Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

Kisah Nabi Ayyub A.s

Nabi Ayyub A.s menggambarkan sosok manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan bahwa beliau berada di puncak kesabaran. Sering orang menisbatkan kesabaran kepada Nabi Ayyub A.s. Misalnya, dikatakan: seperti sabarnya Nabi Ayyub A.s. Jadi, Nabi Ayyub A.s menjadi simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap bahasa, pada setiap agama, dan pada setiap budaya. Allah Swt telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi:

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

Yang dimaksud al-Aubah ialah kembali kepada Allah Swt. Nabi Ayub adalah seseorang yang selalu kembali kepada Allah Swt dengan dzikir, syukur, dan sabar. Kesabarannya menyebabkan beliau memperoleh keselamatan dan rahasia pujian Allah Swt padanya.

Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan bentuk dari penyakitnya, dan banyak cerita-cerita dongeng yang mengemukakan tentang penyakitnya. Dikatakan bahwa beliau terkena penyakit kulit yang dahsyat sehingga manusia-manusia enggan untuk mendekatinya. Dalam cuplikan kitab Taurat disebutkan berkenaan dengan Nabi Ayyub A.s: “Maka keluarlah setan dari haribaan Tuhan dan kemudian Ayyub A.s terkena suatu luka yang sangat mengerikan dari ujung kakinya sampai kepalanya.” Tentu kita menolak semua ini sebagai suatu hakikat yang nyata. Kami pun tidak mentolerir jika itu dianggap sebagai perbuatan seni semata. Perhatikanlah ungkapan dalam Taurat: “Kemudian setan keluar dari haribaan Tuhan kita,” sebagai orang-orang Muslim, kita mengetahui bahwa setan telah keluar dari haribaan Tuhan sejak Allah Swt menciptakan Adam A.s. Maka, kapan setan kembali keharibaan Tuhan? Kita berada di hadapan ungkapan seni, tetapi kita tidak berada di hadapan suatu hakikat.

Lalu, bagaimana hakikat sakitnya Nabi Ayyub A.s dan bagaimana kisahnya?

Yang populer tentang cobaan Nabi Ayyub A.s dan kesabarannya adalah riwayat berikut: para malaikat di bumi berbicara sesama mereka tentang manusia dan sejauh mana ibadah mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: “Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada Nabi Ayyub A.s. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah Swt dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya.” Setan mendengarkan apa yang dikatakan lalu ia merasa terganggu dengan hal itu. Kemudian ia pergi menuju ke Nabi Ayyub A.s dalam rangka berusaha menggodanya tetapi Nabi Ayyub A.s adalah seorang Nabi dimana hatinya dipenuhi dengan ketulusan dan cinta kepada Allah Swt setan tidak mungkin mendapatkan jalan untuk mengganggunya.

Ketika setan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayyub A.s, ia berkata kepada Allah Swt: “Ya Rabbi, hamba-Mu Ayub sedang menyembah-Mu dan menyucikan-Mu namun, ia menyembah-Mu bukan karena cinta, tapi ia menyembah-Mu karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembah-Mu sebagai balasan kepada-Mu karena Engkau telah memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh karena itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni karena cinta.”

Riwayat tersebut mengatakan bahwa Allah Swt berkata kepada iblis: “Sesungguhnya Ayub adalah hamba yang mukmin dan sejati imannya. Nabi Ayyub A.s menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan.”

Sabtu, 03 Mei 2014

Nabi-Nabi Yang Diutus Pada Kaum Yasin

Allah Swt berfirman:

“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’ Mereka menjawab: ‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.’
Mereka berkata: ‘Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah Swt) dengan jelas.’
Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.’
Utusan-utusan itu berkata: ‘Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri.
Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. “ (QS. Yasin: 13-19)

Allah Swt menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur’an menyebutkan bahwa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahwa tiga nabi itu sebagai utusan Allah Swt.

Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata bahwa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih.

Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri.

Al-Qur’an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur’an adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besar yang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh oleh orang-orang kafir.

Allah Swt berfirman:

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah (pula) dapat menyelamatkanku?
Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maha dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.’” (QS. Yasin: 20-25)

Konteks Al-Qur’an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah Swt mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan:

Selasa, 15 April 2014

Kisah Nabi Yunus A.s

Beliau adalah Nabi yang mulia yang bemama Yunus bin Mata. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Janganlah kalian membanding-bandingkan aku atas Yunus bin Mata.”

