La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim - Semoga Jalan Kami Jalan Fisabilillah - (Insya Allah)
Cari Berkah
Tampilkan postingan dengan label Motivations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivations. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Desember 2024
Kamis, 19 Desember 2024
Minggu, 15 Desember 2024
Minggu, 08 Desember 2024
Sabtu, 07 Desember 2024
Selasa, 23 Oktober 2018
Kisah Inspirasi - Inilah Cinta Suamiku...
Percakapan ringan sepasang suami istri...
Seorang suami bertanya pada istrinya : "Sudah sholat ashar ?
"belum, jawab istrinya pendek.
Suami bertanya lagi : "kok belum sholat ?"
ketus istrinya menjawab : "aku baru saja pulang, capek sekali dan aku ketiduran tadi"...
suaminya menimpali : "baiklah... bangun dan sholatlah ashar dan maghrib sekaligus, sebentar lagi sudah mau masuk waktu isya".
Pada keesokan harinya suami pergi untuk tugas ke luar kota... seperti biasa seharusnya si suami menelpon istrinya bila telah tiba dengan selamat di tempat kerjanya. Si istri menunggu berjam-jam telepon dari suaminya namun si suami tak juga menghubunginya... pemberitahuan dengan SMS singkat pun tidak ada... si istripun mulai cemas, ini bukan kebiasaan suaminya... ia berpraduga macam-macam dan amat khawatir dengan keselamatan sang suami... berkali-kali ia mencoba menghubungi HP suaminya... terhubung tapi tidak diangkat.
Setelah beberapa jam akhirnya si suami mengangkat HP nya... terbata-bata si istri bertanya : "suamiku apakah engkau telah tiba dengan selamat ?"...
"Ya, alhamdulillah ''jawab suami pendek...
"kapan sampainya ? "si istri bertanya lagi...
cuek si suami menjawab : "saya sampai kira-kira 4 jam yang lalu"...
dengan nada marah si istri berkata lagi : "4 jam yang lalu dan tidak menghubungi aku ??"...
masih dengan nada malas si suami menjawab : "aku merasa capek sekali dan aku ketiduran sebentar"...
si istri menimpali : "berapa menit sih kalau harus menelponku ??? cuma sebentar masa nggak bisa ??? apa nggak kedengaran bunyi HP mu waktu tadi aku menghubungi berkali-kali ??"...
"ya ... aku dengar "jawab suami...
dengan suara sedih si istri berkata : " kok gitu sih, apa sudah nggak sayang padaku lagi ??"...
si suami menimpali : "aku amat sayang padamu... tapi kemarin mengapa engkau tidak menyahuti seruan adzan ashar dan bersegera sholat, bukankah sholat itu hanya sebentar, bagaimana nanti aku bila ditanya ALLAH tentang perbuatanmu itu... apakah engkau sudah tidak sayang padaku ?"...
di ujung HP sambil terisak si istri berkata : "engkau benar suamiku... aku mohon maaf... aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi"...
sejak saat itu si istri tidak pernah lagi mengakhirkan sholat bila telah tiba waktunya...
Selasa, 12 Desember 2017
Ketika Seorang Penggosip Berada Dalam Sebuah Majelis
Sebuah kisah dalam suatu masjid, telah berlangsung sebuah kajian oleh seorang ustadz yang biasa mengisi pengajian disitu. Dalam majelis ini terdapat jamaah bapak-bapak dibagian depan shaf bergabung dengan jamaah pemuda-pemudanya. Dibagian belakang shaf, dengan dibatasi tirai kain sebagai penghalang, berkumpul jamaah ibu-ibu dan gadis-gadis yang ikut serta mengikuti pengajian rutin tersebut.
Dalam Jamaah ibu-ibu, ikut serta seorang ustadzah yang biasa mengisi kajian jika diadakan majelis khusus untuk ibu-ibu. Ustadzah itu duduk disebelah seorang wanita yang baru pertama kali ikut pengajian seperti ini. Karena dia tahu disebelahnya adalah seorang ustadzah, lalu dia berbincang dengan ustadzah tersebut :
"Ustadzah, saya tidak mau ikut pengajian ini lagi" kata wanita tersebut.
