Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Januari 2026

Ashabul Kahfi, 7 Pemuda yang Tertidur Selama 309 Tahun

Negeri Afasus yang dipimpin oleh Raja yang sangat kejam, ia bernama Raja Daqyanus. Selain keji dan kejam, ia juga penyembah berhala. Kejadian ini diperkiraan terjadi pada masa kaisar Romawi, dengan rentang waktu 249-251 M. Ashabul Kahfi mengisahkan tentang 7 pemuda dan seekor anjing yang tertidur selama ratusan tahun atas izin Allah karena menghindar dari kekejaman Raja Daqyanus.

Tujuh pemuda yang hidup di negeri Afasus, negeri yang mayoritas masyarakatnya adalah penyembah berhala dan sangat patuh kepada Rajanya, sedangakan tujuh pemuda tersebut adalah orang-orang saleh yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah Raja Daqyanus mengetahui ada sekelompok pemuda yang tidak menyembah berhala, ia tidak tinggal diam. Ia memerintah mereka agar menyembah berhala. Akan tetapi pemuda-pemuda tersebut menolak dan hal itu membuat Raja sangat marah. Sang Raja kemudian memerintahkan orang untuk menangkap dan membunuh kelompok pemuda tersebut. Namun, para pemuda tersebut lolos dari kejaran itu karena bersembunyi di sebuah gua.

“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Q.S Al-Kahfi: 10).

Pemuda-pemuda itu memohon pertolongan dan meminta petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Kemudian Allah membuat mereka semua tertidur dan tidak mendengar apa-apa selama bertahun-tahun,

“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun.” (Q.S Al-Kahfi: 11).

Allah memberikan petunjuk kepada mereka karena mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhannya. Mereka itu adalah kaum-kaum yang tidak menjadikan tuhan-tuhan lain untuk disembah. Setelah keadaan sudah sangat membaik, Allah Subhanahu wa Ta’ala. membangunkan mereka kembali. Kemudian di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada di sini?” Mereka menjawab, “Kita berada di sini sehari atau setengah hari.” Dan berkata yang lain lagi, “Tuhan kita lebih mengetahui berapa lama kita berada di sini.”

Merekalah Ashabul Kahfi; pemuda-pemuda yang tidur di dalam gua atas kehendak Allah dan dibangunkan juga atas kehendak Allah. Kisah sekelompok pemuda ini memberikan pelajaran tentang bagaimana kita harus menjaga keimanan dalam keadaan apapun.

Rabu, 14 Januari 2026

Umar dan Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran

Salah seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah Umar bin Khattab. Kemuliaan sosok berjulukan al-Faruq itu tecermin antara lain pada kejadian-kejadian turunnya beberapa ayat Alquran (asbabun nuzul). Ada sejumlah firman Allah Ta’ala yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam konteks peristiwa yang dialami atau disaksikan Umar.

Ketika keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang dilanda ujian. Fitnah menerpa seorang istri beliau, ‘Aisyah binti Abu Bakar. Saat itu, orang-orang munafik menyebarkan gosip bahwa putri ash-Shiddiq itu telah berselingkuh.

Saat itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pendapat beberapa sahabat terdekat tentang perkara ini. Ketika sampai gilirannya Umar, sang al-Faruq mengatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang menikahkan engkau dengan ‘Aisyah?”

“Allah,” jawab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

“Maka apakah mungkin Allah menipu engkau?” tanya Umar lagi.

“Subhanallah! Sesungguhnya ini (fitnah terhadap ‘Aisyah) adalah berita bohong,” kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyadari arah perkataan Umar.

Benar saja. Tak lama kemudian, turunlah firman Allah, yakni surah an-Nur ayat 16.
“Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, ‘Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”

Peristiwa lainnya berkaitan dengan kegelisahan Umar tentang maraknya minuman keras di tengah umat Islam Madinah. Saat itu, khamr memang belum diharamkan oleh syariat Islam. Lagi pula, masih banyak tradisi Arab yang menjadikan minuman keras sebagai sajian umum demi mengakrabkan suasana pertemuan atau kumpul-kumpul.

Yang sudah turun saat itu, ialah ayat-ayat Alquran yang menyebut tentang dampak buruk minuman keras. Hanya saja, belum sampai pada taraf mengharamkannya. Maka, beberapa sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih ada yang gemar menenggak miras. Termasuk di antara mereka ini, Umar bin Khattab.

