

Kenyataan seperti itu, barangkali sangat bisa dirasakan oleh Muhammad Iqbal Abdul Rahman alis Abu Jibril (48). Lelaki yang dikenal warga Perumahan Witana Hardja, Tangerang sebagai ustad itu ditangkap aparat dengan tuduhan teroris. Padahal, berdasar kesaksian warga, tidak ada hal yang pantas dicurigai dari dirinya sebagai Imam Masjid Al Munawarah, Perumahan Witana Hardja, Tangerang. Abu Jibril mengajar taklim dengan buku ”Sifat Sholat Nabi (Karya Syaikh Nashiruddin Al Al Bani), Riyadhus Shalihin (Karya Imam Nawawi), Tafsir Ibnu Katsier, dan Fathul Majid. Buku-buku tersebut adalah buku yang termasyhur, ditulis oleh ulama-ulama besar dan menjadi rujukan utama kalangan Islam. Namun, inilah kenyataannya. Di kala subuh, tatkala Abu Jibril beserta jamaah masjid belum juga usai menyelesaikan wiridnya, bom itu meledak. Tepat di halaman rumah Abu Jibril. Tidak berselang lama, tanpa bukti yang memadai, aparat menangkap Abu Jibril dan menyita barang-barang yang ada di rumahnya.


Kita tidak sedang membahas pembuktian hukum atas peristiwa di atas. Tetapi di balik peristiwa itu juga peristiwa lain yang sejenis, sesungguhnya terlihat adanya penerapan hukum yang timpang. Betapa hukum nampak tidak berpihak pada orang lemah, bahkan untuk mereka yang berbuat baik. Hukum seperti hanya menuruti selera mereka yang punya kuasa. Kita layak prihatin, betapa saat ini kita tak jua surut dirundung duka. Di antara berbagai peristiwa ketidak-adilan dan pelanggaran hukum, masyarakat kita juga menghadapi wabah busung lapar. Ini adalah ironi di negeri yang dikenal kaya sumber daya alam, betapa masih banyak rakyat yang tak mampu untuk sekedar memenuhi standar minimal gizi.

Kerinduan Kita Itu

Peristiwa tragis seperti yang dialami seorang ustad di atas adalah sekeping kisah tentang legenda kepemimpinan yang menyakitkan. Sekeping dari sekian ribu peristiwa yang lain. Sepenggal dari berderet ketidak-adilan yang serupa lainnya. Tragedi seperti ini menghadirkan kerinduan mendalam akan hadirnya pemimpin yang menenteramkan. Betapa indahnya hidup di bawah seorang pemimpin yang mengayomi, dekat dengan rakyat, menegakkan keadilan, dan menghadirkan kemaslahatan untuk semua rakyatnya.

Ya, kita rindu dengan pemimpin yang mau mengerti dengan kondisi rakyatnya. Seperti keteladanan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah. Umar bin Khattab sering keluar kota sendirian untuk mengetahui kondisi riil rakyatnya. Sampai suatu hari terdengar olehnya suara tangis anak kecil di sebuah gubuk terpencil. Tiba di gubuk itu, Khalifah Umar melihat anak kecil yang menangis itu meminta makan. Ibunya, sedang menghadap periuk di atas api dapur. Ternyata, perempuan itu dan anaknya dalam keadaan lapar, sementara mereka berdua tidak memiliki makanan. Perempuan itu merebus batu untuk membujuk dan memberikan harapan, sampai kemudian si anak berhenti menangis dan tertidur. Perempuan itu tidak mengetahui bahwa yang datang adalah Khalifah Umar bin Khattab. Ia menuturkan tidak pernah mendapat bantuan pemerintah dan menuding Khalifah Umar tidak peduli dengan masyarakat miskin seperti dirinya.

