La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim - Semoga Jalan Kami Jalan Fisabilillah - (Insya Allah)
Cari Berkah
Tampilkan postingan dengan label Ragam Kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam Kontroversi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Desember 2024
Minggu, 08 Desember 2024
Kamis, 05 Desember 2024
Selasa, 03 Desember 2024
Selasa, 30 Oktober 2018
Sabtu, 20 Oktober 2018
Senin, 17 November 2014
Tiga “Bid’ah” Umar bin Al-Khaththab
Pada
suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi.
Beliau
mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan:
-
Ada yang melakukan qiyam sendirian,
-
Ada yang melakukannya berduaan,
-
Ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.
Melihat
keadaan yang demikian, maka amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu lalu menginstruksikan tiga hal:
1.
Agar
semua yang melakukan qiyam dalam banyak jamaah itu disatukan dalam satu jamaah
dengan satu imam, dan ditunjuklah Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu sebagai imam, sebab beliaulah yang telah
mendapatkan licence dari Rasulullah shollallahu
’alaih wa sallam sebagai Aqraukum,
umat nabi yang paling bagus Qur’annya.
2.
Memajukan
waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana biasanya, dilakukan
setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang terakhir.
3.
Memperpendek
tempo waktu pada setiap rakaatnya, di mana pada sebelumnya, tempo waktu rakaat
sangat lama, atau istilahnya: “jangan tanyakan lama dan bagusnya”, karena
memang luaaaamma dan buaaaaaagus.
Sebagai
kompensasi atas “pemendekan” tempo waktu rakaat, maka jumlah rakaat-nya
diperbanyak.
Terkait
dengan 3 hal ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik
bid’ah adalah hal ini.
Jumat, 31 Oktober 2014
Waspadai Kesesatan Dalam Menghadapi Sakratul Maut
Berbagai
kepercayaan yang muncul sehubungan dengan sakratul maut, di antaranya ada yang
percaya bahwa yang datang adalah sosok orang tua yang telah mati, sosok guru
bagi yang bertariqat, bahkan lebih dari itu ada yang percaya akan dijemput
langsung oleh Allah dalam wujud yang berbeda-beda. Ada yang percaya dalam rupa
diri kita sendiri yang berpayung emas, ada yang percaya dalam wujud cahaya
besar tinggi seperti batang kelapa, dan lain-lain. Di antara yang percaya
seperti ada yang menuntut dan mengamalkan ilmu yang bisa menyelamatkan kita
dari beratnya sakratul maut, agar tidak diganggu oleh setan dan agar
meninggalkan dunia ini dengan selamat di antaranya sahadat batin dan junub.
Sahadat
batin dipercaya sebagai janji kepada Nabi Muhammad SAW berupa bunyi tertentu di
leher ketika sakratul maut. Orang yang mendapat dan mengamalkan ilmu ini tidak
perlu mengucapkan lailaha illallah atau dua kalimat sahadat tetapi diganti
dengan bunyi tersebut. Guru tariqatnya mengajarkan bahwa bunyi itu adalah
sahadat yang asli (sahadatnya sahadat) sedangkan sahadat yang diucapkan itu
hanyalah sebuah kalimat (tidak asli). Barang siapa yang akhir hidupnya berhasil
membunyikan sahadat itu maka akan selamat dan hidup bersama Nabi Muhammad.
Begitupun
halnya junub yang dipercaya sebagai janji kita dengan surga, yaitu berupa
orgasme (keluar mati) ketika sakratul maut. Mereka percaya bahwa orang yang
orgasme ketika sakratul maut akan selamat dan dijamin masuk surga karena itu
sudah menjadi perjanjian dengan surga. Mereka beranggapan bahwa karena mereka
diciptakan melalui orgasme (pancaran mani) maka ia harus tutup hidup ini dengan
orgasme pula.
Benarkah
semua anggapan di atas...???
Allah
dan Rasul-Nya telah memberikan keterangan yang jelas tentang sakratul maut.
Kematian itu diawali dengan sakratul maut, sebagaimna, firman Allah “Dan
datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang selalu kamu lari dari
padanya “(QS. Qaaf : 19 ).