Lama-kelamaan, Umar sendiri justru merasa khawatir akan imbas jangka panjang khamr. Para sahabat kerap lalai tentang jumlah rakaat yang sedang dikerjakan. Itu ketika mendirikan shalat dalam keadaan belum pulih 100 persen dari pengaruh alkohol.

Senin, 12 Januari 2026

Tangisan Sahabat Pecah Usai Turun Surah Al Maidah Ayat 3 di Arafah

Tangisan Sahabat Pecah Usai Turun Surah Al Maidah Ayat 3 di Arafah

Disebutkan dalam Hadits Riwayat Imam Bukhari pada tahun ke-10 Hijriah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat melaksanakan ibadah haji. Ini adalah haji yang pertama dan terakhir bagi Rasulullah SAW. Sebab, 3 bulan setelah itu Rasulullah SAW wafat.

Ibadah haji Nabi Muhammad SAW dan para sahabat ketika itu kemudian dikenal dengan haji wada' disebut juga haji Islam atau haji akbar. Rasulullah SAW, pada hari Jumat 9 Zulhijah tahun ke-10 Hijriah berada di Arafah dan menyampaikan khutbah haji wada'.

Rasulullah SAW, sang penghulu para nabi itu khutbah dari atas sebuah batu. Sebelum memulai khutbah dan melanjutkan ibadah hajinya, Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin ketika itu tentang tata cara ibadah haji. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu memperlihatkan, menjelaskan dan mengajari umat Islam tentang sunnah-sunnah haji.

Saat di dalam khutbahnya Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah," Abu Bakar Ash Shidiq tak kuasa menahan air mata. Ayahanda Sayyidah Aisyah menangis hingga tangis terdengar oleh Rasulullah dan beberapa sahabat.

Salah satunya Abu Said al-Khudri yang di dalam hatinya berkata, "Apa yang membuat orang tua ini menangis ketika Allah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya?"

Disebutkan dalam hadits Bukhari, Rasulullah sempat menegur Abu Bakar yang terlihat terus menangis. "Wahai Abu Bakar, jangan menangis. Sesungguhnya orang yang paling baik kepadaku dalam pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku harus menjadikan seseorang sebagai kekasih maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi persaudaraan Islam dan cinta karena Islam adalah lebih utama."

Abu Bakar adalah yang paling cerdas dan cepat menangkap suatu pertanda. Salah satunya kata, 'hamba' dalam khutbah Rasulullah SAW tersebut. Yang dimaksud dengan hamba dalam ucapan Rasulullah SAW tidak lain adalah Rasulullah SAW sendiri.

Minggu, 11 Januari 2026

Bilal dan Abu Hind, Sosok di Balik Turunnya Al-Hujurat Ayat 13

Kehadiran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak hanya menghapus tradisi-tradisi jahiliyah yang tidak menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, tetapi juga memberikan ruang seluas-luasnya bagi kesetaraan dalam kehidupan seluruh bangsa. Sistem perbudakan dihapus, diskriminasi bangsa kulit hitam ditinggalkan, dan memberi peran perempuan di ruang-ruang publik.

Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bil-Ma'tsur menjelaskan dua mengenai perlakuan diskriminatif masyarakat Makkah terhadap budak dan orang kulit hitam. Kisah pertama, pada saat Rasulullah memasuki kota Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka'bah dan menyerukan azan. Maka sebagian penduduk Makkah (yang tidak tahu bahwa di Madinah Bilal bin Rabah biasa menunaikan tugas menyerukan azan) terkaget-kaget. Ada yang berkata: "Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?” (dalam riwayat lain di kitab Tafsir al-Baghawi al-Harits bin Hisyam mengejek dengan mengatakan: "Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?"). Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Kisah kedua, Abu Hind adalah bekas budak yang kemudian bekerja sebagai tukang bekam. Nabi meminta kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind. Tapi mereka menolak dengan alasan: "Ya Rasul, bagaimana kami hendak menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?" Dua peristiwa tersebut menjadi sebab turunnya (asbabun nuzul) Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)

Terkait peristiwa Fathu Makkah sendiri, Nabi Muhammad dan para sahabatnya bukan hanya berupaya melakukan revolusi besar dalam membebaskan Kota Makkah, tetapi juga membebaskan seluruh kaum kafir untuk masuk ke dalam lindungan Nabi Muhammad sehingga mereka serta-merta masuk Islam.