"Apa alasannya?", tanya ustadzah.
"Saya lihat di pengajian ini perempuannya suka bergosip, laki-lakinya munafik, pengurusnya cara hidupnya tidak benar, jama'ahnya sibuk dengan hpnya masing-masing, dsb..."
Mendengar penuturan ini, ustadzah menghela nafas dan diam beberapa saat. Lalu dia berkata :
"Baiklah... Tapi sebelum engkau pergi, tolong lakukan sesuatu untukku. Ambil segelas penuh air dan berjalanlah mengelilingi dalam masjid ini tanpa menumpahkan setetes air sekalipun ke lantai. Setelah itu engkau bisa meninggalkan masjid ini seperti keinginanmu."
"Itu mudah sekali!" jawab si wanita.
Lalu diapun melakukan apa yang dimintakan ustadzah, sementara pengajian sedang berlangsung.
Jumat, 24 Oktober 2014
Keutamaan Mempunyai Anak Perempuan
“Punya Dua Anak Wanita, Bisa
Bertetangga Di Surga Dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam”
Untuk bisa bertetangga dengan beliau
disurga tidak mudah, bertetangga di Surga tentu berarti masuk Surga yang
tertinggi dan derajat tertinggi dengan beliau di Surga. ini perlu amalan yang
agak banyak dan ikhlas.
contohnya kisah sahabat yang ingin
bertetangga dengan beliau di surga, tetapi beliau berkata agar sahabat
memperbanyak amalannya.
berikut haditsnya.
Dari Robi’ah bin Ka’ab Al Aslami
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كُنْتُ أَبِيتُ
مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ -صلى
الله عليه
وسلم- فَأَتَيْتُهُ
بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ
فَقَالَ لِى
« سَلْ ». فَقُلْتُ
أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ
فِى الْجَنَّةِ.
قَالَ « أَوَغَيْرَ
ذَلِكَ ». قُلْتُ
هُوَ ذَاكَ.
قَالَ « فَأَعِنِّى
عَلَى نَفْسِكَ
بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
»
“Aku pernah bermalam bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendatangi beliau dengan
membawakan air wudhu dan memenuhi hajat beliau. Lantas beliau bersabda,
“Mintalah.” Aku berkata, “Aku meminta padamu supaya dapat dekat denganmu di Surga
(kelak).” Beliau berkata, “Atau ada selain itu?” Aku menjawab, “Itu saja yang
aku minta.” Beliau bersabda,
“Tolonglah aku dengan engkau
memperbanyak sujud.”
(HR. Muslim no. 489).
nah bagi yang sudah punya dua anak
wanita, maka kita didik dengan baik, perhatikan dengan benar, karena mendidik
anak wanita untuk berhasil dalam agama menurut penjelasan ulama lebih sulit
dari mendidik anak laki-laki, karena sifat dasar wanita yang mudah terpengaruh
dan silau dengan gemerlap dunia serta “kebengkokan” mereka, pahalanya bisa
bertetangga dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَنْ عَالَ
جَارِيَتَيْنِ حَتَّى
تَبْلُغَا جَاءَ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَنَا وَهُوَ
وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak
perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas
bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim
2631)
Tokoh Tenaga Medis Di Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Jika
kita menilik kembali sejarah, maka kita bisa menemukan beberapa Sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang memiliki andil dalam dunia
kesehatan. Walaupun di saat itu belum ada yang benar-benar fokus menjadi dokter
atau bidan, kemudian membuka praktek khusus dengan plang nama di rumah mereka.
Berikut beberapa dari mereka yang memiliki andil dalam dunia kesehatan.