Khalifah Umar tidak marah, ia pun pamit meninggalkan gubuk itu menjemput makanan ke Baitul Maal, dan dipikulnya sendiri ke gubuk perempuan tadi. Tawaran orang lain yang mau membantu memikul makanan itu ditampiknya, karena menurutnya pekerjaan itu adalah kewajiban dirinya sendiri.

Kisah Umar bin Khattab di atas meninggalkan keteladanan tentang kepedulian penguasa dalam menanggulangi kelaparan yang diderita rakyatnya.Umar merasa berkewajiban langsung secara pribadi terhadap kasus kelaparan yang diderita umatnya.

Pemimpin Yang Shalih

            Setiap kita, lazimnya menginginkan pemimpin yang dapat mengerti segala hal yang kita butuhkan. Ada banyak kriteria pemimpin yang kita rindukan. Namun sesungguhnya, ada satu hal yang mewakili semua kerinduan kita itu: pemimpin yang shalih. Bisa jadi, ini musykil. Tapi di sanalah kita menambatkan akhir dan puncak kerinduan ini. Sebab, di tangan para pemimpin, banyak ditentukan arah dan tujuan rakyat secara umum. Pemimpin yang cabul akan mendidik rakyatnya dengan hal-hal yang cabul. Pemimpin yang zalim akan menyebabkan rakyatnya juga berperilaku zalim. Sebaliknya pemimpin yang baik, sopan, menjaga kepantasan diri, akan mendidik dengan rakyatnya dengan perilaku terpuji tersebut.

            Pemimpin yang shalih sama artinya memaknai orientasi akhirat dalam kepemimpinannya. Keimanan seorang pemimpin akan membuatnya berhitung, apakah perbuatannya akan berujung pada dosa dan murka Allah atau bisa mendekatkan diri padanya. Kalkulasi untung rugi di akhirat yang menjadi timbangannya. Tidak banyak yang dapat kita awasi dari diri seorang pemimpin saat berkuasa, saat ia bisa jadi nanti akan banyak berlindung atas nama hukum, tata aturan, dan kewenangannya berkuasa. Keshalihannyalah yang akan membuatnya merasa diawasi oleh Allah.

Keimanan akan membuatnya takut untuk berbuat aniaya kepada rakyatnya. Seperti saat ia mengingat pesan Rasulullah tentang kekuasaan. “Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan, dan kemiskinannya pada hari kiamat.” (HR Muslim).  Atau ketika ia mengingat hadits dari Abul Ya’la, “Seorang hamba yang diberi kepercayaan memimpin rakyatnya, dan ia mati dalam keadaan menipu rakyat, pasti Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Mutafaqun Alaih).

Shalih Itu Berarti Adil

Buah keshalihan itu keadilan. Seorang Mukmin tidak mungkin membeda-bedakan perlakuan sesuai dengan seleranya. Ia pasti memperhatikan aturan Islam tentang keadilan, seperti disampaikan oleh Iyadh bin Himar, bahwa Rasulullah mengatakan penghuni surga itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu: penguasa yang adil lagi disenangi, orang yang mengasihi lagi lembut hati kepada sanak keluarga dan setiap muslim, serta orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya sedang ia mempunyai keluarga.” (HR Muslim). Juga firman Allah, ”Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al Maidah: 8).

Maka, dalam sejarah kita menemukan bukti cemerlang tentang keadilan Islam ini. Sewaktu, kaum Muslimin menduduki wilayah Rumawi, rakyat Rumawi yang beragama Nasrani turut membantu tentara Muslimin dan merasa senang negerinya dipimpin orang Islam. Keadilan kaum Muslimin membuat mereka tertarik dan membuat mereka menjauhi pemerintahan Rumawi yang notabene beragama Nasrani. Pemimpin shalih memaknai dengan benar pujian Rasulullah kepada pemimpin yang adil ”Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah laksana berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka itu adalah orang-orang yang berlaku adil dalam memberikan hukum kepada keluarga dan rakyat yang mereka kuasai.” (HR Muslim).