Sakratul
maut adalah roh meninggalkan jazad perlahan-lahan melewati kerongkongan,
“(apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kekorongkongan dan dia
yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perjalanan (dengan dunia) “(QS. AL
Qiyaamah : 26 dan 28).
Menurut
Al Quran, bahwa “ Apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu,
diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami dan malaikat-malaikat itu tidak
melalaikan kewajibannya “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
padahal kamu ketika itu melihat, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu,
tetapi kamu tidak melihat” ( QS. Al Waaqiah : 83-85)
Malaikat
maut itu akan menampakkan dirinya di hadapan orang yang dijemputnya dengan
sosok /rupa yang disesuaikan dengan keadaan roh/amal orang itu. Orang yang
beramal baik akan didatangi oleh malaikat lemah lembut atau berpenampilan yang
baik sedangkan orang yang banyak berdosa akan di datangi oleh malaikat yang
berpenampilan dan berperilaku yang kasar. (QS An Naa’ziaat : 1-2).
Hal ini
diterangkan pula pada ayat lain bahwa “orang-orang yang diwafatkan dalam
keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan “salamun alaikum” masuklah
kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan “(QS. An Naml :
32), atau malaikat itu datang dengan mengatakan “hai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoinya “( QS. Al Fajr
: 27). Orang yang banyak dosa akan didatangi oleh malaikat dengan sosok yang
menakutkan, kasar dan tanpa mengucapkan salam kepada orang yang akan mati.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Waspada : Penyataan Allah Bersemayan Di Atas Arsy-Nya
Imam
Abu Hanifah (w 150 H) Berkeyakinan "Allah Ada Tanpa Tempat", Tidak
Seperti Keyakinan Kaum Wahhabiyyah.. Awas Terkecoh!!
Suatu
ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna "Istawa", beliau menjawab:
“Barang siapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau
barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu
memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa
Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan
makhuk-Nya” (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di
antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar,
al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin
al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad
ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).
Di
sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim
al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini banyak membuat kontroversi dan melakukan
kedustaan persis seperti yang biasa dilakukan gurunya sendiri. Di antaranya,
kedustaan yang ia sandarkan kepada al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait
sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan sebagai berikut:
“Demikian
telah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh
Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari
pernyataan Al-Imam Abu Hanifah...
bahwa
orang yang tidak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di
atas langit serta di atas segala tempat, ...
Demikian
pula orang yang tidak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, --di mana
perkara tersebut tidak tersembunyi dari setiap getaran hati manusia--,...
Maka
itulah orang yang tidak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan
yang telah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri;
Ibn Taimiyah).
Inilah
pernyataan yang telah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu
Hanifah), di mana kitab tersebut telah memiliki banyak penjelasannya”.
Jumat, 05 September 2014
Tanda Akhir Jaman - Munculnya Terroris (Ashabu Rayati Suud)
Para
ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan
ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak
dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian
jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga
Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya
tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk
merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.
Banyak
pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya
tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian
banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda
kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabi shollallahu
’alaih wa sallam sudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan
tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal
datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum
munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara
tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud
ialah diutusnya Al-Mahdi ke muka bumi.
Diriwayatkan
Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ’’Dunia akan dipimpin oleh seseorang dari
keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia ini hanya tinggal
sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, sehingga ia (Al-Mahdi) akan memimpinnya.’’
Banyak
orang berpikir, jika Al-Mahdi datang maka dunia akan tentram dalam sekejap, ia
akan mencapai itu dengan dakwah, dan banyak orang ingin menjadi pasukan
Al-Mahdi. Namun anggapan tersebut keliru, karena kejayaan Al-Mahdi diperoleh
dengan perang, pengikut imam mahdi adalah kelompok-kelompok militan yang
berjihad fi sabillillah. Dan kelompok tersebut akan muncul untuk memudahkan
kekuasaan Al-Mahdi, kelompok itulah yang di juluki Thaifah
Manshurah.