1. ’Aisyah binti Abu
Bakar radhiallahu ‘anha
‘Aisyah
adalah sosok wanita yang cerdas. Kecerdasan beliau diakui oleh banyak para
sahabat dan murid-murid beliau.
Az-Zuhri
Berkata :
“Apabila
ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah
lebih utama.” (Siyar A’lam An-Nubala’
2/185)
Atha’
berkata :
“Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan
pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk
umum.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 2/185)
Kecerdasan
‘Aisyah radhiallahu ‘anha tercermin dari pintarnya ia juga dalam ilmu
kedokteran yang membuat orang lain kagum, ia hanya sekedar mendengar dan
menyaksikan tanpa ada yang mengajarkan secara langsung.
Hisyam
bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata :
“Sungguh
aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang
lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir,
yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu
dan ilmu qhadi dan ilmu kedokteran, maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai
bibi, kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab,
“Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari
orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.” ( Hilyatul
Auliya’ 2/49)
Suatu
saat Hisyam bin Urwah berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha :
“Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak
heran/takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah Istri Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran/takjub
engkau pintar ilmu Sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena engkau adalah anak
Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan
sejarah Arab). Akan tetapi saya heran/takjub engkau pintar ilmu kedokteran,
bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya?
Rabu, 17 September 2014
Kisah Kedermawan Lima Sahabat Rasulullah
“Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya
dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki)
dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245).
1. Abu Darda r.a.
Suatu
ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa
sallam membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a.
berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada
kita?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa
sallam menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah,
apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang
berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”
“Wahai
Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba.
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam
balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun
dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu
akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus
lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.
Abu
Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi
ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu.
Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.
“Wahai
Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita
telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.
Istrinya
paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik
langsung oleh Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma
yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah
menjadi milik Allah subhana wa ta’ala.
Ladang ini sudah menjadi milik Allah subhana
wa ta’ala.,” ujarnya kepada sang anak.
Selasa, 01 Juli 2014
Tauhid Murni, Mencintai Dan Meneladani Ahlul Bait Rasulullah SAW
Suatu
hari, Rasulullah SAW bersabda kepada sekumpulan orang, “Barangsiapa berjumpa
dengan Allah, dengan ikhlas mengakui keesaan-Nya, dan kesaksiannya atas keesaan
Allah itu tidak dicampuri dengan yang lain, pasti akan masuk surga.”
Sayyidina
Ali berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah! Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.
Bagaimanakah mengucapkan kalimat ‘tiada Tuhan selain Allah (la ilaha illallah)’
secara murni? Dan bersaksi atas keesaan Allah tanpa dicampuri sesuatupun?
Jelaskanlah kepada kami, agar kami mengetahuinya.”
Rasulullah
SAW bersabda, “Benar, jika hatinya terikat dengan dunia, manusia memperolehnya
(dunia) dengan jalan yang tidak dibenarkan syariat. Pembicaraan mereka adalah
pembicaraan orang-orang yang luhur, namun perbuatan dan perilaku mereka, seperti
perilaku orang-orang zalim, dan bila seorang yang bersaksi atas keesaan Allah
(dengan mengucapkan la ilaha illallah) sementara berbagai perkara tersebut –
terikat dengan dunia, memperoleh dunia dengan cara melanggar syariat,
berperilaku sebagaimana perilaku
orang-orang zalim – tak ada pada dirinya, maka ia layak mendapatkan surga.”
Nilai
Mencintai Dan Meneladani Ahlul Bait Rasulullah Saw
Muyassir
bin Abdul Aziz (seorang pecinta setia Ahlul Bait yang tulus dan murni)
mengatakan bahwa dirinya menemui Imam Ja’far al-Shadiq seraya berkata, “Di
sekitar rumah saya, ada seorang lelaki yang karena mendengar suaranya, saya
terbangun di malam buta untuk menunaikan shalat malam, terkadang ia membaca
Al-Quran dan mengulang-ulang bacaan ayat-ayat Al-Quran sambil menangis, dan
adakalanya memanjatkan doa diringi rintihan. Saya ingin sekali mengetahui
keadaannya. Orang-orang mengatakan bahwa ia sama sekali tidak melakukan dosa
apapun (alhasil saya memiliki seorang tetangga yang amat bertakwa).” Imam ja’far Shadiq bertanya, “Apakah ia juga
menerima apa yang engkau yakini (mencintai Ahlul Bait)?” Muyassir menjawab, “Saya
tidak menyelidikinya, Allah yang tahu.”