Mereka menamakannya Yunus, Dzun Nun, dan Yunan. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah Swt kepada kaumnya. Beliau menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; beliau mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan surga; beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah Swt.

Nabi Yunus A.s senantiasa menasehati kaumnya namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Datanglah suatu hari kepada Nabi Yunus A.s dimana beliau merasakan keputus asaan dari kaumnya. Hatinya dipenuhi dengan perasaan marah pada mereka namun mereka tidak beriman. Kemudian beliau keluar dalam keadaan marah dan menetapkan untuk meninggalkan mereka. Allah Swt menceritakan hal itu dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim.’” (QS. al-Anbiya’: 87)

Tidak ada seorang pun yang mengetahui gejolak perasaan dalam diri Nabi Yunus A.s selain Allah Swt. Nabi Yunus A.s tampak terpukul dan marah pada kaumnya. Dalam keadaan demikian, beliau meninggalkan kaumnya. Beliau pergi ke tepi laut dan menaiki perahu yang dapat memindahkannya ke tempat yang lain. Allah Swt belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk meninggalkan kaumnya atau bersikap putus asa dari kaumnya. Yunus A.s mengira bahwa Allah Swt tidak mungkin menurunkan hukuman kepadanya karena ia meninggalkan kaumnya. Saat itu Nabi Yunus A.s seakan-akan lupa bahwa seorang nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah Swt. Namun keberhasilan atau tidak keberhasilan dakwah tidak menjadi tanggung jawabnya. Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah Swt dan menyerahkan sepenuhnya masalah keberhasilan atau ketidak berhasilannya terhadap Allah Swt semata.

Terdapat perahu yang berlabuh di pelabuhan kecil. Saat itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus A.s melihat ikan kecil sedang berusaha untuk melawan ombak namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan. Tiba-tiba datanglah ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan batu. Melihat kejadian ini, Nabi Yunus A.s merasakan kesedihan. Nabi Yunus A.s berkata dalam dirinya: “Seandainya ikan itu bersama ikan yang besar barangkali ia akan selamat.”

Kemudian Nabi Yunus A.s mengingat-ingat kembali keadaannya dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya, kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.

Nabi Yunus A.s pun menaiki perahu dalam keadaan guncang jiwanya. Beliau tidak mengetahui bahwa beliau lari dari ketentuan Allah Swt menuju ketentuan Allah Swt yang lain; beliau tidak membawa makanan dan juga kantong yang berisi bawaan atau perbekalan, dan tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang menemaninya; beliau benar-benar sendirian; beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan perahu.

Selasa, 25 Maret 2014

Kisah Kesabaran Nabi Dzulkifli A.s

Dialah seorang nabi yang tidak dijelaskan secara gamblang tentang zaman kenabiannya dan di kaum apa beliau berdakwah. Semua cerita tentang Nabi Dzulkifli A.s hanya sebatas pendapat-pendapat, tidak berdasar dalil yang Qoth’i.

Allah Swt telah mencatat beliau A.s sebagai jajaran orang-orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anbiya’ [21]:85)

Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang pilihan. (QS. Shad [38]: 48)

Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbanya juga beragam .الْكِفْلِ   itu maknanya menjamin tanggungan. Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli A.s hidup. Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli A.s adalah anak Nabi Ayyub A.s yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub. Beliau berdakwah di daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli A.s adalah seorang nabi bukan dari kalangan Bani Israiil.

Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli A.s adalah seorang nabi dari kalangan Bani Israiil. Beliau hidup di masa Nabi Yasa’ A.s, seorang nabi yang hidup setelah Nabi Ilyas A.s. Alasan mereka, karena ada riwayat yang disebutkan dengan jelas perihal nama Nabi Yasa’ A.s sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalan Mujahid. Dan Ibnu Katsir menukilnya dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’ 217 dan beliau tidak berkomentar tentang derajat kisah ini.

Mujahid berkata: Ketika Nabi Yasa’ A.s telah berusia tua, beliau ingin memberikan mandat kepada seseorang untuk mengurusi kaumnya saat dirinya masih hidup agar dia tahu bagaimana cara kerjanya. Maka Nabi Yasa’ A.s mengumumkan pada kaumnya, “Siapa yang bisa menerima tiga kewajiban dariku, yaitu berpuasa di siang hari, sholat tahajjud di malam hari, dan sekali-kali tidak akan marah, maka aku berikan mandat padanya.”