Selasa, 17 Juni 2014
Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 143-146
Ayat ke 143, Artinya:
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan
Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu,
maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (7: 143)
Sebelumnya telah disebutkan bahwa Allah Swt
telah memerintahkan kepada Nabi Musa as agar pergi ke sebuah miqat (tempat
pertemuan) yang terletak di bukit Thur untuk bermunajat kepada-Nya selama 40
hari, guna memperoleh kitab suci Taurat. Ayat ini menceritakan saat-saat ketika
Musa as telah tiba di miqat dan berbicara dengan Tuhannya. Salah satu
permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa adalah melihat Tuhan dengan mata
mereka. Karena itu Nabi Musa as menyampaikan permintaan kaumnya ini kepada
Tuhan dengan mengatakan, "Ya Allah, tunjukkanlah diri-Mu kepadaku, sehingga aku dapat melihat-Mu
dengan kedua mataku, dan akupun akan dapat mengatakan kepada kaumku bahwa aku
telah melihat Tuhanku."
Kemudian terdengar jawaban, "Wahai Musa!
Engkau tidak akan bisa melihat-Ku, karena Aku bukanlah Zat yang bisa dilihat
dengan mata kasar, namun Aku tetap bisa kalian saksikan melalui sifat kekuasaan
dan keagungan-Ku. Karena itu lihatlah gunung ini bagaimana ia hancur berantakan
dengan kehendak-Ku." Kejadian itu sedemikian dahsyatnya, sehingga Nabi
Musa as pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Sewaktu beliau sadar kembali, Nabi
Musa as berkata, "Ya Allah, Ya Tuhanku! Aku adalah orang pertama yang
menyaksikan kekuasaan, kedahsyatan dan kebesaran-Mu, karena itu aku mohon ampun
atas permintaanku yang tidak pada tempatnya itu. Engkau Sungguh Maha Suci dari
segala pandangan mata."
Imam Ali bin Abi Thalib suatu hari ditanya
oleh seseorang, "Apakah engkau melihat Tuhan sehingga kau beribadah
sedemikian tekun dan khusyuk kepada-Nya?"
Imam Ali as menjawab, "Aku tidak akan
menjadi hamba dari Tuhan yang tidak bisa aku lihat, namun bukan Tuhan bisa
dilihat dengan mata kepala, akan tetapi Tuhan yang dapat dirasakan dengan mata
hati." Dilain kesempatan Imam Ali as juga mengatakan, "Aku tidak
pernah melihat sesuatupun kecuali sebelum dan sesudahnya, senantiasa bersama
Tuhan."
Dalam al-Quran al-Karim surat al-An'am ayat
103 dengan tegas disebutkan artinya, "Semua mata tidak akan bisa
menyaksikan Dia, akan tetapi Dia bisa melihat semua mata makhluk-Nya."
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran
yang dapat dipetik:
1. Guna mengenal Allah Swt, kita harus
memperhatikan berbagai segala ciptaan dan makhluk yang di alam semesta ini.
Karena segala sesuatu di alam merupakan manifestasi dari perwujudan dan
keagungan Allah Swt.
2. Segala bentuk pemikiran atau permohonan
yang tidak pada tempatnya harus ditebus dengan taubat. Karena itu, ketika
manusia memiliki segala bentuk keraguan yang batil dan tidak pada proporsinya
terhadap Tuhan Pencipta alam semesta, maka dia harus bertaubat.
Minggu, 15 Juni 2014
Tafsir Al-Qur’an : Melihat Wujud Allah SWT (QS. Al-A’raaf : 143)
Ahlus-Sunnah menyatakan bahwa Allah ta’ala kelak akan dilihat oleh
orang-orang beriman di akhirat. Namun bagaimana dengan ayat :
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا
وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ
أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ
فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ
دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ
تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah
Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat
melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak
sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:
"Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang
pertama-tama beriman" [QS. Al-A’raaf : 143].
Sudah lazim dalam bahasa Arab bahwa huruf lan (لَنْ) itu menunjukkan makna ‘tidak untuk
selama-lamanya (ta’biid)’.
Penggunaan ayat di tersebut untuk menafikkan kemungkinan dapat
dilihatnya Allah kelak di akhirat merupakan salah satu hujjah primer yang
dibawakan Mu’tazilah untuk menentang Ahlus-Sunnah.
