Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Tampilkan postingan dengan label Ragam Kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam Kontroversi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Tiga “Bid’ah” Umar bin Al-Khaththab

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi.
Beliau mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan:
- Ada yang melakukan qiyam sendirian,
- Ada yang melakukannya berduaan,
- Ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.
Melihat keadaan yang demikian, maka amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu lalu menginstruksikan tiga hal:

1.      Agar semua yang melakukan qiyam dalam banyak jamaah itu disatukan dalam satu jamaah dengan satu imam, dan ditunjuklah Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu sebagai imam, sebab beliaulah yang telah mendapatkan licence dari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  sebagai Aqraukum, umat nabi yang paling bagus Qur’annya.
2.      Memajukan waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana biasanya, dilakukan setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang terakhir.
3.      Memperpendek tempo waktu pada setiap rakaatnya, di mana pada sebelumnya, tempo waktu rakaat sangat lama, atau istilahnya: “jangan tanyakan lama dan bagusnya”, karena memang luaaaamma dan buaaaaaagus.

Sebagai kompensasi atas “pemendekan” tempo waktu rakaat, maka jumlah rakaat-nya diperbanyak.

Terkait dengan 3 hal ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.

Jumat, 31 Oktober 2014

Waspadai Kesesatan Dalam Menghadapi Sakratul Maut

Berbagai kepercayaan yang muncul sehubungan dengan sakratul maut, di antaranya ada yang percaya bahwa yang datang adalah sosok orang tua yang telah mati, sosok guru bagi yang bertariqat, bahkan lebih dari itu ada yang percaya akan dijemput langsung oleh Allah dalam wujud yang berbeda-beda. Ada yang percaya dalam rupa diri kita sendiri yang berpayung emas, ada yang percaya dalam wujud cahaya besar tinggi seperti batang kelapa, dan lain-lain. Di antara yang percaya seperti ada yang menuntut dan mengamalkan ilmu yang bisa menyelamatkan kita dari beratnya sakratul maut, agar tidak diganggu oleh setan dan agar meninggalkan dunia ini dengan selamat di antaranya sahadat batin dan junub.

Sahadat batin dipercaya sebagai janji kepada Nabi Muhammad SAW berupa bunyi tertentu di leher ketika sakratul maut. Orang yang mendapat dan mengamalkan ilmu ini tidak perlu mengucapkan lailaha illallah atau dua kalimat sahadat tetapi diganti dengan bunyi tersebut. Guru tariqatnya mengajarkan bahwa bunyi itu adalah sahadat yang asli (sahadatnya sahadat) sedangkan sahadat yang diucapkan itu hanyalah sebuah kalimat (tidak asli). Barang siapa yang akhir hidupnya berhasil membunyikan sahadat itu maka akan selamat dan hidup bersama Nabi Muhammad.

Begitupun halnya junub yang dipercaya sebagai janji kita dengan surga, yaitu berupa orgasme (keluar mati) ketika sakratul maut. Mereka percaya bahwa orang yang orgasme ketika sakratul maut akan selamat dan dijamin masuk surga karena itu sudah menjadi perjanjian dengan surga. Mereka beranggapan bahwa karena mereka diciptakan melalui orgasme (pancaran mani) maka ia harus tutup hidup ini dengan orgasme pula.

Benarkah semua anggapan di atas...???

Allah dan Rasul-Nya telah memberikan keterangan yang jelas tentang sakratul maut. Kematian itu diawali dengan sakratul maut, sebagaimna, firman Allah “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang selalu kamu lari dari padanya “(QS. Qaaf : 19 ).

Sakratul maut adalah roh meninggalkan jazad perlahan-lahan melewati kerongkongan, “(apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kekorongkongan dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perjalanan (dengan dunia) “(QS. AL Qiyaamah : 26 dan 28).

Menurut Al Quran, bahwa “ Apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami dan malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu, tetapi kamu tidak melihat” ( QS. Al Waaqiah : 83-85)

Malaikat maut itu akan menampakkan dirinya di hadapan orang yang dijemputnya dengan sosok /rupa yang disesuaikan dengan keadaan roh/amal orang itu. Orang yang beramal baik akan didatangi oleh malaikat lemah lembut atau berpenampilan yang baik sedangkan orang yang banyak berdosa akan di datangi oleh malaikat yang berpenampilan dan berperilaku yang kasar. (QS An Naa’ziaat : 1-2).

