La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim - Semoga Jalan Kami Jalan Fisabilillah - (Insya Allah)
Cari Berkah
Tampilkan postingan dengan label Bina Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Akhlak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Januari 2025
Jumat, 27 Desember 2024
Sabtu, 14 Desember 2024
Kamis, 05 Desember 2024
Kamis, 05 Juni 2014
Celakalah Umar Bin Sa’ad
Sayyidina
Husain (demi menyempurnakan hujjah) mengirim pesan kepada Umar bin Sa’ad bahwa
beliau ingin bertemu dan berbicara dengannya. Umar bin Sa’ad menerima undangan
Al-Husain. Dirancanglah sebuah pertemuan antara kedua pasukan, Umar bin Sa’ad
dengan dua puluh pasukannya dan Al-Husain dengan dua puluh sahabatnya.
Dalam
pertemuan itu, Sayyidina Husain berkata kepada para sahabatnya,“Kalian keluar
dari majelis ini kecuali Abbas dan Ali Akbar.” Umar bin Sa’ad juga berkata kepada
pasukannya, “Kalian keluar dari majelis ini, kecuali anakku Hafsh dan budakku.”
Kemudian terjadilah dialog.
Sayyidina
Husain berkata, “Celakalah engkau! Hai Umar bin Sa’ad, apakah engkau tidak
merasa takut pada saat kembali kepada Allah, karena memerangiku? Tidakkah
engkau tahu bahwa aku adalah putera Fatimah dan Ali…. Hai Ibnu Sa’ad!
Tinggalkanlah mereka (orang-orang Yazid) dan bergabunglah bersama kami. Itu
amat baik bagimu, dan engkau akan dekat dengan Allah.” Umar bin Sa’ad berkata,
“Saya khawatir mereka akan menghancurkan rumahku.”
Al-Husain,
“Kalau mereka menghancurkannya, aku akan membangunnya kembali.”
Umar
bin Sa’ad, “Saya khawatir mereka akan merampas kebunku.”
Al-Husain,
“Kalau mereka merampasnya, aku akan memberimu tanah yang ada di Hijaz, yang
terdapat mata air yang ingin dibeli Muawiyah dengan ribuan dinar, namun tidak
dijual kepadanya.”
Umar
bin Sa’ad, “Saya punya anak isteri. Saya khawatir mereka akan diganggu dan
disiksa.”
Sayyidina
Husain terdiam. Beliau tidak memberi jawaban. Lalu beliau bangkit dan menjauh
darinya, seraya berkata, “Apa yang telah engkau perbuat? Semoga Allah
membunuhmu di tempat tidurmu. Semoga di hari kiamat, Allah tidak mengampunimu.
Dan semoga engkau tidak memakan gandum dari kota Rayy, kecuali hanya sedikit.”
Umar
bin Sa’ad menjawab dengan nada mengejek, “Cukup sya’irnya saja(maksudnya, jika
tidak memakan gandumnya, saya cukup memakan sya’ir– sejenis gandum kualitas
rendahan – nya).”
Minggu, 01 Juni 2014
Keutamaan Berdzikir
Allah
SWT berfirman:
“Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan
memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan
ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al-Baqarah: 152)
“Hai
orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan
menyebut nama-Nya)” (QS. Al-Ahzaab: 41)
“Laki-laki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk
mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al-Ahzaab: 35)
“Dan
sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut
(pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 205)
Rasulullah
SAW bersabda:
“Perumpamaan
orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut
(nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”. [HR. Bukhari dalam
Fathul bari: 11/208]
Rasulullah
SAW juga bersabda:
“Perumpamaan
rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan
untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”. [HR. Muslim; 1/539]
Rasulullah
SAW juga bersabda:
“Maukah
kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu
(Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas
atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu
memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir
berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang
Maha Tinggi”. [Shahih Tirmidzi: 3/139, Ibnu Majah: 2/316]
Allah
SWT Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):
“Aku
terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya)
bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku
menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan
orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka.
Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata
baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku
sehasta, maka
Aku
mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. [HR. Bukhari: 8/171 dan
Muslim: 4/2061, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari]
Dari
Abdullah bin Busr dia berkata:
Sesungguhnya
seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah
banyak aku terima, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu hal buat
peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya
lidahmu
basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”. [Shahih
Tirmidzi: 3/139 dan shahih Ibnu Majah: 2/317]
Senin, 19 Mei 2014
Catatan Sahabat Rasulullah Muhammad SAW (Umar bin Khattab)
Sungguh,
tidaklah cukup untuk mencintai seseorang tanpa mencintai orang-orang
disekitarnya. Mari kita mengenal dan mencintai para sahabat Rasulullah SAW.
“Seandainya
ada nabi setelahku maka ia adalah Umar bin Khattab.” (HR.Tirmidzi)
Umar
bin Khattab lahir 13 tahun setelah Tahun Gajah, sebagaimana dikatakan oleh Imam
Nawawi.
Umar
bin Khattab masuk Islam pada tahun keenam kenabian saat berumur 27 tahun.
Umar
bin Khattab adalah khalifah pertama yang mendapat gelar ’amirul mukminin.
Menurut
Ibnu Umar, Umar bin Khattab berkulit putih bersih dengan kemerah-merahan.
Postur tubuhnya tinggi, kepalanya botak dan beruban.
“Umar
bin Khattab berpostur tinggi jauh melampaui umumnya manusia.” [Ubaid bin Umar]
”Kedua
tulang pipinya menonjol, bagian depan jenggotnya besar dan di ujungnya ada
warna hitam kemerah-merahan.” [Abi Raja Al-Athari]
Tahukah
anda? Umar adalah keponakan dari Abu Jahal dan beliau juga keponakan secara
hukum dari Rasulullah SAW. Ummu Salma, bibi Umar, menikah dengan Rasulullah
SAW.
Umar
bin Khattab diberi gelar Al Faruq oleh Rasulullah SAW.
Ibnu
Sa’ad dari Dzakwan bertanya kepada ’Aisyah, “Siapa yang menggelari Umar bin
Khattab dengan Al-Faruq?” Dia berkata: ”Rasulullah.”
Al
Faruq artinya pembeda antara yang haqq (benar) dan yang bathil (salah).
Umar
adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.
Rasul
SAW pernah bermimpi melihat Umar ra di surga. Beliau SAW melihat seorang wanita
sedang berwudhu disamping sebuah Istana. Kemudian Rasul SAW menanyakan milik
siapa rumah itu, lalu dikatakan, "Milik Umar." (HR. Bukhari)
Rasulullah
SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya
Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi)
Senin, 21 April 2014
Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Mengangkat
tangan ketika sedang berdoa adalah hal yang disyariatkan dalam Islam. Perbuatan
ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga nilai tambah yang mendukung
terkabulnya doa. Mari kita bahas secara rinci bagaimana hukum dan tata caranya.
Hukum Asal Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Tidak
kami ketahui adanya perbedaan diantara para ulama bahwa pada asalnya mengangkat
tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa.
Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir
ma’nawi. Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ،
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ
لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا،
وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ
بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ،
فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا
الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا،
إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ
عَلِيمٌ} وَقَالَ:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ
يُطِيلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ،
يَمُدُّ يَدَيْهِ
إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ
حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ
حَرَامٌ، وَغُذِيَ
بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى
يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Wahai
manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama
sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman,
‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’
(QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman,
makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah:
172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh
perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia
menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai
Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia
diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR.
Muslim)
Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ
كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي
إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ
أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya
Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki
mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya
dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di
shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)
As
Shan’ani menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua
tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak” (Subulus Salam,
2/708)
Demikianlah
hukum asalnya. Jika kita memiliki keinginan atau hajat lalu kita berdoa kepada
Allah Ta’ala, kapan pun dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, tempat
atau ibadah tertentu, kita dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika
berdoa.
Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Dalam Suatu Ibadah
Banyak
hadits-hadits yang menyebutkan praktek mengangkat tangan dalam berdoa dalam
beberapa ritual ibadah, diantaranya:
1.
Ketika berdoa istisqa dalam khutbah
Sahabat
Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء
،
وإنه يرفع حتى يرى بياض إبطيه
“Biasanya
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika
berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga
terlihat ketiaknya yang putih” (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)
Minggu, 13 April 2014
Umar, Teladan Terbaik Bagi Pemimpin
Suatu ketika Pemimpin orang-orang
mukmin sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Khalifah Umar bin Khattab, berjalan kaki
berpergian keluar kota untuk melihat kondisi rakyat bersama salah seorang
sahabatnya. Kemudian Umar melihat sebuah kemah dan ada seorang wanita yang
sedang memasak.
Umar meminta izin kepada wanita itu,
“Assalamualaikum, bolehkah saya mendekat?” tanya Umar. Wanita itu menjawab :
“Silahkan, jika engkau membawa kebaikan”. Lalu Umar mendekat dan bertanya : “Kenapa
anak-anakmu menangis?”. Wanita itu menjawab : “Mereka lapar”. “Sungguh Umar bin
Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan
rakyatnya.”. Lanjut wanita itu yang tidak mengetahui bahwa orang yang sedang
diajaknya berbicara adalah Umar.
Mendengar perkataan wanita itu,
sahabat Umar lalu ingin menyanggah untuk memberitahukan bahwa dia sebenarnya
sedang berbicara dengan Umar, lalu Umar menahan ucapan sahabatnya itu untuk
tidak memberitahukan apapun kepada wanita itu. Umar kembali bertanya kepada
wanita itu : “Apa yang kau masak?”. “Aku memasak air, mengaduk-ngaduk air ini,
membuat suara agar anak-anakku tertidur supaya mereka mengira aku sedang
memasak makanan untuk mereka”. Jawab wanita malang itu.
Umar pun terhenyak mendengar hal itu
dan berkata : “Tunggulah disini, aku akan kembali lagi membawakan sesuatu
untukmu”. Umar pun bergegas kembali ke pusat kota dan pergi ke gudang makanan,
mengambil satu karung gandum dan berkata : “Bantulah aku angkat karung ini ke
punggungku”. Sahabat Umar kaget dan berkata : “Wahai Amirul Mukminin, biarlah
saya yang mengangkat karung yang berat ini”. Lalu Umar menampik dan berkata :
“Apakah engkau sanggup menanggung bebanku nanti di Akhirat?”. Sahabat pun
terdiam dan membiarkan Umar mengangkat sendiri karung yang berat itu.
Umar pun dengan tertatih sambil
membawa tongkatnya berjalan kaki menuju kemah wanita yang kelaparan tadi.
Sesampainya di kemah wanita itu, Umar membuka karung gandum itu, menaruhnya
dipanci dan memasakkannya sendiri. “Aduklah, aku akan menaruh gandum ini secara
perlahan. Beginilah cara memasak yang baik”. Ucap Umar sambil meniupkan kayu
bakar untuk memanaskan makanan. Kemudian Umar menuangkan makanan tersebut
kedalam piring lalu diberikan kepada wanita itu. Alangkah bahagianya wanita itu
karena akhirnya dia bisa memberikan makanan kepada anak-anaknya. Diapun
menghampiri anak-anaknya yang berjumlah tiga orang dan menyuapinya satu
persatu, anak-anaknya makan dengan sangat lahap karena lama tidak mendapatkan
makanan. “Engkau lebih baik dari Amirul Mukminin”, ucap wanita itu kepada Umar.
Lalu Umar menjawab :”Besok, temuilah Amirul Mukminin, katakanlah kebutuhanmu,
dia akan mencukupimu”.