Namun hujjah itu baathil dalam beberapa segi sebagai berikut :
a. Perhatikan firman Allah
ta’ala berikut :
وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ
أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
“Dan sekali-kali mereka (orang Yahudi) tidak akan mengingini kematian
itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan
mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya” [QS.
Al-Baqarah : 95].
Namun dalam ayat lain, Allah ta’ala menjelaskan bahwa orang Yahudi dan
juga umumnya orang-orang kafir berharap kematian datang kepada mereka saat
menghadapi adzab akhirat :
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ
عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ
مَاكِثُونَ
“Mereka berseru: "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami
saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)"
[QS. Az-Zukhruuf : 77].
b. Seandainya huruf lan (لَنْ) menunjukkan penafikkan
selama-lamanya secara mutlak, niscaya ia tidak menerima adanya pembatasan.
Namun dalam beberapa nash, disebutkan beberapa pembatasan, di antaranya firman
Allah ta’ala :
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ
مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي
نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ
الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat
seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar
berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan
seorang Manusia pun pada hari ini" [QS. Maryam : 26].
قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ
أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ
مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ
قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي
يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الأرْضَحَتَّى
يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ
يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ
خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Berkatalah yang tertua di antara mereka: "Tidakkah kamu ketahui
bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan
sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan
meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali),
atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang
sebaik-baiknya" [QS. Yuusuf: 80].
c. Beberapa pakar bahasa Arab
mengelirukan pernyataan Mu’tazilah bahwa huruf lan (لَنْ) menunjukkan penafikkan selama-lamanya, atau
menguatkan penafikkan.
Minggu, 25 Mei 2014
Hadits : “Seandainya Setelahku Ada Nabi,……”
Al-Imaam
At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ
Telah
menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib : Telah menceritakan kepada kami
Al-Muqri’, dari Haiwah bin Syuraih, dari Bakr bin ‘Amru, dari Misyrah bin
Haa’aan, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya setelahku ada nabi, niscaya ia adalah
‘Umar bin Al-Khattaab” [As-Sunan, no. 3686].
Keterangan :
1. Salamah bin Syabiib An-Naisaabuuriy, Abu
‘Abdirrahmaan Al-Hajuriy Al-Masma’iy; seorang yang tsiqah (w. 247 H). Dipakai
Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 400 no. 2507].
2. Al-Muqri’ namanya : ‘Abdullah bin Yaziid
Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy Al-Makkiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Muqri’ Al-Qashiir;
seorang yang tsiqah lagi mempunyai keutamaan (w. 213 H). Dipakai Al-Bukhaariy
dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 558-559 no. 3739].
3. Haiwah bin Syuraih bin Shafwaan bin
Maalik At-Tujiibiy, Abu Zur’ah Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih,
lagi zaahid (w. 158/159 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 282 no. 1610].
4. Bakr bin ‘Amru Al-Ma’aafiriy Al-Mishriy;
seorang yang shaduuq lagi ‘aabid (w. setelah 140 H pada masa pemerintahan Abu
Ja’far). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 176 no.
753].
5. Misyrah bin Haa’aan Al-Ma’aafiriy, Abu
Mush’ab Al-Mishriy; seorang yang dihukumi Ibnu Hajar maqbuul, yaitu jika ada
mutaba’ah (namun jika tidak ada, maka lemah) (w. 128 H) [idem, hal. 944-945 no.
6724].
Saya
(Abul-Jauzaa’) berkata :
Ahmad
bin Hanbal berkata : “Ma’ruuf”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tsiqah”. ‘Utsmaan bin
Sa’iid Ad-Daarimiy berkata : “Shaduuq”. Al-‘Ijliy berkata : “Taabi’iy tsiqah”.
Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-tsiqaat dan berkata : “Sering keliru dan
menyelisihi”. Ia juga menyebutkannya dalam Al-Majruuhiin dan berkata :
“Meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Aamir hadits-hadits munkar yang tidak ada mutaba’ah-nya.