Hal ini diterangkan pula pada ayat lain bahwa “orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan “salamun alaikum” masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan “(QS. An Naml : 32), atau malaikat itu datang dengan mengatakan “hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoinya “( QS. Al Fajr : 27). Orang yang banyak dosa akan didatangi oleh malaikat dengan sosok yang menakutkan, kasar dan tanpa mengucapkan salam kepada orang yang akan mati.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Waspada : Penyataan Allah Bersemayan Di Atas Arsy-Nya

Imam Abu Hanifah (w 150 H) Berkeyakinan "Allah Ada Tanpa Tempat", Tidak Seperti Keyakinan Kaum Wahhabiyyah.. Awas Terkecoh!!

Suatu ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna "Istawa", beliau menjawab: “Barang siapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya” (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).

Di sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini banyak membuat kontroversi dan melakukan kedustaan persis seperti yang biasa dilakukan gurunya sendiri. Di antaranya, kedustaan yang ia sandarkan kepada al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan sebagai berikut:

“Demikian telah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari pernyataan Al-Imam Abu Hanifah...
bahwa orang yang tidak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di atas langit serta di atas segala tempat, ...
Demikian pula orang yang tidak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, --di mana perkara tersebut tidak tersembunyi dari setiap getaran hati manusia--,...
Maka itulah orang yang tidak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan yang telah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri; Ibn Taimiyah).

Inilah pernyataan yang telah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu Hanifah), di mana kitab tersebut telah memiliki banyak penjelasannya”.

Jumat, 05 September 2014

Tanda Akhir Jaman - Munculnya Terroris (Ashabu Rayati Suud)

Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.

Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusnya Al-Mahdi ke muka bumi.

Diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ’’Dunia akan dipimpin oleh seseorang dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia ini hanya tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, sehingga ia  (Al-Mahdi) akan memimpinnya.’’

Banyak orang berpikir, jika Al-Mahdi datang maka dunia akan tentram dalam sekejap, ia akan mencapai itu dengan dakwah, dan banyak orang ingin menjadi pasukan Al-Mahdi. Namun anggapan tersebut keliru, karena kejayaan Al-Mahdi diperoleh dengan perang, pengikut imam mahdi adalah kelompok-kelompok militan yang berjihad fi sabillillah. Dan kelompok tersebut akan muncul untuk memudahkan kekuasaan Al-Mahdi, kelompok itulah yang di juluki Thaifah Manshurah.

Selasa, 17 Juni 2014

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 143-146

Ayat ke 143, Artinya:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (7: 143)

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Allah Swt telah memerintahkan kepada Nabi Musa as agar pergi ke sebuah miqat (tempat pertemuan) yang terletak di bukit Thur untuk bermunajat kepada-Nya selama 40 hari, guna memperoleh kitab suci Taurat. Ayat ini menceritakan saat-saat ketika Musa as telah tiba di miqat dan berbicara dengan Tuhannya. Salah satu permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa adalah melihat Tuhan dengan mata mereka. Karena itu Nabi Musa as menyampaikan permintaan kaumnya ini kepada Tuhan dengan mengatakan, "Ya Allah, tunjukkanlah diri-Mu  kepadaku, sehingga aku dapat melihat-Mu dengan kedua mataku, dan akupun akan dapat mengatakan kepada kaumku bahwa aku telah melihat Tuhanku."

Kemudian terdengar jawaban, "Wahai Musa! Engkau tidak akan bisa melihat-Ku, karena Aku bukanlah Zat yang bisa dilihat dengan mata kasar, namun Aku tetap bisa kalian saksikan melalui sifat kekuasaan dan keagungan-Ku. Karena itu lihatlah gunung ini bagaimana ia hancur berantakan dengan kehendak-Ku." Kejadian itu sedemikian dahsyatnya, sehingga Nabi Musa as pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Sewaktu beliau sadar kembali, Nabi Musa as berkata, "Ya Allah, Ya Tuhanku! Aku adalah orang pertama yang menyaksikan kekuasaan, kedahsyatan dan kebesaran-Mu, karena itu aku mohon ampun atas permintaanku yang tidak pada tempatnya itu. Engkau Sungguh Maha Suci dari segala pandangan mata."