Maka majulah seorang laki-laki yang rendahan di antara mereka, sambil menjawab, “Saya.”
Nabi Yasa’ A.s bertanya, “Apakah engkau sanggup?”
Ia menjawab, “Ya.”
Maka sejak saat itulah Nabi Dzulkifli A.s diberikan mandat untuk menggantikan tugas nabi tersebut untuk memutuskan segala urusan pada kaumnya waktu itu. Beliau terbukti mampu menunaikan tugasnya dan sanggup melaksanakan tiga kewajiban yang dibebankan padanya.

Sejak saat itu, setan ingin menggodanya. Setan menjelma sebagai seorang yang tua renta lagi kelihatan miskin. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan Nabi Dzulkifli A.s karena terlalu sibuknya dalam kesehariannya beliau tidak ada waktu untuk tidur kecuali sesaat di waktu siang. Maka datanglah setan yang menjelma sebagai lelaki tua itu ketika Nabi Dzulkifli A.s hendak tidur siang. Tujuannya adalah agar Nabi Dzulkifli A.s menjadi marah karenanya.

Mula-mula lelaki tua itu mengetuk pintu rumah Nabi Dzulkifli A.s, padahal beliau sudah berbaring untuk istirahat. Begitu pintu diketuk, menyahutlah Nabi Dzulkifli A.s dari dalam, “Siapa ?!”
“Saya lelaki tua yang teraniaya,” jawab lelaki tua itu.
Setelah pintu terbuka, mengadulah lelaki tua itu pada Nabi Dzulkifli A.s. Dia berkata, “Saya seorang tua yang teraniaya. Telah terjadi pertikaian antara diriku dan kaumku, lalu mereka berbuat dzalim kepadaku dan mereka juga berbuat begini dan begitu.”
Lelaki itu terus bercerita dan menambah ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan tidur siang Nabi Dzulkifli A.s. Beliau berkata, “Wahai tuan, hendaklah engkau datang di majelisku sore ini. Nanti akan aku selesaikan hakmu dari kaummu.”

Jumat, 17 Januari 2014

Istri Nabi Sulaiman a.s

Pernikahan Nabi Sulaiman dengan Ratu Bulqis

Berawal dari sang Ayah,
Nabi Daud yang konon sudah memiliki 99 isteri. Satu waktu, beliau jatuh cinta lagi pada isteri seorang prajurit. Beberapa saat kemudian, di saat ia memasuki istananya, Entah darimana datangnya, 2 orang sedang berseteru.
Nabi Daud bertanya, “Wahai, ada apakah ini ? Mengapakah engkau bertengkar dengan saudaramu ?”
“Saudara saya ini punya 99 kambing Ya nabi, sedangkan aku cuma memiliki 1 kambing saja. Tapi milikku yang satu ini mau diminta pula”
Nabi Daud menjawab, “Apa yang engkau lakukan sungguh hina. Bukankah engkau sudah memiliki 99 kambing. Mengapa milik saudaramu sendiri yang cuma 1 itu engkau minta pula ?”
Salah seorang dari mereka menjawab, “lalu mengapakah engkau masih mengharap isteri orang Nabi ? Sementara engkau sudah memiliki 99 isteri ?”

Tahulah Nabi Daud bahwa mereka adalah malaikat yang diutus Allah. Berhari-hari, Nabi Dawud tobat, memohon ampun pada Allah. Satu ketika, Karena musibah, Suami dari wanita yang dicintai Daud tersebut wafat. Cinta Daud padanya belumlah pupus. Maka setelah tiba waktu yang tepat, Daud meminangnya. Sang Wanita bersedia asal dengan beberapa syarat.
Yang pertama, Bahwa anak mereka haruslah laki-laki.
Yang kedua, Anak mereka memiliki kekuasaan di dunia ini yang tidak ada bandingnya baik untuk manusia jaman dulu maupun manusia jaman mendatang.
Dan yang ketiga, tidak ada yang mengalahkan kekayaannya baik bagi manusia jaman dulu maupun bagi manusia jaman mendatang.

Setelah memohon berbulan-bulan, barulah kemudian Allah mengabulkan do’a Nabi Daud atas permintaan calon isterinya itu. Begitulah, Nabi Sulaiman kekuasaannya tidak ada yang menandingi. Meliputi manusia, hewan dan jin. Kekayaannya juga tak ada yang menandingi. Legendanya, Istana Sulaiman berlapis berlian dan emas serta batu-batu berharga lainnya.