Yang benar tentang perkaranya adalah meninggalkan riwayat-riwayatnya yang ia
bersendirian, dan boleh dijadikan i’tibar jika berkesesuaian dengan perawi
tsiqaat”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku harap, tidak mengapa dengannya”.
Adz-Dzahabiy berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Tsiqah”.
Al-Albaaniy
berkata : “Padanya terdapat pembicaraan, namun ia tidak turun dari tingkatan
hasan”. Abu Ishaaq Al-Huwainiy berkata : “Shaduuq, terdapat sedikit pembicaraan
dalam hapalannya”. Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth menyimpulkan : “Shaduuq
hasanul-hadiits”.
[lihat
: Taariikh Ibni Ma’iin lid-Daarimiy hal. 204 no. 755, Ma’rifatuts-Tsiqaat 2/279
no. 1728, Tahdziibul-Kamaal 28/7-8 no. 5974, Tahdziibut-Tahdziib 10/55 no. 295,
Al-Kaasyif 2/265 no. 5456, Miizaanul-I’tidaal 4/117 no. 8549, Ash-Shahiihah
1/646,Natsnun-Nabaal hal. 1366 no. 3371, dan Tahriir Taqriibit-Tahdziib
3/380-381 no. 6679].
Kesimpulan
: Misyrah seorang yang shaduuq. Ibnu Hibbaan telah menyendiri dalam penyebutan
jarh tersebut.
6. ‘Uqbah bin ‘Aamir Al-Juhhaniy; salah
seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (w. 60 H di Mesir).
Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 684 no.
4675].
Rabu, 21 Mei 2014
Lagi-Lagi Dusta Syi'ah Terbongkar
Beberapa
waktu lalu, Syi'ah dari berbagai negara mulai dari Iran, Suria,
Hizbullat-Libanon, bahkan sampai konco-konconya di Indonesia dengan aktifnya
menebarkan fitnah "PEMBONGKARAN MAKAM HUJR IBN ADI AL-KINDY Radhiallahu
'anhu". Sahabat yang turut serta menghancurkan imperium Persia Majusi di
Iran dan Mada'in, yang kemudian wafat di Suria.
Tidak
cukup di sini, mereka menebarkan 'foto' yang diklaim foto beliau, dan menuduh
para mujahidinlah yang melakukan perbuatan terkutuk tersebut.
FAKTA
Fakta
sebenarnya membuktikan bahwa foto yang tersebar bukanlah foto sahabat Hujr Ibn
Adi Radhiyallahu 'anhu, melainkan foto dari salah seorang korban kebengisan
Koalisi spesies Syi'ah. Korban ini bernama Mahrus al-Syarabji dari
Hazzah-Damaskus. Beliau syahid–biiznillah pada 1/5/2013. Foto tersembut diambil
dari video aslinya berjudul:
شام ريف دمشق حزة الشهيد محروس الشربجي 1 5 2013 تحذير الفيديو قاسي جداً
Lihat
video aslinya di sini:
http://www.youtube.com/watch?v=6Ti6uS-ZHoM
Kemudian
Spesies Syi'ah menguploud ulang video ini dengan judul: Photo sahabat Hujr Ibn
Adi al-Syahid radhiyallahu 'anhu. Seperti video bertanggal 6/5/2013
:http://www.youtube.com/watch?v=JO-g6MFY4bQ
APA UNTUNGNYA BUAT SYI'AH?
Barangkali
saudara/i pada bertanya, apa sih untungnya buat Syi'ah menebarkan fitnah
seperti ini?
Dengan
fitnah murahan seperti ini, Syi'ah mendulang keuntungan cukup banyak, di
antaranya:
1.Memperburuk
citra mujahidin, dengan tuduhan yang tersebar ke dunia.
2.
Memicu konflik sectarian sunni-Syi'ah. Tentu siapa saja mengaku muslim di
manapun pastilah merasa sangat marah dengan perbuatan ini. Etnis Syi'ah akan
berusaha membalas dengan merusak simbol-simbol sunni, karena yang mereka tau
pelakunya adalah sunni. Sebaliknya, diharapkan kaum sunni juga membalas merusak
kuburan-kuburan yang dijadikan pusat ibadah Syi'ah, karena mereka tau bahwa
pelaku sebenarnya adalah tentara Hizbullat-Libanon.