Imam Ali bin Abi Thalib suatu hari ditanya oleh seseorang, "Apakah engkau melihat Tuhan sehingga kau beribadah sedemikian tekun dan khusyuk kepada-Nya?"
Imam Ali as menjawab, "Aku tidak akan menjadi hamba dari Tuhan yang tidak bisa aku lihat, namun bukan Tuhan bisa dilihat dengan mata kepala, akan tetapi Tuhan yang dapat dirasakan dengan mata hati." Dilain kesempatan Imam Ali as juga mengatakan, "Aku tidak pernah melihat sesuatupun kecuali sebelum dan sesudahnya, senantiasa bersama Tuhan."

Dalam al-Quran al-Karim surat al-An'am ayat 103 dengan tegas disebutkan artinya, "Semua mata tidak akan bisa menyaksikan Dia, akan tetapi Dia bisa melihat semua mata makhluk-Nya."

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Guna mengenal Allah Swt, kita harus memperhatikan berbagai segala ciptaan dan makhluk yang di alam semesta ini. Karena segala sesuatu di alam merupakan manifestasi dari perwujudan dan keagungan Allah Swt.
2. Segala bentuk pemikiran atau permohonan yang tidak pada tempatnya harus ditebus dengan taubat. Karena itu, ketika manusia memiliki segala bentuk keraguan yang batil dan tidak pada proporsinya terhadap Tuhan Pencipta alam semesta, maka dia harus bertaubat.

Minggu, 15 Juni 2014

Tafsir Al-Qur’an : Melihat Wujud Allah SWT (QS. Al-A’raaf : 143)

Ahlus-Sunnah menyatakan bahwa Allah ta’ala kelak akan dilihat oleh orang-orang beriman di akhirat. Namun bagaimana dengan ayat :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" [QS. Al-A’raaf : 143].

Sudah lazim dalam bahasa Arab bahwa huruf lan (لَنْ) itu menunjukkan makna ‘tidak untuk selama-lamanya (ta’biid)’.

Penggunaan ayat di tersebut untuk menafikkan kemungkinan dapat dilihatnya Allah kelak di akhirat merupakan salah satu hujjah primer yang dibawakan Mu’tazilah untuk menentang Ahlus-Sunnah.

Namun hujjah itu baathil dalam beberapa segi sebagai berikut :
a.     Perhatikan firman Allah ta’ala berikut :

وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Dan sekali-kali mereka (orang Yahudi) tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya” [QS. Al-Baqarah : 95].

Namun dalam ayat lain, Allah ta’ala menjelaskan bahwa orang Yahudi dan juga umumnya orang-orang kafir berharap kematian datang kepada mereka saat menghadapi adzab akhirat :

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

“Mereka berseru: "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)" [QS. Az-Zukhruuf : 77].

b.     Seandainya huruf lan (لَنْ) menunjukkan penafikkan selama-lamanya secara mutlak, niscaya ia tidak menerima adanya pembatasan. Namun dalam beberapa nash, disebutkan beberapa pembatasan, di antaranya firman Allah ta’ala :

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini" [QS. Maryam : 26].

قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الأرْضَحَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

“Berkatalah yang tertua di antara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya" [QS. Yuusuf: 80].

c.   Beberapa pakar bahasa Arab mengelirukan pernyataan Mu’tazilah bahwa huruf lan (لَنْ) menunjukkan penafikkan selama-lamanya, atau menguatkan penafikkan.

Minggu, 25 Mei 2014

Hadits : “Seandainya Setelahku Ada Nabi,……”

Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ

Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami Al-Muqri’, dari Haiwah bin Syuraih, dari Bakr bin ‘Amru, dari Misyrah bin Haa’aan, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya setelahku ada nabi, niscaya ia adalah ‘Umar bin Al-Khattaab” [As-Sunan, no. 3686].