Keshalihan Itu Menenteramkan Semua Makhluk

Keshalihan seseorang pemimpin akan melahirkan kententraman dan rasa aman. Ini adalah berkah yang diturunkan Allah, yang mungkin tidak kita akan sangka datangnya. Bukan hanya pada rakyat yang dipimpinnya, tapi juga pada makhluk Allah yang lain. Seperti kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang terkenal keshalihannya.

            Malik bin Dinar mengisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing di puncak perbukitan berkata, ”Siapakah khalifah yang shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” Padahal para penggembala itu tidak tahu menahu apa yang terjadi di kota, termasuk diangkatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para penggembala itu menjelaskan, ”Bila pemerintahan dipegang oleh seorang pemimpin yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.” (Tarikh Khulafa’).

            Riwayat lain yang menguatkan kisah tersebut adalah apa yang dituturkan oleh Hassan Al Qashar. ”Aku bekerja sebagai pemerah susu kambing pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu ketika, aku melewati para penggembala, sedang ditengah-tengah gerombolan kambingnya terdapat sekitar tiga puluh serigala. Karena sebelumnya aku belum pernah melihat serigala, aku mengira serigala itu adalah anjing. Akupun bertanya kepada para penggembala itu, ’Wahai para penggembala, untuk apakah anjing sebanyak itu?’ Mereka menjawab, ’Wahai anak muda, ini bukan kawanan anjing, tetapi kawanan serigala.’ Aku berkata heran, ’Subhanallah, apakah mereka tidak membahayakan kambing-kambing engkau?’ Penggembala itu menjawab, ’Wahai anak muda, apabila kepala sudah sehat, maka badan tidak akan rusak.’” Maksud dari kepala itu adalah kepala pemerintahan, yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
           
Khatimah

Kepemimpinan punya makna penting dalam Islam. Bila ’hanya’ menyingkirkan batu di jalan (yang punya manfaat kecil) disebut sebagai salah satu cabang keimanan, apalagi tentang penguasa yang banyak berhubungan dengan kebutuhan rakyat. Maka, saat ini, ketika kita mempunyai kesempatan untuk memilih pemimpin, selayaknya kita turut serta didalamnya, semata-mata untuk mengharap agar dicatat Allah sebagai amal kebajikan. Tentu saja, dengan mendasari pilihan kita pada keshalihan pemimpin tersebut.


Mewujudkan Kerinduan Itu

Kita tidak pernah berpikiran menjadi seperti  ”pungguk merindukan bulan.” Hanya merindukan, bermimpi, berharap dan sejenisnya, lalu diam tanpa upaya atau justeru diam menyalahkan keadaan. Kerinduan harus dimaknai sebagai keadaan yang melecut sikap untuk mewujudkan yang lebih baik. Tak ada gunanya, sebatas merindukan kepemimpinan yang shalih dan adil. Rasulullah saw. mencela orang yang menggunakan kata ’sendainya,’ ’jika,’ sekiranya,’ atau kata sejenis yang bermakna pengandaian (khayalan). Senang menerawang dan terbang di awang-awang. Ini akan membuka pintu syaitan dan menjadi ciri orang yang pesimis dan tidak mau beramal.

              Maka pada langkah pertama, harus ada niat dan keinginan yang tulus untuk mewujudkannya. Niat dan keinginan yang baik merupakan bagian penting dalam rangka mewujudkan kerinduan itu. Maka, Islam sangat menghargai kedudukan niat dan keinginan tulus seperti itu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., ”Barang siapa  yang mati dan ia belum berjuang (jihad) di jalan Allah, dan belum terbetik di hatinya untuk berjihad, maka ia mati dalam bagian dari kemunafikan.” (HR Muslim).

