La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim - Semoga Jalan Kami Jalan Fisabilillah - (Insya Allah)
Cari Berkah
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Rasul. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Januari 2025
Senin, 09 Juni 2014
Kisah Nabi Ayyub A.s
Nabi Ayyub A.s menggambarkan sosok
manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan bahwa beliau berada di puncak
kesabaran. Sering orang menisbatkan kesabaran kepada Nabi Ayyub A.s. Misalnya,
dikatakan: seperti sabarnya Nabi Ayyub A.s. Jadi, Nabi Ayyub A.s menjadi
simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap
bahasa, pada setiap agama, dan pada setiap budaya. Allah Swt telah memujinya
dalam kitab-Nya yang berbunyi:
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang
yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada
Tuhannya).” (QS. Shad: 44)
Yang dimaksud al-Aubah ialah kembali kepada
Allah Swt. Nabi Ayub adalah seseorang yang selalu kembali kepada Allah Swt
dengan dzikir, syukur, dan sabar. Kesabarannya menyebabkan beliau memperoleh
keselamatan dan rahasia pujian Allah Swt padanya.
Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan bentuk
dari penyakitnya, dan banyak cerita-cerita dongeng yang mengemukakan tentang
penyakitnya. Dikatakan bahwa beliau terkena penyakit kulit yang dahsyat
sehingga manusia-manusia enggan untuk mendekatinya. Dalam cuplikan kitab Taurat
disebutkan berkenaan dengan Nabi Ayyub A.s: “Maka keluarlah setan dari haribaan
Tuhan dan kemudian Ayyub A.s terkena suatu luka yang sangat mengerikan
dari ujung kakinya sampai kepalanya.” Tentu kita menolak semua ini sebagai
suatu hakikat yang nyata. Kami pun tidak mentolerir jika itu dianggap sebagai
perbuatan seni semata. Perhatikanlah ungkapan dalam Taurat: “Kemudian setan
keluar dari haribaan Tuhan kita,” sebagai orang-orang Muslim, kita mengetahui
bahwa setan telah keluar dari haribaan Tuhan sejak Allah Swt menciptakan Adam
A.s. Maka, kapan setan kembali keharibaan Tuhan? Kita berada di hadapan
ungkapan seni, tetapi kita tidak berada di hadapan suatu hakikat.
Lalu, bagaimana hakikat sakitnya Nabi Ayyub
A.s dan bagaimana kisahnya?
Yang populer tentang cobaan Nabi Ayyub A.s
dan kesabarannya adalah riwayat berikut: para malaikat di bumi berbicara sesama
mereka tentang manusia dan sejauh mana ibadah mereka. Salah seorang di antara
mereka berkata: “Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada
Nabi Ayyub A.s. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin
yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah Swt
dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya.” Setan
mendengarkan apa yang dikatakan lalu ia merasa terganggu dengan hal itu.
Kemudian ia pergi menuju ke Nabi Ayyub A.s dalam rangka berusaha menggodanya
tetapi Nabi Ayyub A.s adalah seorang Nabi dimana hatinya dipenuhi dengan
ketulusan dan cinta kepada Allah Swt setan tidak mungkin mendapatkan jalan
untuk mengganggunya.
Ketika setan berputus asa dari mengganggu
Nabi Ayyub A.s, ia berkata kepada Allah Swt: “Ya Rabbi, hamba-Mu Ayub sedang
menyembah-Mu dan menyucikan-Mu namun, ia menyembah-Mu bukan karena cinta, tapi
ia menyembah-Mu karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembah-Mu
sebagai balasan kepada-Mu karena Engkau telah memberinya harta dan anak dan
Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga
hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang
Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau
apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh karena itu, ibadahnya
dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa
takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni karena cinta.”
Riwayat tersebut mengatakan bahwa Allah Swt
berkata kepada iblis: “Sesungguhnya Ayub adalah hamba yang mukmin dan sejati
imannya. Nabi Ayyub A.s menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku
membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau
inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan.”
Sabtu, 03 Mei 2014
Nabi-Nabi Yang Diutus Pada Kaum Yasin
Allah Swt berfirman:
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri
ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada
mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami
kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata:
‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.’ Mereka menjawab:
‘Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah
tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.’