Sabtu, 10 Januari 2026

Kisah di Balik Turunnya QS. Al-Mujadalah Ayat 1-4 (Zihar - Menyamakan Istri dengan Wanita Mahram)

Dialah Khaulah binti Tsa’labah. Seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi Muhammad terkait dengan persoalan rumah tangganya. Karena tidak mendapatkan ‘solusi yang diinginkannya’, Khaulah akhirnya mengadu langsung kepada Allah. Hingga akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad (Surat Al-Mujadalah), sebagai solusi atas problematika rumah tangga Khaulah.


Khaulah adalah seorang sahabat yang cerdas. Suatu ketika, Khaulah terlibat debat dengan suaminya, Aus bin Shamit al-Anshari. Dalam perdebatan itu, Khaulah dengan argumentasinya berhasil memojokkan suaminya. Hal itu membuat suaminya, Aus bin Shamit, jengkel hingga kemudian men-ziharnya (sumpah menyamakan istri dengan ibunya). Zihar merupakan persoalan serius. Seseorang yang melakukan zihar kepada istrinya, maka istrinya menjadi haram baginya selamanya. Keduanya tidak boleh melakukan rujuk. Beberapa saat setelah kejadian itu, Aus bin Shamit menyesal. Ia mengajak Khaulah rujuk kembali namun sang istri menolaknya. Namun demikian, dia sebetulnya masih ingin rujuk dan hidup bersama kembali dengan Aus. Dia sadar, jika berpisah dengan Aus maka hidupnya akan berat, terlebih anak-anaknya masih kecil. Singkat cerita, Khaulah kemudian menghadap Nabi Muhammad dan mengadukan persoalan rumah tangganya itu. Karena belum ada wahyu tentang persoalan Khaulah tersebut, maka Nabi Muhammad tetap mengharamkan Khaulah untuk suaminya.

Mereka tidak boleh rujuk lagi.

Khaulah tidak terima dengan jawaban Nabi itu. Ia terus mendebat Nabi, tapi jawaban Nabi tetap sama. Hingga akhirnya, Khaulah mengadu kepada Allah secara langsung. “Ya Allah, kuadukan duka dan keadaanku yang berat ini kepada-MU. Aku masih mempunyai anak-anak yang masih kecil, wahai Rasulullah! Jika kutinggalkan semua padanya, mereka akan terlantar. Jika aku yang merangkul semua, mereka akan kelaparan. Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu, maka turunkanlah wahyu kepada Nabi-Mu,” kata Khaulah sambil mengangkat wajahnya ke langit, tidak berhenti.

Sabtu, 03 Januari 2026

Umar menangis 😢 ketika masuk rumah Rosulullah sholullahu alaihi wassalam. 🥹

Suatu hari Umar bin Khattab rodhiallahu anhu masuk ke rumah Rosulullah sholullahu alaihi wassalam, dan melihat rosulullah sedang berbaring di atas tikar kasar.

Ketika Rosulullah bangkit, terlihat bekas anyaman itu dipunggung beliau.Melihat hal itu, Umar menangis.

Sabtu, 13 Desember 2025

Kisah Pengemis Tua 🧓 Y4hud! Bertemu Sang Khalifah Umar bin Khattab | The story of an old beggar ⭐️

Pada masa kekhalifahannya, umar bin Khottob rodhiallahu anhu mendengar kabar tentang seorang laki-laki tua Yahudi yang meminta-minta dijalan.


Umar mendekatinya dan melihat tangan lelaki tua itu gemetar, matanya redup, dan pakaiannya lusuh.Apa yang membuatmu meminta-minta seperti ini? "tanya Umar.
Lelaki tua itu menunduk. Aku sudah tua, tenagaku habis, tidak ada keluarga, tidak ada harta. Jawab lelaki tua yahudi tersebut.

Jumat, 02 Mei 2025

Bahtera Iman di Laut Kehancuran | Bahtera Nuh Penyelamat Manusia Terakhir di Muka Bumi

Di tengah gurun yang tandus, di bawah langit yang penuh bintang, berdirilah Nabi Nuh, seorang nabi yang penuh kesabaran.