Sabtu, 17 Mei 2014
Peristiwa Syahidnya Husein (Cucu Rasulullah SAW)
Peristiwa
Kesyahidan Husein bin Ali bin Abi Thalib
Bulan
Muharram merupakan bulan yang agung dan memiliki banyak keutamaan; Nabi Musa
‘alaihissalam diselamatkan dari Firaun dan bala tentaranya di bulan Muharram.
Untuk menghormati bulan ini, Allah haramkan peperangan walaupun perang tersebut
bertujuan meninggikan kalimat-Nya. Di bulan ini pun terdapat suatu hari, yang
dapat mengampuni dosa setahun yang lalu dengan berpuasa di hari tersebut.
Namun, bulan Muharram juga mengisahkan sebuah duka, duka dengan wafatnya
penghulu pemuda penghuni surga, cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib
radhiallahu ‘anhu.
Terkait
peristiwa tersebut, ada sebuah kelompok yang rutin memperingati wafatnya Husein
bin Ali radhiallahu ‘anhu dengan cara meratapi dan menyiksa diri. Mereka
berandai-andai jika saja waktu itu mereka bersama Husein dan menolong Husein
yang dizalimi. Mereka menamakan diri mereka Syiah, pencinta dan pendukung ahlul
bait (keluarga Nabi). Setiap orang bisa mengklaim diri sebagai penolong
keluarga Nabi, namun pertanyaannya adalah benarkah mereka menolongnya?
Kita
tidak hendak saling menyalahkan, tidak juga memicu perpecahan, kita hanya akan
mengangkat fakta sejarah bagaimana cucu manusia yang paling mulia ini bisa
terbunuh di tanah Karbala.
Kita
awali kisah ini dengan memasuki tahun 60 H ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat
menjadi khalifah. Saat itu Yazid yang berumur 34 tahun diangkat oleh ayahnya
Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah umat Islam
menggantikan dirinya.
Ketika
Yazid dibaiat ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya, mereka adalah
Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubeir pun
dipinta untuk berbaiat, ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku
sampaikan apa yang ada di benakku.” Saat malam tiba, maka Abdullah bin Zubeir
pergi dari Madinah menuju Mekah. Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta
untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi,
tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.” Saat malam menjelang,
beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir.
Kabar
tidak berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga
penduduk Irak atau lebih spesifiknya penduduk Kufah. Mereka tidak menginginkan
Yazid menjadi khalifah bahkan juga Muawiyah, karena mereka adalah pendukung Ali
dan anak keturunannya. Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang
berisi “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya,
kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).” Semakin hari, surat tersebut
pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlanya mencapai 500 surat.
Kamis, 15 Mei 2014
Kumpulan Bahasa Arab Yang Kerap Dipakai
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi
maha penyayang, berikut ini adalah istilah-istilah singkat yang biasa digunakan
oleh para penuntut ilmu syar’i :
Afwan = maaf.
Tafadhdhol = silahkan (untuk umum).
Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan).
Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus banget.
Na’am : iya.
La adri = tidak tahu.
Syukron : terima kasih
Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH manambah
kita ilmu & semangat
Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna
= semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada
Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH
ampunilah kami & kaum muslimin.
Laqod sodaqta = dengan sebenarnya.
Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu
kepada Allah dimanapun kamu berada.
Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita
minta tolong.
Barakallah fikum = semoga ALLAH memberi kalian
berkah.
Wa iyyak = sama-sama.
Wa anta kadzalik = begitu juga antum.
Ayyul khidmah = ada yang bisa dibantu ?
Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon
kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan.
Jazakumullah khayran = semoga ALLAH membalas kalian
dengan lebih baik.
Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu
(laki2) dengan lebih baik.
Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (perempuan)
dengan lebih baik.
Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan
minha = ya ALLAH berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dengan yang
lebih baik darinya.
Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian.
Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita.
Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita
petunjuk/hidayah.
Allahu yahdik = semoga Allah memberimu
petunjuk/hidayah.