Mereka berkata: ‘Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah
orang yang diutus kepada kamu.
Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu,
sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam
kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.’
Utusan-utusan itu berkata: ‘Kemalangan kamu itu adalah karena kamu
sendiri.
Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya
kamu adalah kaum yang melampaui batas. “ (QS.
Yasin: 13-19)
Allah Swt menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut
nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur’an menyebutkan bahwa kaum yang didatangi
tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahwa tiga nabi itu
sebagai utusan Allah Swt.
Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata
bahwa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu
dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih.
Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan
yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri.
Al-Qur’an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan
bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur’an adalah urusan
seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang
beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang
besar yang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan
dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk
menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia
dibunuh oleh orang-orang kafir.
Allah Swt berfirman:
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar)
dengan bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu,
ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk.
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang
hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha
Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak
memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah (pula) dapat
menyelamatkanku?
Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maha dengarkanlah (pengakuan
keimanan)ku.’” (QS. Yasin: 20-25)
Konteks Al-Qur’an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses
pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan
nafas terakhirnya sehingga Allah Swt mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan:
Selasa, 15 April 2014
Kisah Nabi Yunus A.s
Beliau adalah Nabi yang mulia yang bemama
Yunus bin Mata. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Janganlah kalian
membanding-bandingkan aku atas Yunus bin Mata.”
Mereka menamakannya Yunus, Dzun Nun, dan
Yunan. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah Swt kepada
kaumnya. Beliau menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan
kebaikan; beliau mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan
menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan surga;
beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah
kepada Allah Swt.
Nabi Yunus A.s senantiasa menasehati kaumnya
namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Datanglah suatu hari
kepada Nabi Yunus A.s dimana beliau merasakan keputus asaan dari kaumnya.
Hatinya dipenuhi dengan perasaan marah pada mereka namun mereka tidak beriman.
Kemudian beliau keluar dalam keadaan marah dan menetapkan untuk meninggalkan
mereka. Allah Swt menceritakan hal itu dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus),
ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat
gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim.’” (QS. al-Anbiya’: 87)
Tidak ada seorang pun yang mengetahui gejolak
perasaan dalam diri Nabi Yunus A.s selain Allah Swt. Nabi Yunus A.s tampak
terpukul dan marah pada kaumnya. Dalam keadaan demikian, beliau meninggalkan
kaumnya. Beliau pergi ke tepi laut dan menaiki perahu yang dapat memindahkannya
ke tempat yang lain. Allah Swt belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk
meninggalkan kaumnya atau bersikap putus asa dari kaumnya. Yunus A.s mengira
bahwa Allah Swt tidak mungkin menurunkan hukuman kepadanya karena ia
meninggalkan kaumnya. Saat itu Nabi Yunus A.s seakan-akan lupa bahwa seorang
nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah Swt. Namun keberhasilan
atau tidak keberhasilan dakwah tidak menjadi tanggung jawabnya. Jadi, tugasnya
hanya berdakwah di jalan Allah Swt dan menyerahkan sepenuhnya masalah
keberhasilan atau ketidak berhasilannya terhadap Allah Swt semata.
Terdapat perahu yang berlabuh di pelabuhan
kecil. Saat itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan
memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus A.s melihat ikan kecil sedang berusaha untuk
melawan ombak namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan. Tiba-tiba datanglah
ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan
batu. Melihat kejadian ini, Nabi Yunus A.s merasakan kesedihan. Nabi Yunus A.s
berkata dalam dirinya: “Seandainya ikan itu bersama ikan yang besar barangkali
ia akan selamat.”
Kemudian Nabi Yunus A.s mengingat-ingat
kembali keadaannya dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya,
kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.
Nabi Yunus A.s pun menaiki perahu dalam
keadaan guncang jiwanya. Beliau tidak mengetahui bahwa beliau lari dari
ketentuan Allah Swt menuju ketentuan Allah Swt yang lain; beliau tidak membawa
makanan dan juga kantong yang berisi bawaan atau perbekalan, dan tidak ada
seorang pun dari teman-temannya yang menemaninya; beliau benar-benar sendirian;
beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan perahu.
Selasa, 25 Maret 2014
Kisah Kesabaran Nabi Dzulkifli A.s
Dialah seorang nabi yang tidak dijelaskan
secara gamblang tentang zaman kenabiannya dan di kaum apa beliau berdakwah.