Keterangan :

1.      Salamah bin Syabiib An-Naisaabuuriy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Hajuriy Al-Masma’iy; seorang yang tsiqah (w. 247 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 400 no. 2507].
2.      Al-Muqri’ namanya : ‘Abdullah bin Yaziid Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy Al-Makkiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Muqri’ Al-Qashiir; seorang yang tsiqah lagi mempunyai keutamaan (w. 213 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 558-559 no. 3739].
3.      Haiwah bin Syuraih bin Shafwaan bin Maalik At-Tujiibiy, Abu Zur’ah Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih, lagi zaahid (w. 158/159 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 282 no. 1610].
4.      Bakr bin ‘Amru Al-Ma’aafiriy Al-Mishriy; seorang yang shaduuq lagi ‘aabid (w. setelah 140 H pada masa pemerintahan Abu Ja’far). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 176 no. 753].
5.      Misyrah bin Haa’aan Al-Ma’aafiriy, Abu Mush’ab Al-Mishriy; seorang yang dihukumi Ibnu Hajar maqbuul, yaitu jika ada mutaba’ah (namun jika tidak ada, maka lemah) (w. 128 H) [idem, hal. 944-945 no. 6724].

Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
Ahmad bin Hanbal berkata : “Ma’ruuf”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tsiqah”. ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy berkata : “Shaduuq”. Al-‘Ijliy berkata : “Taabi’iy tsiqah”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-tsiqaat dan berkata : “Sering keliru dan menyelisihi”. Ia juga menyebutkannya dalam Al-Majruuhiin dan berkata : “Meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Aamir hadits-hadits munkar yang tidak ada mutaba’ah-nya. Yang benar tentang perkaranya adalah meninggalkan riwayat-riwayatnya yang ia bersendirian, dan boleh dijadikan i’tibar jika berkesesuaian dengan perawi tsiqaat”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku harap, tidak mengapa dengannya”. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Tsiqah”.

Al-Albaaniy berkata : “Padanya terdapat pembicaraan, namun ia tidak turun dari tingkatan hasan”. Abu Ishaaq Al-Huwainiy berkata : “Shaduuq, terdapat sedikit pembicaraan dalam hapalannya”. Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth menyimpulkan : “Shaduuq hasanul-hadiits”.
[lihat : Taariikh Ibni Ma’iin lid-Daarimiy hal. 204 no. 755, Ma’rifatuts-Tsiqaat 2/279 no. 1728, Tahdziibul-Kamaal 28/7-8 no. 5974, Tahdziibut-Tahdziib 10/55 no. 295, Al-Kaasyif 2/265 no. 5456, Miizaanul-I’tidaal 4/117 no. 8549, Ash-Shahiihah 1/646,Natsnun-Nabaal hal. 1366 no. 3371, dan Tahriir Taqriibit-Tahdziib 3/380-381 no. 6679].
Kesimpulan : Misyrah seorang yang shaduuq. Ibnu Hibbaan telah menyendiri dalam penyebutan jarh tersebut.
6.      ‘Uqbah bin ‘Aamir Al-Juhhaniy; salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (w. 60 H di Mesir). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 684 no. 4675].

Rabu, 21 Mei 2014

Lagi-Lagi Dusta Syi'ah Terbongkar

Beberapa waktu lalu, Syi'ah dari berbagai negara mulai dari Iran, Suria, Hizbullat-Libanon, bahkan sampai konco-konconya di Indonesia dengan aktifnya menebarkan fitnah "PEMBONGKARAN MAKAM HUJR IBN ADI AL-KINDY Radhiallahu 'anhu". Sahabat yang turut serta menghancurkan imperium Persia Majusi di Iran dan Mada'in, yang kemudian wafat di Suria. 

Tidak cukup di sini, mereka menebarkan 'foto' yang diklaim foto beliau, dan menuduh para mujahidinlah yang melakukan perbuatan terkutuk tersebut.