Jumat, 27 Juni 2014
Umat Islam Bagai Buih Di Lautan
Diriwayatkan
dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda: “akan terjadi, bersatunya
bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu
makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu
sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih
dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah
menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi
:“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada
dunia dan takut mati!”. (Silsilah hadist shahih no.958).
Seorang
guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia
duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya
ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya ada satu permainan... Caranya begini,
ditangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat
kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini,
maka katalah "Pemadam!"
Murid
muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru berganti-gantian mengangkat antara
kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian
guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur,
maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam, maka katakanlah
"Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid-murid tadi
keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka
sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Sang
guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Murid-murid, begitulah kita umat
Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas
membedakannya. Namun kemudian, musuh musuh kita memaksakan kepada kita dengan berbagai
cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana
terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat
laun kamu akan terbiasa dengan hal itu. Dan anda mulai dapat mengikutinya.
Musuh-musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.
Sabtu, 07 Juni 2014
Khalid Bin Walid, Si Pedang Allah
Pribadi yang
mengaku tidak tahu dimana dan dari mana kehidupannya bermula, kecuali di suatu
hari dimana ia berjabat tangan dengan Rasulullah saw, berikrar dan bersumpah
setia…. saat itulah dia merasa dilahirkan kembali sebagai manusia “Dialah orang
yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan orang lain tidur.”
Suatu saat
Khalid bin Walid pernah menceritakan perjalanannya dari Mekah menuju Madinah
kepada Rasulullah:
“Aku
menginginkan seorang teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah;
kuceritakan kepadanya apa maksudku, ia pun segera menyetujuinya. Kami keluar
dari kota Mekah sekitar dini hari, di luar kota kami berjumpa dengan Amr bin
Ash.
Maka
berangkatlah kami bertiga menuju kota Madinah, sehingga kami sampai di kota itu
di awal hari bulan Safar tahun yang ke delapan Hijriyah. Setelah dekat dengan
Rasulullah saw kami memberi salam kenabiannya, Nabi pun membalas salamku dengan
muka yang cerah. Sejak itulah aku masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang
haq…”
Rasulullah
bersabda, “Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat, dan
aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntun anda kejalan yang baik…” Oleh
karena itulah, aku berjanji setia dan bai’at kepada beliau, lalu aku Mohon
“Mohon Rasulullah mintakan ampun untukku terhadap semua tindakan masa laluku
yang menghalangi jalan Allah…”
Dalam perang
Muktah, ada tiga orang Syuhada Pahlawan, mereka adalah Zaid bin Haritsah,
Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, mereka bertiga adalah Syuhada
Pahlawan si Pedang Allah di Tanah Syria. Untuk keperluan perang Muktah ini,
pasukan musuh, Pasukan Romawi mengerahkan sekitar 200.000 prajurit.
Dalam hal
ini Rasulullah bersabda, “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah, ia
bertempur bersama panjinya sampai ia tewas. Kemudian panji tersebut diambil
alih oleh Ja’far, yang juga bertempur bersama panjinya sampai ia gugur sebagai
syahid. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil
bertempur maju, hingga ia juga gugur sebagai Syahid.”
“Kemudian
panji itu diambil alih oleh suatu Pedang dari pedang Allah, lalu Allah
membukakan kemenangan di tangannya.”