Masyaallah, begitu mulia teladan
yang diberikan oleh salah satu pemimpin umat terbaik setelah Nabi SAW wafat.
Umar dengan rasa takutnya yang sangat tinggi kepada Allah swt begitu gelisah
jika ada amanah yang belum dia tunaikan. Umar rela memikul beban hidupnya demi
kebaikan umatnya. Saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis keteladanan
pemimpin dan penguasa dari berbagai bidang. Semoga kisah Umar ini bisa menjadi
pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi pemimpin dan calon-calon
pemimpin.
Semoga Allah SWT, memberkahi Umar
Bin Khattab. Dan mengumpulkannya bersama Rasulullah SAW di Surga, Aamiiin...
Rabu, 09 April 2014
Bacaan Dzikir Dan Pembatas Sholat
Pernahkan
terlintas pertanyaan dibenak anda?
1. Apakah ada tuntunan
dari Rasul shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengenai tertib
(susunan) dzikir setelah sholat fardhu ?
2. Berapa jauh
(jaraknya) orang bisa lewat di depan orang yang sedang sholat yang tidak
menggunakan pembatas (sutrah) ?
Dengan meminta pertolongan dari Allah, pertanyaan
anda dijawab sebagai berikut :
Jawaban
Pertanyaan Pertama :
Para
ulama sepakat akan disunnahkannya dzikir setelah sholat sebagaimana yang
dikatakan oleh Imam Nawawy dalam kitab Al-Adzkar 1/200 tahqiq Salim Al-Hilaly.
Akan tetapi tidak ada tuntunan secara pasti dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa
‘ala alihi wa sallam mengenai urutan/tertib dzikir tersebut. Maka boleh
berijtihad dalam urutan dzikir tersebut.
Tapi
bagi orang yang memperhatikan konteks hadits-hadits tentang dzikir di belakang
sholat bisa menyimpulkan suatu kesimpulan yang baik tentang urutannya. Berikut
ini kami sebutkan hadits-hadits tersebut :
Hadits
Pertama : Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata :
مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ بِالتَّكْبِيْرِ
“kami
tidak mengetahui selesainya sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi
wa sallam, kecuali dengan (mendengar) takbir”.(HR. Bukhary-Muslim).
Hadits
ini menunjukkan disyari’atkannya mengucapkan takbir dengan suara yang keras dan
Ibnu ‘Abbas menjadikan ini sebagai tanda selesainya sholat Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang berarti takbir itu diucapkan
langsung setelah sholat.
Hadits
Kedua : Hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ : اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ
“Adalah
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila selesai dari
sholatnya, beliau istighfar (meminta ampun) tiga kali dan beliau membaca :
“Allahumma Antas salam wa minkas Salam tabarakta ya dzal Jalali wal Ikram”
(Wahai Allah Engkau adalah As-Salam [1] dan dari-Mulah
keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Pemilik Al-Jalal (keagungan) dan Al-Ikram
(kemuliaan). (HR. Muslim)
[1] Berkata Ibnu ‘Allan
dalam Al-Futuhut Ar-Rabbaniyah 3/33 : “yaitu Yang Maha Selamat dari perubahan
dan afat (penyakit/kerusakan) atau (Yang Maha) Pemberi keselamatan bagi siapa
yang Engkau kehendaki”.
Imam
Al-Auza‘iy rahimahullah – salah seorang rawi hadits tersebut di atas- ditanya :
“Bagaimana istighfar ?”, beliau menjawab : “Kamu memgucapkan Astaghfirullah,
Astaghfirullah“.
Dan
serupa dengannya hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim :
كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَلاَمُ تَبَارَكْتُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ
“Adalah
Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau salam, beliau
tidak duduk kecuali sekedar membaca : “Allahumma Antas salam wa minkas Salam
tabarakta ya dzal Jalali wal Ikram”.
Langganan:
Postingan (Atom)