Semua cerita tentang Nabi Dzulkifli A.s hanya sebatas pendapat-pendapat, tidak
berdasar dalil yang Qoth’i.
Allah Swt telah mencatat beliau A.s sebagai
jajaran orang-orang yang sabar dan menjadi hamba pilihan.
Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan
Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anbiya’ [21]:85)
Dan ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Yasa’, dan
Nabi Dzulkifli, semuanya termasuk orang-orang pilihan. (QS. Shad [38]: 48)
Dzulkifli adalah julukan untuk beliau. Nama
beliau sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Sebab musabbanya juga beragam .الْكِفْلِ itu maknanya menjamin tanggungan.
Telah terjadi silang pendapat tentang di masa apa Nabi Dzulkifli A.s hidup.
Pendapat yang pertama menyatakan bahwa Nabi Dzulkifli A.s adalah anak Nabi
Ayyub A.s yang mana nama lengkapnya adalah Bisyr bin Ayyub. Beliau berdakwah di
daerah Syam. Pendapat ini mengatakan bahwa Nabi Dzulkifli A.s adalah seorang
nabi bukan dari kalangan Bani Israiil.
Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa Nabi
Dzulkifli A.s adalah seorang nabi dari kalangan Bani Israiil. Beliau hidup di
masa Nabi Yasa’ A.s, seorang nabi yang hidup setelah Nabi Ilyas A.s. Alasan
mereka, karena ada riwayat yang disebutkan dengan jelas perihal nama Nabi Yasa’
A.s sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalan Mujahid.
Dan Ibnu Katsir menukilnya dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’
217 dan beliau tidak berkomentar tentang derajat kisah ini.
Mujahid berkata: Ketika Nabi Yasa’ A.s telah
berusia tua, beliau ingin memberikan mandat kepada seseorang untuk mengurusi
kaumnya saat dirinya masih hidup agar dia tahu bagaimana cara kerjanya. Maka
Nabi Yasa’ A.s mengumumkan pada kaumnya, “Siapa yang bisa menerima tiga
kewajiban dariku, yaitu berpuasa di siang hari, sholat tahajjud di malam hari,
dan sekali-kali tidak akan marah, maka aku berikan mandat padanya.”
Maka majulah seorang laki-laki yang rendahan
di antara mereka, sambil menjawab, “Saya.”
Nabi Yasa’ A.s bertanya, “Apakah engkau
sanggup?”
Ia menjawab, “Ya.”
Maka sejak saat itulah Nabi Dzulkifli A.s
diberikan mandat untuk menggantikan tugas nabi tersebut untuk memutuskan segala
urusan pada kaumnya waktu itu. Beliau terbukti mampu menunaikan tugasnya dan
sanggup melaksanakan tiga kewajiban yang dibebankan padanya.
Sejak saat itu, setan ingin menggodanya.
Setan menjelma sebagai seorang yang tua renta lagi kelihatan miskin. Sesuatu
yang sudah menjadi kebiasaan Nabi Dzulkifli A.s karena terlalu sibuknya dalam
kesehariannya beliau tidak ada waktu untuk tidur kecuali sesaat di waktu siang.
Maka datanglah setan yang menjelma sebagai lelaki tua itu ketika Nabi Dzulkifli
A.s hendak tidur siang. Tujuannya adalah agar Nabi Dzulkifli A.s menjadi marah
karenanya.
Mula-mula lelaki tua itu mengetuk pintu rumah
Nabi Dzulkifli A.s, padahal beliau sudah berbaring untuk istirahat. Begitu
pintu diketuk, menyahutlah Nabi Dzulkifli A.s dari dalam, “Siapa ?!”
“Saya lelaki tua yang teraniaya,” jawab
lelaki tua itu.
Setelah pintu terbuka, mengadulah lelaki tua
itu pada Nabi Dzulkifli A.s. Dia berkata, “Saya seorang tua yang teraniaya.
Telah terjadi pertikaian antara diriku dan kaumku, lalu mereka berbuat dzalim
kepadaku dan mereka juga berbuat begini dan begitu.”