Nabi Nuh dengan penuh kesabaran menyampaikan pesan dari Allah, namun kaumnya menolak dengan keras.

Nabi Nuh berdiri di tengah kerumunan, suaranya penuh dengan keteguhan. "Wahai umatku, sembahlah Allah semata. Tinggalkan penyembahan berhala yang kamu lakukan."


Namun, salah seorang dari kaumnya dengan nada mengejek berkata, "Nuh, apakah kamu benar-benar ingin kami meninggalkan semua yang telah kami lakukan selama ini? Apakah kamu mengira kami akan mengikuti kamu dan meninggalkan tradisi kami?"

Nabi Nuh menjawab dengan tegas, "Aku diutus oleh Allah untuk membimbing kalian ke jalan yang benar. Aku hanya menyampaikan apa yang telah diperintahkan kepadaku."

Sabtu, 26 April 2025

Kisah Nabi Musa : Laut Terbelah Menenggelamkan Kesombongan Pengaku Tuhan "Firaun"

Nabi Musa, sosok yang kharismatik dan penuh keberanian, diutus oleh Allah untuk membimbing umatnya keluar dari belenggu penindasan. Lahir di masa ketika Firaun, penguasa Mesir yang zalim, memerintah dengan tangan besi, Musa menjadi simbol harapan dan keadilan.


Dengan tongkatnya, Musa melakukan mukjizat-mukjizat yang menakjubkan, termasuk membelah Laut Merah, sebagai tanda kekuasaan Allah dan pembebasan umatnya dari perbudakan

Ia adalah sosok yang penuh kasih, Saat itu, Nabi Musa dan pengikutnya sedang dikejar oleh tentara Firaun. Ketika mereka mencapai tepi Laut Merah dan tidak memiliki jalan lain, Allah memerintahkan Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya.

Kamis, 24 April 2025

Cinta yang Diusir dari Surga, Hikayat Cinta Adam dan Hawa

Pada awal penciptaan, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah liat dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirinya.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Malaikat bertanya, "Apakah Engkau akan menjadikan di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Allah menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).


Setelah Allah menciptakan Nabi Adam dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirinya, Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan.
Allah berfirman, "Sujudlah kamu kepada Adam."
Namun, Iblis menolak perintah itu dan berkata, "Apakah Engkau akan menjadikan aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah liat?"
Iblis merasa bahwa dirinya lebih unggul karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Akibat penolakannya, Iblis menjadi makhluk yang terkutuk dan diusir dari surga.

Rabu, 02 April 2025

Diantara Ombak, Iman Tetap Bertahan, Bahtera Dipadang Tandus | Kisah Nabi Nuh AS.

 Di tengah gurun yang tandus, di bawah langit yang penuh bintang, berdirilah Nabi Nuh, seorang nabi yang penuh kesabaran.


Nabi Nuh dengan penuh kesabaran menyampaikan pesan dari Allah, namun kaumnya menolak dengan keras.

Nabi Nuh berdiri di tengah kerumunan, suaranya penuh dengan keteguhan. "Wahai umatku, sembahlah Allah semata. Tinggalkan penyembahan berhala yang kamu lakukan."


Namun, salah seorang dari kaumnya dengan nada mengejek berkata, "Nuh, apakah kamu benar-benar ingin kami meninggalkan semua yang telah kami lakukan selama ini? Apakah kamu mengira kami akan mengikuti kamu dan meninggalkan tradisi kami?"

Nabi Nuh menjawab dengan tegas, "Aku diutus oleh Allah untuk membimbing kalian ke jalan yang benar. Aku hanya menyampaikan apa yang telah diperintahkan kepadaku."

Kamis, 27 Maret 2025

[Sejarah Islam] Perjalanan Malam Menuju Sidrotul Muntaha. Isra' Mi'raj : Langkah Nabi Menembus Langit Ilahi

Bayangkan malam yang hening, di mana cahaya bintang berkelip di langit yang luas. Di kota Makkah, Nabi Muhammad SAW terbaring di dekat Ka'bah, dalam keheningan malam yang penuh rahasia.

Tiba-tiba, langit yang gelap itu diterangi oleh cahaya luar biasa. Malaikat Jibril datang membawa Buraq, makhluk yang bersinar, lebih cepat dari kilat. Dengan penuh keajaiban, Buraq membawa Nabi Muhammad dalam perjalanan yang tak terbayangkan.