Sesudah
Panglima yang ketiga gugur menemui syahidnya, dengan cepat Tsabit bin Arqam
menuju bendera perang tersebut, lalu membawanya dengan tangan kanannya dan
mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka
tidak kacau balau, dan semangat pasukan tetap tinggi…
Selasa, 27 Mei 2014
Secuil Kisah Keadilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Kisah-kisah
para pendahulu kita dari kalangan shohabat maupun thabi’in memang penuh dengan hikmah-hikmah yang
mengagumkan. Tiap kali selesai membaca satu kisah maka hati akan tergerak
menuju kisah lain di lembar berikutnya. Kini, kami suguhkan satu kisah menarik
yang dituliskan Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya dalam kitabnya Shuwar Min
Hayati At-Thabi’in. Ath-Tabari telah mengisahkan kepada kita dari Thufail bin
Mirdas:
Ketika
Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khilafah beliau menulis
surat untuk Sulaiman bin Abi As-Sari, gubernur beliau di Shugdi yang isinya:
“Buatlah
di negerimu pondok-pondok untuk menjamu kaum muslimin. Jika salah seorang di
antara mereka lewat, maka jamulah ia sehari semalam, perbaguslah keadaannya dan
rawatlah kendaraannya. Jika dia mengeluhkan kesusahan, maka perintahkan
pegawaimu untuk menjamunya selama dua hari dan bantulah ia keluar dari
kesusahannya. Jika ia tersesat jalan, tidak ada penolong baginya dan tidak ada
kendaraannya yang bisa dia tunggangi, maka berikanlah kepadanya sesuatu yang
menjadi kebutuhannya hingga ia bisa kembali ke negerinya.”
Maka
sang gubernur segera mewujudkan perintah Amirul Mukminin. Dia membangun
pondok-pondok sebagaimana yang diperintahkan Amirul Mukminin untuk disediakan
bagi kaum muslimin. Lalu tersebarlah berita tersebut ke segala penjuru.
Orang-orang dari belahan bumi Islam di barat dan timur ramai membicarakannya
dan menyebut-nyebut keadilan Khalifah serta ketakwaannya.
Mendengar
hal itu penduduk Samarkand tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, hingga
mereka mendatangi gubernur mereka Sulaiman bin As-Sari dan berkata,
“Sesungguhnya
pendahulu anda yang bernama Qutaibah bin Muslim Al-Bahili (Panglima Mujahidin)
telah merampas negeri kami tanpa memberikan peringatan (dakwah) terlebih
dahulu, dia tidak sebagaimana yang kalian lakukan wahai kaum muslimin yakni
memberikan peluang sebelum memerangi. Yang kami tahu, kalian menyeru
musuh-musuh agar mau masuk Islam terlebih dahulu. Jika mereka menolak kalian
menyuruh mereka untuk membayar jiyzah. Jika mereka menolaknya barulah kalian
mengumumkan perang.
Sesungguhnya
kami melihat keadilan Khilafah anda dan ketakwaannya sehingga kami berhasrat
untuk mengadukan kepada kalian atas apa yang telah dilakukan salah seorang
panglima perang kalian terhadap kami. Maka izinkanlah, wahai Amir, agar salah
satu dari kami melaporkan hal itu kepada Khalifah anda dan untuk mengadukan
kezaliman yang telah kami rasakan. Jika kami memang memiliki hak untuk itu,
maka berikanlah untuk kami, namun jika tidak, kami akan pulang kembali ke asal
kami.”
Kamis, 27 Maret 2014
Uang Jajan Untuk Pengemis
Seorang ayah ingin mengajarkan
kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang
jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek).
Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.
Pada minggu pagi mereka berdua
hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa
sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp
10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya.
Ditengah keasikan sang ayah dan
anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan
kedatangan seorang kakek pengemis yang telah tua renta sambil memelas.
Tak tega melihat sang kakek tua
memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,-
dari saku celana dan diberikan seluruhnya.
Kontan saja kakek pengemis ini
terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak
terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.