FAKTA

Fakta sebenarnya membuktikan bahwa foto yang tersebar bukanlah foto sahabat Hujr Ibn Adi Radhiyallahu 'anhu, melainkan foto dari salah seorang korban kebengisan Koalisi spesies Syi'ah. Korban ini bernama Mahrus al-Syarabji dari Hazzah-Damaskus. Beliau syahid–biiznillah pada 1/5/2013. Foto tersembut diambil dari video aslinya berjudul:

شام ريف دمشق حزة الشهيد محروس الشربجي 1 5 2013 تحذير الفيديو قاسي جداً

Lihat video aslinya di sini:
http://www.youtube.com/watch?v=6Ti6uS-ZHoM

Kemudian Spesies Syi'ah menguploud ulang video ini dengan judul: Photo sahabat Hujr Ibn Adi al-Syahid radhiyallahu 'anhu. Seperti video bertanggal 6/5/2013 :http://www.youtube.com/watch?v=JO-g6MFY4bQ

APA UNTUNGNYA BUAT SYI'AH?

Barangkali saudara/i pada bertanya, apa sih untungnya buat Syi'ah menebarkan fitnah seperti ini?

Dengan fitnah murahan seperti ini, Syi'ah mendulang keuntungan cukup banyak, di antaranya:

1.Memperburuk citra mujahidin, dengan tuduhan yang tersebar ke dunia.

2. Memicu konflik sectarian sunni-Syi'ah. Tentu siapa saja mengaku muslim di manapun pastilah merasa sangat marah dengan perbuatan ini. Etnis Syi'ah akan berusaha membalas dengan merusak simbol-simbol sunni, karena yang mereka tau pelakunya adalah sunni. Sebaliknya, diharapkan kaum sunni juga membalas merusak kuburan-kuburan yang dijadikan pusat ibadah Syi'ah, karena mereka tau bahwa pelaku sebenarnya adalah tentara Hizbullat-Libanon.

Sabtu, 17 Mei 2014

Peristiwa Syahidnya Husein (Cucu Rasulullah SAW)

Peristiwa Kesyahidan Husein bin Ali bin Abi Thalib

Bulan Muharram merupakan bulan yang agung dan memiliki banyak keutamaan; Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dari Firaun dan bala tentaranya di bulan Muharram. Untuk menghormati bulan ini, Allah haramkan peperangan walaupun perang tersebut bertujuan meninggikan kalimat-Nya. Di bulan ini pun terdapat suatu hari, yang dapat mengampuni dosa setahun yang lalu dengan berpuasa di hari tersebut. Namun, bulan Muharram juga mengisahkan sebuah duka, duka dengan wafatnya penghulu pemuda penghuni surga, cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Terkait peristiwa tersebut, ada sebuah kelompok yang rutin memperingati wafatnya Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu dengan cara meratapi dan menyiksa diri. Mereka berandai-andai jika saja waktu itu mereka bersama Husein dan menolong Husein yang dizalimi. Mereka menamakan diri mereka Syiah, pencinta dan pendukung ahlul bait (keluarga Nabi). Setiap orang bisa mengklaim diri sebagai penolong keluarga Nabi, namun pertanyaannya adalah benarkah mereka menolongnya?

Kita tidak hendak saling menyalahkan, tidak juga memicu perpecahan, kita hanya akan mengangkat fakta sejarah bagaimana cucu manusia yang paling mulia ini bisa terbunuh di tanah Karbala.

Kita awali kisah ini dengan memasuki tahun 60 H ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah. Saat itu Yazid yang berumur 34 tahun diangkat oleh ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah umat Islam menggantikan dirinya.

Ketika Yazid dibaiat ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya, mereka adalah Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubeir pun dipinta untuk berbaiat, ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku sampaikan apa yang ada di benakku.” Saat malam tiba, maka Abdullah bin Zubeir pergi dari Madinah menuju Mekah. Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.” Saat malam menjelang, beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir.

Kabar tidak berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga penduduk Irak atau lebih spesifiknya penduduk Kufah. Mereka tidak menginginkan Yazid menjadi khalifah bahkan juga Muawiyah, karena mereka adalah pendukung Ali dan anak keturunannya. Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang berisi “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya, kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).” Semakin hari, surat tersebut pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlanya mencapai 500 surat.