Mereka melesat dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Di sana, para nabi terdahulu menyambutnya. Dalam keheningan malam, Nabi Muhammad menjadi imam mereka dalam shalat, sebagai tanda bahwa beliau adalah pemimpin umat seluruhnya.

Namun, itu baru permulaan...

Selasa, 18 Maret 2025

[Sejarah Islam] Subuh Itu, Langit Menangis untuk Umar, Sujud Terakhir Sang Amirul Mukminin, Umar Al-Faaruuq

Umar bin Khattab, yang dikenal sebagai salah satu khalifah yang adil dan tegas, adalah sosok yang sangat dihormati. Pada suatu hari, Umar sedang menjalani tugasnya sebagai pemimpin umat Islam.

Dalam sebuah peristiwa tragis, beliau diserang oleh seorang yang tidak setuju dengan kebijakan-kebijakannya.


Peristiwa tragis ini terjadi ketika Umar sedang memimpin shalat Subuh di masjid. Seorang pria bernama Abu Lu'lu'ah al-Majusi, yang berasal dari Persia dan tidak setuju dengan kebijakan Umar, menyerangnya dengan pisau saat shalat. Kejadian ini terjadi pada tanggal 26 Dzulhijjah, tahun 23 Hijriah.

Umar bin Khattab pun akhirnya meninggal dunia akibat serangan tersebut, meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam.

[Sejarah Islam] Cahaya di balik Pedang Umar bin Khattab, Kisah Sang FAARUUQ, Dari Musuh menjadi Perisai Islam

Di jantung kota Mekkah, di tengah hiruk-pikuk kehidupan, hiduplah seorang pria yang dikenal karena keberaniannya, Umar bin Khattab. Ia adalah sosok yang tak pernah ragu dalam bertindak, dihormati oleh banyak orang, tetapi juga ditakuti karena ketegasannya. Namun, dibalik kekuatannya, Umar menyimpan kebencian yang mendalam terhadap ajaran Nabi Muhammad.

Pedang terhunus di tangannya. Ia berniat menghentikan ajaran Nabi Muhammad dengan kekerasan. Dalam perjalanannya, Umar bertemu dengan seorang sahabat Muslim, Nu'aym, yang mengetahui niat Umar.


Nu'aym, yang menyadari bahaya yang mungkin dihadapi Nabi Muhammad dan para sahabat, segera mendekati Umar. Dengan cerdik, Nu'aym mencoba menenangkan Umar. Ia berkata, "Wahai Umar, jika kau ingin menghancurkan Muhammad, pertimbangkan dulu keluargamu sendiri. Adikmu, Fatimah, dan suaminya telah memeluk Islam."

Rabu, 26 Februari 2025

Mukjizat di Tepi Laut, Dibalik Tongkat Tersimpan Kuasa Langit, Kisah Nabi Musa dengan Raja Firaun

Nabi Musa, sosok yang kharismatik dan penuh keberanian, diutus oleh Allah untuk membimbing umatnya keluar dari belenggu penindasan. Lahir di masa ketika Firaun, penguasa Mesir yang zalim, memerintah dengan tangan besi, Musa menjadi simbol harapan dan keadilan.


Dengan tongkatnya, Musa melakukan mukjizat-mukjizat yang menakjubkan, termasuk membelah Laut Merah, sebagai tanda kekuasaan Allah dan pembebasan umatnya dari perbudakan

Ia adalah sosok yang penuh kasih, Saat itu, Nabi Musa dan pengikutnya sedang dikejar oleh tentara Firaun. Ketika mereka mencapai tepi Laut Merah dan tidak memiliki jalan lain, Allah memerintahkan Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya.

Senin, 24 Februari 2025

Cinta Pertama di Taman Surga, Maha Cinta Adam & Hawa, Tertulis di Langit, Tersurat di Bumi

Pada awal penciptaan, Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah liat dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirinya.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Malaikat bertanya, "Apakah Engkau akan menjadikan di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Allah menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).


Setelah Allah menciptakan Nabi Adam dan meniupkan roh-Nya ke dalam dirinya, Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan.
Allah berfirman, "Sujudlah kamu kepada Adam."
Namun, Iblis menolak perintah itu dan berkata, "Apakah Engkau akan menjadikan aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah liat?"
Iblis merasa bahwa dirinya lebih unggul karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Akibat penolakannya, Iblis menjadi makhluk yang terkutuk dan diusir dari surga.