Setelah si kakek tua berlalu, kemudian
sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua
uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah.. kalau kakek tua itu ikhlas
menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab
anaknya dengan wajah tersenyum..
“DEG!!!” Hati sang ayah langsung
tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk
seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan Ibu!
Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia
ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah
dan Ibu akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah
mengujinya.
Rabu, 29 Mei 2013
Pelajaran Dari Sebuah Jam
Seorang
pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, sanggupkah kamu
berdetak 31.104.000 kali selama setahun?” “Ha?! Sebanyak itukah?!” kata jam
terperanjat, “Aku tidak akan sanggup!”
“Ya
sudah, bagaimana kalau 86.400 kali saja dalam sehari?”
“Delapan
puluh enam ribu empat ratus kali?! Dengan jarum yang ramping seperti ini?!
Tidak, sepertinya aku tidak sanggup,” jawab jam penuh keraguan.
“Dalam
satu jam berdetak 3.600 kali? Tampaknya masih terlalu banyak bagiku.” Jam
bertambah ragu dengan kemampuannya.
Dengan
penuh kesabaran, tukang jam itu kembali berkata, “Baiklah kalau begitu, sebagai
penawaran terakhir, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”
“Jika
berdetak satu kali setiap detik, aku pasti sanggup!” Kata jam dengan penuh
antusias. Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap
detik.
Tanpa
terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena
ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu
berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali dalam setahun, yang juga
setara dengan berdetak 86.400 kali dalam sehari, yang setara pula dengan
berdetak 3.600 kali dalam satu jam.
Pesan
Dari Kisah Tersebut:
Kita
sering meragukan dan underestimated terhadap kemampuan diri sendiri
untuk mencapai goal, pekerjaan, dan cita-cita yang tampak sangat besar.
Kita lantas menggangapnya sebagai hal sangat berat yang tidak mungkin dapat
kita angkat. Namun sebenarnya apabila hal yang dianggap besar tersebut kita
perkecil dan perkecil lagi, lantas kemudian kita realisasikan hal-hal kecil
tersebut secara konsisten serta kontinu, niscaya hal besar yang semula kita
anggap tidak mungkin tercapai itu akan terealisasikan.
Intinya,
hal besar akan tercapai dengan konsistensi dan kontinuitas, atau dengan istilah
lain yang sering digunakan masyarakat: istiqamah! Tentu melekatkan konsistensi
dan kontinuitas kepada diri sendiri itu bukan hal yang mudah, karena akan
menimbulkan kelelahan yang sangat.
Kamis, 16 Mei 2013
Ibu Sekuat Seribu Laki-Laki
Disebuah
masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang
mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur'an. Mereka duduk melingkar &
berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yg ingin bergabung dilingkaran
mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di satu kelompok,
sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yg lembut, ia bertanya pada
anak yg baru masuk tadi, " adakah surat yg kamu hafal dalam
Al-Qur'an?" "Ya," jawab anak itu singkat.
" Kalau
begitu, coba hafalkan salah satu surat dari juz 'Amma?' pinta sang guru. Anak
itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih & benar. Merasa anak tersebut
punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, "Apakah kamu hafal surat
Tabaraka?" (Al-Mulk) "Ya", jawabnya lagi, & segera
membacanya. Baik & lancar. Guru itu pun kagum dengan kemampuan hapalan si
anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.
Dia pun coba
bertanya lebih jauh, "kamu hapal surat An-Nahl?" Ternyata anak itu
pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehinggal kekagumannya semakin
bertambah. Lalu ia pun coba mengujinya dgn surat-surat yg lebih panjang.
"Apakah kamu hapal surat Al-Baqarah?" anak itu kembali mengiyakan dan
langsung membacanya tanpa sedikitpun kesalahan. dan rasa ingin menutup
penasaran itu dgn pertanyaan terakhir, "Anakku, apakah kamu hapal
Al-Qur'an ?" "Ya," tutur polosnya. Mendengar jawaban itu,
seketika ia mengucapkan, "Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah"
Selasa, 07 Mei 2013
Kisah Balasan Dari Sesuap Nasi
Allah SWT memiliki
sifat Ar-Rahman, yang artinya Dzat Yang Maha Pengasih.