Lelaki itu terus bercerita dan menambah
ceritanya hingga datanglah waktu sore. Hingga pada akhirnya, hilanglah
kesempatan tidur siang Nabi Dzulkifli A.s. Beliau berkata, “Wahai tuan,
hendaklah engkau datang di majelisku sore ini. Nanti akan aku selesaikan hakmu
dari kaummu.”
Jumat, 17 Januari 2014
Istri Nabi Sulaiman a.s
Pernikahan Nabi
Sulaiman dengan Ratu Bulqis
Berawal dari sang
Ayah,
Nabi Daud yang
konon sudah memiliki 99 isteri.
Satu waktu, beliau jatuh cinta lagi pada isteri seorang
prajurit. Beberapa
saat kemudian, di saat ia memasuki istananya, Entah
darimana datangnya, 2 orang sedang berseteru.
Nabi Daud
bertanya, “Wahai,
ada apakah ini ? Mengapakah engkau bertengkar dengan saudaramu ?”
“Saudara saya ini
punya 99 kambing Ya nabi, sedangkan aku cuma memiliki 1 kambing saja. Tapi
milikku yang satu ini mau diminta pula”
Nabi Daud
menjawab, “Apa
yang engkau lakukan sungguh hina. Bukankah engkau sudah memiliki 99 kambing.
Mengapa milik saudaramu sendiri yang cuma 1 itu engkau minta pula ?”
Salah seorang dari
mereka menjawab, “lalu
mengapakah engkau masih mengharap isteri orang Nabi ? Sementara engkau sudah
memiliki 99 isteri ?”
Tahulah Nabi Daud
bahwa mereka adalah malaikat yang diutus Allah. Berhari-hari,
Nabi Dawud tobat, memohon ampun pada Allah. Satu
ketika, Karena
musibah, Suami
dari wanita yang dicintai Daud tersebut wafat. Cinta
Daud padanya belumlah pupus.
Maka setelah tiba waktu yang tepat, Daud
meminangnya. Sang
Wanita bersedia asal dengan beberapa syarat.
Yang pertama, Bahwa
anak mereka haruslah laki-laki.
Yang kedua, Anak
mereka memiliki kekuasaan di dunia ini yang tidak ada bandingnya baik untuk
manusia jaman dulu maupun manusia jaman mendatang.
Dan yang ketiga, tidak
ada yang mengalahkan kekayaannya baik bagi manusia jaman dulu maupun bagi
manusia jaman mendatang.
Setelah memohon
berbulan-bulan, barulah kemudian Allah
mengabulkan do’a Nabi Daud atas permintaan calon isterinya itu. Begitulah, Nabi
Sulaiman kekuasaannya tidak ada yang menandingi. Meliputi
manusia, hewan dan jin.
Kekayaannya juga tak ada yang menandingi. Legendanya, Istana
Sulaiman berlapis berlian dan emas serta batu-batu berharga lainnya.
Alkisah, Di
dalam dakwahnya, Nabi
Sulaiman mendengar bahwa di satu negri yang bernama Saba’, Hiduplah
seorang putri yang cantik jelita, terkenal atas kecerdikannya dan ia adalah
Ratu pemimpin negri itu.
Konon ibunya adalah Putri Raja Jin dan ayahnya adalah
Raja di sebuah negara manusia.
Nabi Sulaiman mengirim surat kepada Ratu itu, “Bismillahirrohmanirrohim”
“Ala ta’lu alaya
wa’tuni muslimin”
“Aku Nabi utusan
Allah, janganlah
engkau menyembah matahari, melainkan sembahlah Allah yang
Maha Kaya dan Maha pencipta. Kekuasaannya meliputi seluruh makhluk”
Sang Ratu Bulqis
tidak gegabah dalam menanggapi surat dari Raja Sulaiman. Ia juga sudah
mendengar kekuasaan Nabi Sulaiman meliputi semuanya. Hewan dan jin pun tunduk
padanya. Kekayaan kerajaannya mungkin tak ada bandingnya.
Ia memanggil para
menterinya, mengajak mereka meeting.
“Para menteriku,
ada Surat dari Raja Sulaiman. Ia tidak memaksa dan tidak mengancam kita. Ia meminta
kita menyembah pada Tuhan Allah.
Tetapi kita tahu, seandainya kita menolak, segala kemungkinan juga bisa
terjadi. Kekuatan perang kerajaan kita tak ada artinya dibanding kekuatan
perang kerajaan Sulaiman. Kekuasaan kita tak ada artinya dibandingkan dengan
kekuasaan Sulaiman.”