‘ala rohatik = ‘ala kaifik = tereserah anda…
(biasanya digunakan dalam percakapan bebas, atau
lebih halusnya silahkan dikondisikan saja..)
ana = y = saya.
anta = ka = kamu (laki-laki).
anti = ki = kamu (perempuan).
(maksudnya ==> kalau untuk kepada kamu laki2=
kaifa haluka ? ; Kalau kepada kamu perempuan : kaifa haluki?)
Selasa, 13 Mei 2014
Surat Al-Wilayah Dalam Al-Qur'an Versi Syi'ah (Surat Palsu)
Anda,
barangkali, adalah satu diantara kaum muslimin yang mendambakan adanya
’perdamaian’ dan persatuan antara kaum Sunni dan Syi’ah.
Hari
gini masih ngurus sunnah-syi’ah? Kehancuran Muslimin sudah tampak dimana-mana:
kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, dan sebagainya....Tapi kita masih bicara
sesat-menyesatkan. Siapa yang mengaku Tuhannya Allah SWT dan tidak
menyekutukannya, Nabinya Muhammad SAW, dan Kitabnya Al-Qur’an, lalu dia shalat,
puasa, zakat, dan haji, maka dia adalah saudara se-iman dan se-keyakinan bagi
saya, tanpa embel mazhab, aliran atau apa pun juga.
Perhatikan
ucapan ini. Jika anda tidak memahami permasalahannya, maka perkataan diatas
akan tampak benar, namun jika anda mengetahuinya, maka sama halnya anda
berharap bahwa minyak dan air akan bersatu.
Lihatlah
kalimat yang saya kutip ini: “...Siapa yang mengaku Tuhannya Allah, Nabinya
Muhammad, dan Kitabnya Al-Qur’an...” benarkah Syi’ah mempercayai Al Qur’an yang
sama dengan Al Qur’an yang kaum Sunni percayai?
(Bahkan)
jawabannya adalah TIDAK!
Mereka
telah menuduh para Sahabat Nabi, menghilangkan surat-surat Al Qur’an dan
ayat-ayatnya, lebih dari sepertiga bagian dari kitab tersebut.
Sehingga
keyakinan mereka, Al Qur’an yang diyakini kaum Sunni adalah Al Qur’an yang
tidak sempurna.
Al
Qur’an yang sempurna versi Syi’ah, akan dibawa oleh Imam mereka yang kedua
belas, yang mereka nanti kemunculannya dari goa, yang mereka namakan sebagai Al
Qaim.
Atau
terhadap mushaf Fathimah yang mereka yakini tiga kali tebalnya dari Al Qur’an
mushaf Utsmani, dan didalamnya tidak ada satu huruf pun dari Al Qur’an versi
Utsmani itu.
Innalillahi
wa inna ilaihi raji’un.
Sebagaimana
yang kaum muslimin yakini, bahwa percaya pada al Kitab (yakni Al Qur’an) adalah
salah satu rukun Iman, jika hilang salah satunya, maka hilanglah iman itu dari
dada-dada mereka.
Dan
keyakinan itu berdasarkan kepada ayat Allah;
[15.9]
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.
Minggu, 11 Mei 2014
Kematian, Menghadap Allah (Bertemu dan Melihat Allah)
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah.
Dalil-dalil
syariat dari kitab dan sunnah Nabi telah menunjukkan bahwa Allah Subhana wa
Ta'ala berada di atas langit-Nya, bersemayam di atas Arsy-Nya
dengan carabersemayam yang layak bagi kemuliaan dan keagungan-Nya,
sebagaimana Allah berfirman:
"Allah
yang Rahman, Istiwa (bersemayam) di atas Arsy."
Adapun
tentang pertemuan dan melihat Allah, maka pertemuan dengan Allah akan terjadi
setelah mati pada hari kiamat. Demikian pula dengan melihat-Nya tidak
akan terjadi, kecuali pada hari kiamat.
Adapun
pertemuan dengan Allah yang terjadi setelah mati, maka hal ini diterangkan
dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari: Bab siapa yang mencintai
pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya.