Senin, 27 Januari 2025

[Sejarah Islam] ISRA' MI'RAJ : Perjalanan Malam Menuju Tahta Sang Pencipta, Jejak Langkah Nabi Menuju Sidratul Muntaha

Bayangkan malam yang hening, di mana cahaya bintang berkelip di langit yang luas. Di kota Makkah, Nabi Muhammad SAW terbaring di dekat Ka'bah, dalam keheningan malam yang penuh rahasia.
Tiba-tiba, langit yang gelap itu diterangi oleh cahaya luar biasa. Malaikat Jibril datang membawa Buraq, makhluk yang bersinar, lebih cepat dari kilat. Dengan penuh keajaiban, Buraq membawa Nabi Muhammad dalam perjalanan yang tak terbayangkan.
Mereka melesat dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Di sana, para nabi terdahulu menyambutnya. Dalam keheningan malam, Nabi Muhammad menjadi imam mereka dalam shalat, sebagai tanda bahwa beliau adalah pemimpin umat seluruhnya.

Namun, itu baru permulaan...


Langit pun terbuka lebar, dan Nabi Muhammad dibawa naik ke langit pertama, bertemu dengan Nabi Adam yang menyambutnya dengan penuh kehangatan. Di langit kedua, beliau bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ketiga, Nabi Yusuf yang tampan dan penuh cahaya menyambutnya. Di langit keempat, Nabi Idris, yang sangat saleh, berdiri menunggu. Di langit kelima, Nabi Harun, yang berwibawa, menyambut dengan senyuman.

Rabu, 17 Desember 2014

Isyarat Menjadi Makmum

Pernahkan anda alami atau anda melihat ada laki-laki yang berdiri melaksanakan shalat, kemudian datang wanita ingin menjadi makmum. Maka, apa yang seharusnya dilakukan wanita tersebut agar laki-laki tadi mengetahui bahwa ada yang ingin mengikutinya sehingga dia mengeraskan suaranya?

Mengutamakan shalat berjamaah bukan hanya melipatgandakan pahala ibadah semata, melainkan menjadi sebab turunnya rahmat dan pertolongan Allah ta’ala, terutama dalam gerak langkah kehidupan umat yang mengharapkan ridha Allah menuju baldatun thayyibah wa rabbun ghafuur. Pemimpin yang tidak mengutamakan shalat berjamaah tidak dapat menyatukan hati umatnya dan tidak pula menjadi perantara turunnya rahmat pertolongan Allah bagi umat.

Menepuk pundak merupakan sebuah isyarat yang diberikan oleh orang yang ingin menjadi makmum bagi orang yang sedang shalat sendiri agar ia mengetahui bahwa ada orang yang ingin mengikutinya. Dengan begitu, ia menyesuaikan tata cara shalatnya sebagai imam, misal dengan mengeraskan suara dalam shalat jahriyah (Maghrib, Isya, dan Subuh). Sebenarnya, jika seseorang laki-laki ingin bermakmum kepada orang yang shalat sendirian, tidak perlu menepuk pundak orang itu, tapi cukup langsung berdiri di sebelah kanannya, karena secara langsung sudah membeikan isyarat kepada imam sholat.

Hal itu sesuai dengan hadis Nabi SAW, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, ‘Saya tidur di rumah Maimunah (istri Nabi SAW) dan Nabi sedang di sana malam itu. Kemudian, beliau berwudhu dan mendirikan shalat, maka saya berdiri di sebelah kirinya, kemudian Rasulullah SAW memegangku dan menempatkan aku di sebelah kanannya. Dan, beliau shalat 13 rakaat, lalu tidur sampai mengembuskan udara dari mulutnya, dan Nabi SAW jika tidur biasa mengembuskan udara dari mulutnya. Kemudian datang muadzin, maka Nabi SAW keluar dan melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi.’” (HR Bukhari dan Muslim)

“Dari Jabir bin Abdullah ra, ia berkata, ‘Nabi SAW pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia menempatkan aku di sebelah kanannya. Kemudian, datang Jabbar bin Shakr yang ia langsung berdiri di sebelah kiri Rasulullah SAW. Lalu, beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami di belakangnya.’” ( HR Muslim )

Dari hadist tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa para sahabat yang ingin bermakmum kepada Nabi SAW yang sedang shalat sendirian tidak menepuk pundak beliau, tapi langsung berdiri di samping beliau. Dan dengan begitu, beliau pun tahu ada yang ingin menjadi makmum.