Kasih sayang dan
RahmatNya meliputi seluruh hamba-hambaNya tanpa terkecuali, baik di dunia
maupun di akhirat.
Allah SWT akan
senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita, juga mengasihi seluruh
makhluk ciptaanNya, tanpa kecuali.
Berikut ini ada kisah
yang bisa membuktikan bahwa Allah SWT Maha Pengasih.
Alkisah, pada jaman
dahulu ada seorang fakir yang datang meminta-minta kepada seorang perempuan
yang kebetulan sedang menyuap nasi. Maka diberikanlah sesuap makanan itu kepada
si fakir.
Selang lama waktunya,
akhirnya perempuan itu dikarunia seorang anak. Dan saat anak sudah mulai bisa
merangkak, tiba-tiba saja bayinya dibawa lari oleh seekor macan, sehingga
membuat perempuan itu sedih.
Lalu dikejarlah macam
tersebut, berlari, berjalan bergantian tanpa kenal capek seraya
memanggil-manggil anaknya "Anakku...anakku..."
Kemudian Allah SWT
mengutus seorang malaikat, meskipun sebenarnya semua itu adalah atas Kehendak
dan PengawasanNya, untuk mengejar macan itu serta mengambil bocah dari
genggaman macan tersebut.
Malaikat kemudian
menyerahkan bocah tersebut kepada ibunya serta berkata, "Allah SWT kirim
salam untukmu. Dia berfirman: "Inilah sesuap dibalas dengan sesuap."
Selasa, 23 April 2013
Lunas, Dengan Segelas Susu
Suatu hari, anak
seorang lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu
menemukan bahwa kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat
lapar.
Anak lelaki
tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi,
anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah.
Anak itu tidak jadi meminta makanan, dia hanya berani meminta segelas air.
Wanita muda
tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar. Oleh
karena itu, dia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya
dengan lambat.
Kemudian, dia
bertanya, “ Berapa aku harus membayar untuk segelas besar susu ini?” Wanita itu
menjawab, “Kamu tidak perlu bayar apa pun. Ibu kami mengajarkan tidak menerima
bayaran untuk kebaikan,” kata wanita itu menambahkan.
Kemudian, anak
lelaki itu menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku, aku sangat
berterima kasih kepada Anda.”
Sekian tahun
kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter
di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya.
Akhirnya, mereka
mengirimnya ke kota besar tempat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit
langkanya tersebut.
Dr. Howard Kelly
dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Saat dia mendengar kota asal si wanita
tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Kelly. Dia segera
bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit menuju kamar si wanita
tersebut.
Dengan berpakaian
jubah kedokteran, dia menemui si wanita itu. Dia langsung mengenali wanita itu
pada sekali pandang. Kemudian, dia kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan
untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari
itu, dia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita tersebut.
Jumat, 15 Maret 2013
Jangan Menyerah dan Putus Asa Ditengah Badai
Pada suatu hari, seperti biasa kami bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan
aku yg mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang
bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai
menepi & berhenti.
“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, aku bertanya.
“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.
Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup
makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg
diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan
besar juga mulai menepi & berhenti.
“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayahsambil terus melihat ke depan.
Aku tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi
pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Anginpun mengguncang-guncangkan
mobil kecilku.Aku mulai takut. Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat
perlahan.
Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai
mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah
kami pada daerah yg kering & kami melihat matahari bersinar muncul dari
balik awan.
“Silakan kalau mau berhenti & keluarlah”, kata Ayah tiba².
“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.
“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah
badai”.
Aku berhenti & keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih
berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana & berdoa, semoga
mereka selamat.
Langganan:
Postingan (Atom)