Para menteri
saling mengeluarkan pendapat mereka.
Dari sisi sosial
mereka sampaikan,
Dari sisi budaya
mereka sampaikan,
Dari sisi militer
mereka sampaikan,
Dari sisi
keyakinan mereka sampaikan,
Dari sisi politik
mereka sampaikan,
Dari sisi ekonomi
mereka sampaikan,
Akhirnya, Ratu
Bulqis sendiri menyampaikan pendapatnya, Dari sisi
kebenaran,
“Begini, akan kita
lihat. Akan kukirimkan harta yang berlimpah-limpah kepada Raja Sulaiman. Kalau
dia memang seorang utusan Tuhan, dia tidak akan mau menerimanya. Kalau dia
seorang raja biasa, tentulah kiriman harta kita akan dianggap upeti dan akan
diterimanya. Tidak itu saja, kita akan uji. Pembawa kekayaan yang berlimpah itu
akan kita iringi dengan beberapa wanita dan pemuda yang cara pakaian mereka
cara berjalan mereka dan semuanya kita didik, tetapi kita ubah. Yang laki-laki
berpakaian wanita, yang wanita berpakaian laki-laki. Kalau dia memang seorang
Nabi, tentulah tahu mana yang laki-laki sebenarnya dan mana yang bukan”.
Kalau memang Raja
Sulaiman itu seorang Nabi, maka sungguh celaka kalau kita tidak mau
mengikutinya. Tapi kalau ia seorang raja biasa, akan kita perangi”
Para menteri semua
setuju, sepakat.
Kamis, 09 Januari 2014
99 Istri Nabi Sulaiman A.s & Keutamaan Lafadz “Insya Allah”
Nabi
Muhammad Saw menyampaikan kepada kita bahwa Nabiyullah Sulaiman A.s bersumpah
untuk menggauli (99) sembilan puluh sembilan isterinya. Masing-masing isteri
melahirkan seorang penunggang kuda untuk berjihad fi sabilillah. Tetapi tidak
ada yang melahirkan kecuali (1) satu isteri. Dan itupun hanya setengah manusia,
karena dia tidak berucap “Insya Allah”.
Bukhari
dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad
Saw beliau bersabda (berkata),
“Demi
Allah, aku akan berkeliling malam ini kepada (70) tujuh puluh isteri,
masing-masing isteri melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad fi
sabilillah.”
Temannya
berkata kepadanya, ” Insya Allah.”
Tetapi
Sulaiman tidak mengucapkannya, maka tidak seorang pun yang melahirkan kecuali
seorang saja melahirkan bayi yang jatuh salah satu sisinya. ”
Nabi
Muhammad Saw bersabda :
“ Jika
Sulaiman mengucapkan, niscaya mereka berjihad fi sabilillah. ”
Syuaib
dan Ibnu Abiz Zinad berkata, “ Sembilan puluh. ” Dan ini Lebih Shahih. Lafadznya
adalah lafadz Bukhari. Hadis ini disebutkan oleh Bukhari dalam Kitabul Jihad
dengan lafadz,
“ Demi
Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada (100) seratus isteri atau (99)
sembilan puluh sembilan isteri. ”
Dalam
Kitabun Nikah dengan lafadz, “ Sulaiman bin Dawud berkata :
“Demi
Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada (100) seratus wanita, setiap
wanita melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah Swt.”
Malaikat
berkata kepadanya : “Katakanlah, ‘ Insya Allah”.
Tetapi
Sulaiman tidak mengatakannya. Dia lupa. Dia berkeliling, tapi tidak ada isteri
yang melahirkan kecuali seorang isteri yang melahirkan setengah manusia. ”
Nabi
Muhammad bersabda :
“
Seandainya Sulaiman berkata, ‘Insya Allah’ niscaya dia tidak mengingkari
sumpahnya dan keinginannya lebih mungkin untuk tercapai. ”
Hadis
ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab firman Allah
Swt, “ Dan Kami berikan Sulaiman kepada Dawud. ” (Shad: 30). (6/458 no.
3424).