Rabu, 19 November 2014

Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut ini 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.
Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: ”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadits.

2. Umar Bin Khatab ra.
Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.
Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

Jumat, 17 Oktober 2014

Perbedaan Niat Imam Dan Makmum Masbuk

Fenomena yang sering menimbulkan pertanyaan dikalangan kaum muslimin Indonesia adalah manakala seorang sholat sunnah sendiri, misalnya sholat sunnah ba'diyah, atau sholat fardlu sendiri kemudian datanglah seseorang yang bermakmum kepadanya dengan menepuk pundak si mushalli pertama, sahkah sholat seperti ini? Permasalahan ini dalam kitab fikih dibahas dengan judul perbedaan niat imam dan makmum. Para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara sholat seperti itu.

Pendapat pertama adalah madzhab Syafi'I
mengatakan bahwa sah sholat jamaah dengan perbedaan niat imam dan makmum secara mutlak. Jadi meskipun imam sholat sunnah dan makmum sholat fardlu, imam sholat dhuhur dan makmum sholat ashar, imam sholat ada' dan makmum sholat qadla, semuanya sah, asalkan format sholat imam dan makmum sama. Kalau formatnya beda, maka tidak sah, seperti misalnya imam sholat gerhana dan makmum sholat isya', maka tidak diperbolehkan. Madzhab Syafi'I ini merupakan madzhab yang paling longgar.

Pendapat kedua adalah madzhab Maliki
yang mengatakan tidak sah sholat imam dan makmum yang berbeda niatnya, secara mutlak. Mereka yang sholat fradlu tidak boleh bermakmum dengan imam yang sholat sunnah, begitu makmum sholat dhuhur tidak sah bila imamnya sholat selain fardlu. Ini pendapat paling ketat.

Pendapat ketiga adalah madzhab Hanafi
yang mengatakan bahwa boleh orang sholat sunnah di belakang imam yang sholat fardlu tapi tidak sebaliknya. Begitu juga tidak sah sholat makmum yang berbeda dengan sholat imamnya meskipun sama-sama fardlu.

Dalil-dalil:

Dalil pendapat pertama adalah:
1. Hadist riwayat Syafi'I dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah s.a.w. keluar untuk mendamaikan satu persengketaan di Bani Sulaim, lalu beliau membagi sahabatnya menjadi dua kelompok, kemudian beliau sholat mengimami dengan kelompok satu, kemudian sholat lagi mengimami dikelompok kedua. Diriwayatkan itu sholat maghrib.
Sangat jelas pada hadist tersebut bahwa Rasulullah mengimami kelompok kedua, padahal beliau telah sholat di kelompok pertama. Berarti sholat Rasulullah sunnah dan sholat makmum fardlu.
2. Hadist riwayat Muslim dari Jabir bin Abdullah bahwa Suatu hari Muadz sholat bersama Rasulullah s.a.w. lalu ia datang ke kaumnya lalu ia mengimami kaumnya sholat Isya' dengan membaca surat Baqarah, lalu seorang lelaki keluar dari jamaah dan menyelesaikan sendiri sholatnya. Orang-orang pun menegurnya "Apakah anda orang manafik?", iapun menjawab "Tidak, aku akan adukan masalah ini kepada Rasulullah". Sesampai kepada Rasulullah, orang itu berkata "Wahai Rasulullah, kami orang-orang bekerja siang, Muzdz telah mengimami kami sholat Isya' telah larut dan membaca surat Baqarah".  Ketika Rasulullah mendengar cerita itu, ditegurnya Muad'z "Apakah angkau orang yang suka membuat fitnah? Mengapa tidak kau baca surat Sabbihis dan Wallaili Idza Yaghsyaa".

Hadist ini juga menunjukkan perbedaan sholat imam dan makmum, dimana Muadz telah sholat Isya bersama Rasulullah lalu menjadi imam di kaumnya. Bagi Muadz sholat sunnah dan bagi kaumnya sholat fardlu.