Alkisah, Di dalam dakwahnya, Nabi Sulaiman mendengar bahwa di satu negri yang bernama Saba’, Hiduplah seorang putri yang cantik jelita, terkenal atas kecerdikannya dan ia adalah Ratu pemimpin negri itu. Konon ibunya adalah Putri Raja Jin dan ayahnya adalah Raja di sebuah negara manusia. Nabi Sulaiman mengirim surat kepada Ratu itu, “Bismillahirrohmanirrohim”
“Ala ta’lu alaya wa’tuni muslimin”
“Aku Nabi utusan Allah, janganlah engkau menyembah matahari, melainkan sembahlah Allah yang Maha Kaya dan Maha pencipta. Kekuasaannya meliputi seluruh makhluk”

Sang Ratu Bulqis tidak gegabah dalam menanggapi surat dari Raja Sulaiman. Ia juga sudah mendengar kekuasaan Nabi Sulaiman meliputi semuanya. Hewan dan jin pun tunduk padanya. Kekayaan kerajaannya mungkin tak ada bandingnya.

Ia memanggil para menterinya, mengajak mereka meeting.
“Para menteriku, ada Surat dari Raja Sulaiman. Ia tidak memaksa dan tidak mengancam kita. Ia meminta kita menyembah pada Tuhan Allah. Tetapi kita tahu, seandainya kita menolak, segala kemungkinan juga bisa terjadi. Kekuatan perang kerajaan kita tak ada artinya dibanding kekuatan perang kerajaan Sulaiman. Kekuasaan kita tak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan Sulaiman.”
Para menteri saling mengeluarkan pendapat mereka.
Dari sisi sosial mereka sampaikan,
Dari sisi budaya mereka sampaikan,
Dari sisi militer mereka sampaikan,
Dari sisi keyakinan mereka sampaikan,
Dari sisi politik mereka sampaikan,
Dari sisi ekonomi mereka sampaikan,
Akhirnya, Ratu Bulqis sendiri menyampaikan pendapatnya, Dari sisi kebenaran,
“Begini, akan kita lihat. Akan kukirimkan harta yang berlimpah-limpah kepada Raja Sulaiman. Kalau dia memang seorang utusan Tuhan, dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia seorang raja biasa, tentulah kiriman harta kita akan dianggap upeti dan akan diterimanya. Tidak itu saja, kita akan uji. Pembawa kekayaan yang berlimpah itu akan kita iringi dengan beberapa wanita dan pemuda yang cara pakaian mereka cara berjalan mereka dan semuanya kita didik, tetapi kita ubah. Yang laki-laki berpakaian wanita, yang wanita berpakaian laki-laki. Kalau dia memang seorang Nabi, tentulah tahu mana yang laki-laki sebenarnya dan mana yang bukan”.
Kalau memang Raja Sulaiman itu seorang Nabi, maka sungguh celaka kalau kita tidak mau mengikutinya. Tapi kalau ia seorang raja biasa, akan kita perangi”
Para menteri semua setuju, sepakat.

Kamis, 09 Januari 2014

99 Istri Nabi Sulaiman A.s & Keutamaan Lafadz “Insya Allah”

Nabi Muhammad Saw menyampaikan kepada kita bahwa Nabiyullah Sulaiman A.s bersumpah untuk menggauli (99) sembilan puluh sembilan isterinya. Masing-masing isteri melahirkan seorang penunggang kuda untuk berjihad fi sabilillah. Tetapi tidak ada yang melahirkan kecuali (1) satu isteri. Dan itupun hanya setengah manusia, karena dia tidak berucap “Insya Allah”.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Saw beliau bersabda (berkata),

“ Sulaiman bin Dawud berkata :
“Demi Allah, aku akan berkeliling malam ini kepada (70) tujuh puluh isteri, masing-masing isteri melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad fi sabilillah.”
Temannya berkata kepadanya, ” Insya Allah.”
Tetapi Sulaiman tidak mengucapkannya, maka tidak seorang pun yang melahirkan kecuali seorang saja melahirkan bayi yang jatuh salah satu sisinya. ”
Nabi Muhammad Saw bersabda :
“ Jika Sulaiman mengucapkan, niscaya mereka berjihad fi sabilillah. ”