Dalam
Kitabul Jihad, bab mencari anak untuk jihad, 6/34 no. 2819, dalam Kitabun
Nikah, bab ucapan seorang suami, ‘Aku akan berkeliling kepada
isteri-isteriku.’(9/239 no. 5242).
Dalam
Kitabul Aiman wan Nudzur, bab bagaimana sumpah Nabi, 11/524, no. 6639.
Dalam
Kitab Kaffaratul Aiman, bab pengecualian dalam sumpah, 11/602.
Dalam
Kitabut Tauhid, bab keinginan dan kehendak, 13/446, no. 7469.
Hadis
ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Aiman bab
pengecualian dalam sumpah, 3/1275, no. 1654. Hadis ini dalam Syarah Muslim
An-Nawawi, 11/282.
Sulaiman
A.s adalah salah seorang Nabiyullah yang shalih dan raja yang Mujahid.
Allah Swt memberinya kerajaan yang besar. Allah Swt menundukkan manusia, jin,
burung, dan angin untuknya. Barang siapa membaca paparan Al-Qur’an tentang
hidupnya, maka dia mengetahui bahwa Sulaiman gemar berjihad fi sabilillah,
memperhatikan bala tentaranya, cermat meneliti mereka dan perlengkapan mereka.
Dan jika perhatian seseorang tertuju pada suatu perkara, maka dia akan
menghabiskan umurnya dalam rangka meraih sesuatu itu, mengembangkan, dan
menegakkannya diantara manusia.
Sulaiman
A.s benar-benar menggemari jihad, memperhatikan, dan menyiapkan pasukannya. Hal
ini ditunjukkan oleh firman Allah Swt, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman
tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib
(dalam barisan).” (An-Naml: 17).
Selasa, 03 Desember 2013
Kisah Nabi Uzair A.s
Nabi Uzair A.s adalah seorang hamba Allah Swt
yang hidup pada jaman antara Nabi Shaleh A.s dan Nabi Ibrahim A.s, yaitu
sekitar 5000 sampai dengan 4000 tahun sebelum masa Nabi Isa A.s.
Nabi Uzair A.s adalah seorang Nabi dan Rasul utusan
Allah Swt, satu diantara 313 Rasul utusan Allah Swt.
Dari segi bahasa, kata UZAIR berasal dari
kata AZARO, yang artinya “mengkoreksi”, yaitu mengkoreksi kebenaran dengan
kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan menjadi suatu
kebenaran yang semestinya.
Nabi Uzair A.s adalah seorang lelaki
yang amat sholeh dan Hafidz kitab Taurat. Beliau dikatakan memahami setiap isi
kandungan Taurat. Beliau menjadi rujukan setiap masyarakat Yahudi pada
zamannya.
Dari Uzair A.s ini, Allah Swt telah memperlihatkan
kebesaran-Nya dengan membangkitkannya dari kematian dan kembali kepada
masyarakat untuk menyelamatkan isi Taurat.
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang
yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia
berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka
Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.
Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu
tinggal di sini?”
Ia menjawab: “Saya (Uzair A.s) tinggal di
sini sehari atau setengah hari.”
Allah berfirman: “Sebenarnya kamu (Uzair A.s)
telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan
minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah
menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu (Uzair A.s) tanda kekuasaan
Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian
Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana
Allah Swt menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya (Uzair A.s) yakin
bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Surah al-Baqarah ayat 259)
Suatu saat Nabi Uzair A.s berjalan-jalan
dengan keledainya, sehingga sampai ke suatu wilayah yang sunyi dan yang telah hancur
semua bangunannya, yang sangat gersang dan tidak ada satupun tanamannnya yang
hidup. Wilayah itu kira-kira berada di daerah Mesir yang berbatasan
dengan negeri Palestina.
Beliau kemudian, turun dari keledainya dan
bersujud kepada Allah Swt, dengan berkata “Bagaimana Allah menghidupkan kembali
negeri ini setelah hancur?.
Mendengar perkataan beliau itu, kemudian
Allah Swt menidurkan atau mematikan beliau dan memanggilnya untuk pindah ke
alam bathiniyah selama 100 tahun. Dalam tidur/matinya itu, beliau berkumpul
dengan para nabi terdahulu dan melalui beliau-beliau itu, Allah Swt mengajarkan
berbagai ilmu kepada beliau, terutama ilmu pengelolaan negara.