Kamis, 15 Mei 2014

Kumpulan Bahasa Arab Yang Kerap Dipakai

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, berikut ini adalah istilah-istilah singkat yang biasa digunakan oleh para penuntut ilmu syar’i :

Afwan = maaf.
Tafadhdhol = silahkan (untuk umum).
Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan).
Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus banget.
Na’am : iya.
La adri = tidak tahu.
Syukron : terima kasih
Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH manambah kita ilmu & semangat
Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada
Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin.
Laqod sodaqta = dengan sebenarnya.
Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada.
Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita minta tolong.
Barakallah fikum = semoga ALLAH memberi kalian berkah.
Wa iyyak = sama-sama.
Wa anta kadzalik = begitu juga antum.
Ayyul khidmah = ada yang bisa dibantu ?
Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan.
Jazakumullah khayran = semoga ALLAH membalas kalian dengan lebih baik.
Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (laki2) dengan lebih baik.
Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (perempuan) dengan lebih baik.
Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan minha = ya ALLAH berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya.
Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian.
Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita.
Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk/hidayah.
Allahu yahdik = semoga Allah memberimu petunjuk/hidayah.
‘ala rohatik = ‘ala kaifik = tereserah anda…
(biasanya digunakan dalam percakapan bebas, atau lebih halusnya silahkan dikondisikan saja..)

ana = y = saya.
anta = ka = kamu (laki-laki).
anti = ki = kamu (perempuan).
(maksudnya ==> kalau untuk kepada kamu laki2= kaifa haluka ? ; Kalau kepada kamu perempuan : kaifa haluki?)

Selasa, 13 Mei 2014

Surat Al-Wilayah Dalam Al-Qur'an Versi Syi'ah (Surat Palsu)

Anda, barangkali, adalah satu diantara kaum muslimin yang mendambakan adanya ’perdamaian’ dan persatuan antara kaum Sunni dan Syi’ah.

Hari gini masih ngurus sunnah-syi’ah? Kehancuran Muslimin sudah tampak dimana-mana: kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, dan sebagainya....Tapi kita masih bicara sesat-menyesatkan. Siapa yang mengaku Tuhannya Allah SWT dan tidak menyekutukannya, Nabinya Muhammad SAW, dan Kitabnya Al-Qur’an, lalu dia shalat, puasa, zakat, dan haji, maka dia adalah saudara se-iman dan se-keyakinan bagi saya, tanpa embel mazhab, aliran atau apa pun juga.

Perhatikan ucapan ini. Jika anda tidak memahami permasalahannya, maka perkataan diatas akan tampak benar, namun jika anda mengetahuinya, maka sama halnya anda berharap bahwa minyak dan air akan bersatu.

Lihatlah kalimat yang saya kutip ini: “...Siapa yang mengaku Tuhannya Allah, Nabinya Muhammad, dan Kitabnya Al-Qur’an...” benarkah Syi’ah mempercayai Al Qur’an yang sama dengan Al Qur’an yang kaum Sunni percayai?

(Bahkan) jawabannya adalah TIDAK!

Mereka telah menuduh para Sahabat Nabi, menghilangkan surat-surat Al Qur’an dan ayat-ayatnya, lebih dari sepertiga bagian dari kitab tersebut.

Sehingga keyakinan mereka, Al Qur’an yang diyakini kaum Sunni adalah Al Qur’an yang tidak sempurna.

Al Qur’an yang sempurna versi Syi’ah, akan dibawa oleh Imam mereka yang kedua belas, yang mereka nanti kemunculannya dari goa, yang mereka namakan sebagai Al Qaim.

Atau terhadap mushaf Fathimah yang mereka yakini tiga kali tebalnya dari Al Qur’an mushaf Utsmani, dan didalamnya tidak ada satu huruf pun dari Al Qur’an versi Utsmani itu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sebagaimana yang kaum muslimin yakini, bahwa percaya pada al Kitab (yakni Al Qur’an) adalah salah satu rukun Iman, jika hilang salah satunya, maka hilanglah iman itu dari dada-dada mereka.

Dan keyakinan itu berdasarkan kepada ayat Allah;

[15.9] Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Minggu, 11 Mei 2014

Kematian, Menghadap Allah (Bertemu dan Melihat Allah)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Dalil-dalil syariat dari kitab dan sunnah Nabi telah menunjukkan bahwa Allah Subhana wa Ta'ala berada di atas langit-Nya, bersemayam di atas Arsy-Nya dengan carabersemayam yang layak bagi kemuliaan dan keagungan-Nya, sebagaimana Allah berfirman:

"Allah yang Rahman, Istiwa (bersemayam) di atas Arsy."