Syuaib dan Ibnu Abiz Zinad berkata, “ Sembilan puluh. ” Dan ini Lebih Shahih. Lafadznya adalah lafadz Bukhari. Hadis ini disebutkan oleh Bukhari dalam Kitabul Jihad dengan lafadz,
“ Demi Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada (100) seratus isteri atau (99) sembilan puluh sembilan isteri. ”

Dalam Kitabun Nikah dengan lafadz, “ Sulaiman bin Dawud berkata :
“Demi Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada (100) seratus wanita, setiap wanita melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah Swt.”
Malaikat berkata kepadanya : “Katakanlah, ‘ Insya Allah”.
Tetapi Sulaiman tidak mengatakannya. Dia lupa. Dia berkeliling, tapi tidak ada isteri yang melahirkan kecuali seorang isteri yang melahirkan setengah manusia. ”

Nabi Muhammad bersabda :
“ Seandainya Sulaiman berkata, ‘Insya Allah’ niscaya dia tidak mengingkari sumpahnya dan keinginannya lebih mungkin untuk tercapai. ”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab firman Allah Swt, “ Dan Kami berikan Sulaiman kepada Dawud. ” (Shad: 30). (6/458 no. 3424).

Dalam Kitabul Jihad, bab mencari anak untuk jihad, 6/34 no. 2819, dalam Kitabun Nikah, bab ucapan seorang suami, ‘Aku akan berkeliling kepada isteri-isteriku.’(9/239 no. 5242).
Dalam Kitabul Aiman wan Nudzur, bab bagaimana sumpah Nabi, 11/524, no. 6639.
Dalam Kitab Kaffaratul Aiman, bab pengecualian dalam sumpah, 11/602.
Dalam Kitabut Tauhid, bab keinginan dan kehendak, 13/446, no. 7469.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Aiman bab pengecualian dalam sumpah, 3/1275, no. 1654. Hadis ini dalam Syarah Muslim An-Nawawi, 11/282.

Sulaiman A.s adalah salah seorang Nabiyullah yang shalih dan raja yang Mujahid. Allah Swt memberinya kerajaan yang besar. Allah Swt menundukkan manusia, jin, burung, dan angin untuknya. Barang siapa membaca paparan Al-Qur’an tentang hidupnya, maka dia mengetahui bahwa Sulaiman gemar berjihad fi sabilillah, memperhatikan bala tentaranya, cermat meneliti mereka dan perlengkapan mereka. Dan jika perhatian seseorang tertuju pada suatu perkara, maka dia akan menghabiskan umurnya dalam rangka meraih sesuatu itu, mengembangkan, dan menegakkannya diantara manusia.

Sulaiman A.s benar-benar menggemari jihad, memperhatikan, dan menyiapkan pasukannya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Swt, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An-Naml: 17).

Selasa, 03 Desember 2013

Kisah Nabi Uzair A.s

Nabi Uzair A.s adalah seorang hamba Allah Swt yang hidup pada jaman antara Nabi Shaleh A.s dan Nabi Ibrahim A.s, yaitu sekitar 5000 sampai dengan 4000 tahun sebelum masa  Nabi Isa A.s.

Nabi Uzair A.s adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Allah Swt,  satu diantara 313  Rasul utusan Allah Swt.

Dari segi bahasa, kata UZAIR berasal dari kata AZARO, yang artinya “mengkoreksi”, yaitu mengkoreksi kebenaran dengan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan  menjadi suatu kebenaran yang semestinya.

Nabi Uzair A.s adalah seorang lelaki yang amat sholeh dan Hafidz kitab Taurat. Beliau dikatakan memahami setiap isi kandungan Taurat. Beliau menjadi rujukan setiap masyarakat Yahudi pada zamannya.

Dari Uzair A.s ini, Allah Swt telah memperlihatkan kebesaran-Nya dengan membangkitkannya dari kematian dan kembali kepada masyarakat untuk menyelamatkan isi Taurat.

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.
Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?”
Ia menjawab: “Saya (Uzair A.s) tinggal di sini sehari atau setengah hari.”
Allah berfirman: “Sebenarnya kamu (Uzair A.s) telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu (Uzair A.s) tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah Swt menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya (Uzair A.s) yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Surah al-Baqarah ayat 259)

Suatu saat Nabi Uzair A.s berjalan-jalan dengan keledainya, sehingga sampai ke suatu wilayah yang sunyi dan yang telah hancur semua bangunannya, yang sangat gersang dan tidak ada satupun tanamannnya yang hidup.  Wilayah itu kira-kira berada di daerah Mesir yang berbatasan dengan negeri Palestina.