            Hadits ini, menempatkan pentingnya keinginan, harapan, kerinduan akan akan amal shalih pada posisi yang penting, walau pada akhirnya harapan itu tidak terwujud. Merindukan kebaikan adalah bahan bakar yang akan menyemangati setiap orang mewujudkan kebaikan itu sendiri. Jika bahan bakar itu habis, kita pasti enggan untuk bergerak apalagi berusaha.

            Bila niatan itu sudah kita punyai, dalam konteks sekecil apapun, berusahalah. Sikap paling mudah saat menghadapi situasi buruk adalah mencari pihak lain yang kita anggap biang kerok permasalahan tersebut. Atau mengutuk keadaan sembari ”cuci tangan” dari keterlibatan diri kita terhadap munculnya keadaan tersebut. Sikap ini jelas tidak sejalan dengan Islam. Islam menekankan kita agar melakukan instrospeksi dan mendorong melakukan kebaikan, sekecil apapun. ”Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu” (QS Al Anfal : 25). Kita bisa jadi tidak melakukan kerusakan, tapi berdiam dirinya kita sama artinya mendukung kezaliman yang kemudian akan mendatangkan siksaan Allah.

            Kita selayaknya pantang berdiam diri, bila mendamba pemimpin yang shalih. Berbuat sekecil apapun, dan dalam lingkup sekecil apapun, akan sangat bermanfaat. Bayangkan, betapa Rasulullah saw begitu meninggikan kepedulian ”sekadar” menyingkirkan duri dari jalan, yang  dalam hadits itu merupakan salah satu tangga keimanan. Bayangkanlah, betapa Rasulullah sangat menghargai ”hanya” seulas senyum  sebagai bagian sedekah seorang mukmin kepada saudaranya yang lain. Maka, berusaha dan mulailah kebaikan dari sesuatu yang bisa jadi kita anggap remeh atau perkara kecil.

            Saat kita sudah kita berusaha sekecil apapun, sesekali jangan berkontribusi (memberi sumbangsih) dalam memilih pemimpin yang rusak. Bila kita merasa tidak ada kepemimpinan seperti yang diharapkan, sama sekali bukan alasan bagi sikap apriori (buruk sangka), lalu secara sadar atau tidak memberi kontribusi untuk mendatangkan pemimpin yang rusak. Rasulullah menegaskan kepada kita agar tidak menjadi orang berkarakter imma’ah, yaitu berbuat baik ketika berada bersama orang-orang yang baik, sebaliknya berbuat buruk manakala bersama orang yang jauh dari kebaikan.

            Kondisi yang banyak memunculkan kekecewaan sering membuat orang menjadi apatis dan tidak mau peduli dengan keadaan. Padahal sikap itu adalah awal langkah yang akan semakin memperburuk keadaan. Kondisi yang mengecewakan juga kerap memunculkan sikap bias dan gamang. Maka, kita harus berani menunjukkan dengan jelas siapa kita dann identitas kita. Kepada siapa kita menyerahkan loyalitas? Apakah kita pribadi merdeka atau pengikut orang lain? Umar bin Khattab sejak lama telah menegaskan bahwa kemuliaan itu terletak pada keislaman kita.”Kita sebelum ini adalah serendah-rendahnya kaum, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka jika kita menginginkan kehormatan dan kemuliaan dari selain Islam, Allah pasti akan menghinakan kita lagi. Begitulah Umar ra.

            Jadi, kerinduan kita kepada pemimpin yang shalih sangat tergantung pada kondisi masing-masing pribadi kita untuk mewujudkannya. Ia bukan kiriman dari langit yang muncul begitu saja. Ia ada karena kita usahakan secara bersama-sama. Pemimpin yang kita damba adalah gabungan antara tadbir rabbani (perencanaan Allah) di satu sisi dan proses muktasab (perolehan melalui proses usaha) di sisi yang lain. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan] yang ada pada diri mereka sendiri. (QS Ar Ra’d: 11).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuliskan Komentar, Kritik dan Saran SAHABAT Disini .... !!!