Adapun tentang pertemuan dan melihat Allah, maka pertemuan dengan Allah akan terjadi setelah mati pada hari kiamat. Demikian pula dengan melihat-Nya tidak akan terjadi, kecuali pada hari kiamat.

Adapun pertemuan dengan Allah yang terjadi setelah mati, maka hal ini diterangkan dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari: Bab siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya.

Dari Ubadah bin Shamit dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam, beliau berkata:
"Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemua dengannya, dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah pun membenci pertemuan dengannya." Maka berkatalah Aisyah atau salah seorang istrinya: "Kita semua membenci kematian." Beliau menjawab: "Bukan begitu, akan tetapi seorang mukmin apabila akan didatangi oleh kematian, dia akan digembirakan dengan keridhaan Allah dan kemulian-Nya, maka tidak ada sesuatupun yang lebih dia cintai daripada masa depannya, lalu dia pun mencintai pertemuan dengan Allah dan Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Adapun orang kafir apabila dia akan didatangi kematian, dia diberi kabar tentang adzab Allah dan siksanya, maka tidak ada yang lebih dia benci dibandingkan masa depannya, maka dia pun membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun membenci pertemuan dengannya." (HR. Bukhari 6026)

Sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam:
"Maka tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai daripada masa depannya,"
maksudnya: masa depan setelah mati.

Imam Muslim dan An-Nasa'i telah mengeluarkan hadits dari jalan Syuraih bin Hani', dia berkata: "Maka aku mendatangi Aisyah, lalu aku berkata aku mendengar sebuah hadits, bila hal itu benar, maka binasalah kita, lalu dia menyebutkan dengan berkata: "Tak ada seorangpun dari kita, kecuali pasti membenci kematian," maka berkatalah Aisyah: "(Hadits ini maksudnya) bukanlah seperti yang kamu fahami, tetapi (maksudnya) bila mata sudah terbelalak, dada sudah tersengal, dan kulit sudah merinding, hal-hal tersebut terjadi ketika sekarat."

Jumat, 09 Mei 2014

Syi'ah Merubah Surat Al Ikhlas Menjadi Surat Al Assad

Satu bukti nyata kesesatan ajaran syi’ah, yaitu mereka merubah isi dan makna Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas yang seharusnya menjelaskan tentang ke-Esa-an Allah SWT, satu-satunya dzat yang tidak ada sesuatupun yang setara dengannya, baik itu mahluk maupun benda agung sekalipun. Berikut ayat Al-Quran yang telah dirubah oleh syi’ah yang terlaknat ini.


Artinya :
Katakan Dialah Allah Yang Maha Satu
Allah tempat meminta
Tidak menciptakan seperti Hafidz Asad
Dan tidak memimpin Syria
Kecuali Basyar Asad

Semoga kita semua, umat Nabi Muhammad SAW senantiasa dijauhkan dari fitnah dan keburukan dunia dan akhirat, semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua, umat Islam yang meng-Esakan Allah SWT. Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta, yang tidak beranak dan diperanakan, dan tidak satupun yang setara dengan_Nya.

Senin, 21 April 2014

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Mengangkat tangan ketika sedang berdoa adalah hal yang disyariatkan dalam Islam. Perbuatan ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga nilai tambah yang mendukung terkabulnya doa. Mari kita bahas secara rinci bagaimana hukum dan tata caranya.

Hukum Asal Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Tidak kami ketahui adanya perbedaan diantara para ulama bahwa pada asalnya mengangkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa. Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir ma’nawi. Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)

As Shan’ani menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak” (Subulus Salam, 2/708)

Demikianlah hukum asalnya. Jika kita memiliki keinginan atau hajat lalu kita berdoa kepada Allah Ta’ala, kapan pun dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, tempat atau ibadah tertentu, kita dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika berdoa.

Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Dalam Suatu Ibadah

Banyak hadits-hadits yang menyebutkan praktek mengangkat tangan dalam berdoa dalam beberapa ritual ibadah, diantaranya:

1. Ketika berdoa istisqa dalam khutbah

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء ، وإنه يرفع حتى يرى بياض إبطيه

Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putih” (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)