Beliau kemudian, turun dari keledainya dan bersujud kepada Allah Swt, dengan berkata “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?.

Mendengar perkataan beliau itu, kemudian Allah Swt menidurkan atau mematikan beliau dan memanggilnya untuk pindah ke alam bathiniyah selama 100 tahun. Dalam tidur/matinya itu, beliau berkumpul dengan para nabi terdahulu dan melalui beliau-beliau itu, Allah Swt mengajarkan berbagai ilmu kepada beliau, terutama ilmu pengelolaan negara.

Setelah 100 tahun tertidur itu, Allah Swt membangunkan atau menghidupkan kembali beliau dengan jasadnya sebagaimana semula saat mulai tertidur. Kemudian Allah Swt bertanya kepada beliau: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”
Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”.
Allah Swt berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”.
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) beliau pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS 2 Al Baqarah 259).

Setelah bangun/hidup kembalinya Nabi Uzair A.s dari tidur/kematiannya itu, beliau mengelola wilayah itu, dari kehancuran, kegersangan, kesunyian tanpa kehidupan sampai menjadi suatu wilayah dengan masyarakat yang beriman kepada Allah Swt yang aman dan sejahtera. Beliau mengelola wilayah itu selama 75 tahun. Tersebarlah keadaan beliau dan wilayah itu ke semua penjuru bumi hingga ke kerajaan Namrudz (jaman sebelum kelahiran Nabi Ibrahim A.s). Kemudian tentara kerajaan Namrudz itu menyerang wilayah itu, sehingga akhirnya beliau dipindahkan dan diangkat oleh Allah Swt ke alam bathiniyah, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Isa A.s.

Minggu, 17 November 2013

Kisah Nabi Yasa’ A.s

Al-Yasa’ A.s adalah Nabi selanjutnya untuk bangsa Israel. Dia menghadapi sikap penyangkalan Raja dan Ratu Israel terhadap agama sepeninggal Ilyas A.s. Al-Yasa’ A.s menunjukkan banyak mukjizat untuk menunjukkan kekuasaan Allah Swt, tapi mereka malah menyebutnya tukang sihir, sama seperti ketika mereka menyebut Nabi Ilyas A.s sebelumnya. Mereka terus membangkang sepanjang hidup Al-Yasa’ A.s. Setelah beberapa lama, bangsa Israel ditaklukkan oleh Bangsa Assyria. Bangsa Assyria menghancurkan Kuil Gunung dan menyebabkan kerusakan parah di Israel.

Nama Al-Yasa A.s disebut dalam kisah Nabi Ilyas A.s, saat rasul itu dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Al-Yasa A.s. Maka besar kemungkinan Al-Yasa A.s juga tinggal di seputar lembah sungai Jordan.

Ketika Ilyas A.s bersembunyi di rumahnya, Al-Yasa A.s masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit kemudian Ilyas A.s membantu menyembuhkan penyakitnya. Setelah sembuh, Al-Yasa A.s pun menjadi anak angkat Ilyas A.s yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan kebaikan. Al-Yasa A.s melanjutkan tugas kenabian tersebut begitu Ilyas A.s meninggal. Al-Yasa A.s melanjutkan misi ayah angkatnya, agar kaumnya kembali taat kepada ajaran Allah Swt.

Al-Yasa’ A.s kemudian mendapati bahwa manusia ternyata begitu mudah kembali ke jalan sesat. Itu terjadi tak lama setelah Ilyas A.s wafat. Padahal masyarakat lembah sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Ilyas A.s agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa A.s tak lelah menyeru ke jalan kebaikan. Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Al-Yasa’ A.s, dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang luar biasa.

Nabi Yasa’ A.s termasuk salah satu nabi yang diutus oleh Allah Swt Allah Swt menyebut namanya dan memujinya tetapi Dia tidak menceritakan kisahnya. Allah Swt berfirman dalam surah Shad:

“Dan inilah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak, dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang baik. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkilfi. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Shad: 45-48)

Pendapat yang utama menyatakan bahawa Nabi Yasa’ A.s adalah Yasa’ yang disebutkan dalam Taurat, sementara Injil Barnabas menceritakan bahwa beliau mampu menghidupkan orang yang gila. Ini adalah mukzijat beliau.