Setelah 100 tahun tertidur itu, Allah Swt
membangunkan atau menghidupkan kembali beliau dengan jasadnya sebagaimana
semula saat mulai tertidur. Kemudian Allah Swt bertanya kepada beliau: “Berapa
lama kamu tinggal di sini?”
Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini
sehari atau setengah hari”.
Allah Swt berfirman: “Sebenarnya kamu telah
tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu
yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi
tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia;
dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya
kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”.
Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana
Allah menghidupkan yang telah mati) beliau pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS 2 Al Baqarah 259).
Setelah bangun/hidup kembalinya Nabi
Uzair A.s dari tidur/kematiannya itu, beliau mengelola wilayah itu, dari
kehancuran, kegersangan, kesunyian tanpa kehidupan sampai menjadi suatu wilayah
dengan masyarakat yang beriman kepada Allah Swt yang aman dan sejahtera. Beliau
mengelola wilayah itu selama 75 tahun. Tersebarlah keadaan beliau dan wilayah
itu ke semua penjuru bumi hingga ke kerajaan Namrudz (jaman sebelum kelahiran
Nabi Ibrahim A.s). Kemudian tentara kerajaan Namrudz itu menyerang wilayah itu,
sehingga akhirnya beliau dipindahkan dan diangkat oleh Allah Swt ke alam
bathiniyah, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Isa A.s.
Minggu, 17 November 2013
Kisah Nabi Yasa’ A.s
Al-Yasa’ A.s adalah Nabi selanjutnya untuk
bangsa Israel. Dia menghadapi sikap penyangkalan Raja dan Ratu Israel terhadap
agama sepeninggal Ilyas A.s. Al-Yasa’ A.s menunjukkan banyak mukjizat untuk
menunjukkan kekuasaan Allah Swt, tapi mereka malah menyebutnya tukang sihir,
sama seperti ketika mereka menyebut Nabi Ilyas A.s sebelumnya. Mereka terus
membangkang sepanjang hidup Al-Yasa’ A.s. Setelah beberapa lama, bangsa Israel
ditaklukkan oleh Bangsa Assyria. Bangsa Assyria menghancurkan Kuil Gunung dan
menyebabkan kerusakan parah di Israel.
Nama Al-Yasa A.s disebut dalam kisah Nabi
Ilyas A.s, saat rasul itu dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah
Al-Yasa A.s. Maka besar kemungkinan Al-Yasa A.s juga tinggal di seputar
lembah sungai Jordan.
Ketika Ilyas A.s bersembunyi di rumahnya,
Al-Yasa A.s masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit kemudian
Ilyas A.s membantu menyembuhkan penyakitnya. Setelah sembuh, Al-Yasa A.s pun
menjadi anak angkat Ilyas A.s yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan
kebaikan. Al-Yasa A.s melanjutkan tugas kenabian tersebut begitu Ilyas A.s
meninggal. Al-Yasa A.s melanjutkan misi ayah angkatnya, agar kaumnya kembali
taat kepada ajaran Allah Swt.
Al-Yasa’ A.s kemudian mendapati bahwa manusia
ternyata begitu mudah kembali ke jalan sesat. Itu terjadi tak lama setelah
Ilyas A.s wafat. Padahal masyarakat lembah sungai Yordania itu sempat mengikuti
seruan Ilyas A.s agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan
itulah Ilyasa A.s tak lelah menyeru ke jalan kebaikan. Dikisahkan bahwa mereka
tetap tak mau mendengar seruan Al-Yasa’ A.s, dan mereka kembali menanggung
bencana kekeringan yang luar biasa.
Nabi Yasa’ A.s termasuk salah satu nabi yang
diutus oleh Allah Swt Allah Swt menyebut namanya dan memujinya tetapi Dia tidak
menceritakan kisahnya. Allah Swt berfirman dalam surah Shad:
“Dan inilah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak,
dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.
Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada
mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri
akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk
orang-orang pilihan yang baik. Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkilfi.
Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Shad: 45-48)
Pendapat yang utama menyatakan bahawa Nabi
Yasa’ A.s adalah Yasa’ yang disebutkan dalam Taurat, sementara Injil Barnabas
menceritakan bahwa beliau mampu menghidupkan orang yang gila. Ini adalah
mukzijat beliau.
Langganan:
Postingan (Atom)