Dari
Ubadah bin Shamit dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam, beliau
berkata:
"Barangsiapa
yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemua dengannya,
dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah pun membenci
pertemuan dengannya." Maka berkatalah Aisyah atau salah seorang istrinya:
"Kita semua membenci kematian." Beliau menjawab: "Bukan begitu,
akan tetapi seorang mukmin apabila akan didatangi oleh kematian, dia akan digembirakan
dengan keridhaan Allah dan kemulian-Nya, maka tidak ada sesuatupun yang
lebih dia cintai daripada masa depannya, lalu dia pun mencintai pertemuan
dengan Allah dan Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Adapun orang kafir
apabila dia akan didatangi kematian, dia diberi kabar tentang adzab Allah dan
siksanya, maka tidak ada yang lebih dia benci dibandingkan masa depannya, maka
dia pun membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun membenci pertemuan
dengannya." (HR. Bukhari 6026)
Sabda
Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasalam:
"Maka
tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai daripada masa depannya,"
maksudnya:
masa depan setelah mati.
Imam
Muslim dan An-Nasa'i telah mengeluarkan hadits dari jalan Syuraih bin Hani',
dia berkata: "Maka aku mendatangi Aisyah, lalu aku berkata aku mendengar
sebuah hadits, bila hal itu benar, maka binasalah kita, lalu dia menyebutkan
dengan berkata: "Tak ada seorangpun dari kita, kecuali pasti membenci
kematian," maka berkatalah Aisyah: "(Hadits ini maksudnya) bukanlah
seperti yang kamu fahami, tetapi (maksudnya) bila mata sudah terbelalak, dada
sudah tersengal, dan kulit sudah merinding, hal-hal tersebut terjadi ketika
sekarat."
Jumat, 09 Mei 2014
Syi'ah Merubah Surat Al Ikhlas Menjadi Surat Al Assad
Satu bukti nyata kesesatan
ajaran syi’ah, yaitu mereka merubah isi dan makna Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas
yang seharusnya menjelaskan tentang ke-Esa-an Allah SWT, satu-satunya dzat yang
tidak ada sesuatupun yang setara dengannya, baik itu mahluk maupun benda agung
sekalipun. Berikut ayat Al-Quran yang telah dirubah oleh syi’ah yang terlaknat
ini.
Artinya :
Katakan Dialah Allah Yang
Maha Satu
Allah tempat meminta
Tidak menciptakan seperti
Hafidz Asad
Dan tidak memimpin Syria
Kecuali Basyar Asad
Senin, 21 April 2014
Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Mengangkat
tangan ketika sedang berdoa adalah hal yang disyariatkan dalam Islam. Perbuatan
ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga nilai tambah yang mendukung
terkabulnya doa. Mari kita bahas secara rinci bagaimana hukum dan tata caranya.
Hukum Asal Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Tidak
kami ketahui adanya perbedaan diantara para ulama bahwa pada asalnya mengangkat
tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa.
Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir
ma’nawi. Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ،
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ
لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا،
وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ،
فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا
الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا،
إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ
عَلِيمٌ} وَقَالَ:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ
يُطِيلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ،
يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ، وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama
sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman,
‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’
(QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman,
makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah:
172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh
perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia
menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai
Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia
diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR.
Muslim)
Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ
كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي
إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ
أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya
Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya
dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di
shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)
As
Shan’ani menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua
tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak” (Subulus Salam,
2/708)
Demikianlah
hukum asalnya. Jika kita memiliki keinginan atau hajat lalu kita berdoa kepada
Allah Ta’ala, kapan pun dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, tempat
atau ibadah tertentu, kita dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika
berdoa.
Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Dalam Suatu Ibadah
Banyak
hadits-hadits yang menyebutkan praktek mengangkat tangan dalam berdoa dalam
beberapa ritual ibadah, diantaranya:
1.
Ketika berdoa istisqa dalam khutbah
Sahabat
Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء
،
وإنه يرفع حتى يرى بياض إبطيه
“Biasanya
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika
berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga
terlihat ketiaknya yang putih” (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)
Langganan:
Postingan (Atom)