Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Tampilkan postingan dengan label Bina Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Akhlak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Celakalah Umar Bin Sa’ad

Sayyidina Husain (demi menyempurnakan hujjah) mengirim pesan kepada Umar bin Sa’ad bahwa beliau ingin bertemu dan berbicara dengannya. Umar bin Sa’ad menerima undangan Al-Husain. Dirancanglah sebuah pertemuan antara kedua pasukan, Umar bin Sa’ad dengan dua puluh pasukannya dan Al-Husain dengan dua puluh sahabatnya.

Dalam pertemuan itu, Sayyidina Husain berkata kepada para sahabatnya,“Kalian keluar dari majelis ini kecuali Abbas dan Ali Akbar.” Umar bin Sa’ad juga berkata kepada pasukannya, “Kalian keluar dari majelis ini, kecuali anakku Hafsh dan budakku.” Kemudian terjadilah dialog.

Sayyidina Husain berkata, “Celakalah engkau! Hai Umar bin Sa’ad, apakah engkau tidak merasa takut pada saat kembali kepada Allah, karena memerangiku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah putera Fatimah dan Ali…. Hai Ibnu Sa’ad! Tinggalkanlah mereka (orang-orang Yazid) dan bergabunglah bersama kami. Itu amat baik bagimu, dan engkau akan dekat dengan Allah.” Umar bin Sa’ad berkata, “Saya khawatir mereka akan menghancurkan rumahku.”

Al-Husain, “Kalau mereka menghancurkannya, aku akan membangunnya kembali.”
Umar bin Sa’ad, “Saya khawatir mereka akan merampas kebunku.”
Al-Husain, “Kalau mereka merampasnya, aku akan memberimu tanah yang ada di Hijaz, yang terdapat mata air yang ingin dibeli Muawiyah dengan ribuan dinar, namun tidak dijual kepadanya.”
Umar bin Sa’ad, “Saya punya anak isteri. Saya khawatir mereka akan diganggu dan disiksa.”

Sayyidina Husain terdiam. Beliau tidak memberi jawaban. Lalu beliau bangkit dan menjauh darinya, seraya berkata, “Apa yang telah engkau perbuat? Semoga Allah membunuhmu di tempat tidurmu. Semoga di hari kiamat, Allah tidak mengampunimu. Dan semoga engkau tidak memakan gandum dari kota Rayy, kecuali hanya sedikit.”

Umar bin Sa’ad menjawab dengan nada mengejek, “Cukup sya’irnya saja(maksudnya, jika tidak memakan gandumnya, saya cukup memakan sya’ir– sejenis gandum kualitas rendahan – nya).”

Minggu, 01 Juni 2014

Keutamaan Berdzikir

Allah SWT berfirman:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al-Baqarah: 152)

“Hai orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)” (QS. Al-Ahzaab: 41)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al-Ahzaab: 35)

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 205)

Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”. [HR. Bukhari dalam Fathul bari: 11/208]

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”. [HR. Muslim; 1/539]

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Tinggi”. [Shahih Tirmidzi: 3/139, Ibnu Majah: 2/316]

Allah SWT Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):
“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka
Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”. [HR. Bukhari: 8/171 dan Muslim: 4/2061, lafadz hadits ini dalam shahih Bukhari]

Dari Abdullah bin Busr dia berkata:
Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah banyak aku terima, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya
lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”. [Shahih Tirmidzi: 3/139 dan shahih Ibnu Majah: 2/317]

Senin, 19 Mei 2014

Catatan Sahabat Rasulullah Muhammad SAW (Umar bin Khattab)

Sungguh, tidaklah cukup untuk mencintai seseorang tanpa mencintai orang-orang disekitarnya. Mari kita mengenal dan mencintai para sahabat Rasulullah SAW.

“Seandainya ada nabi setelahku maka ia adalah Umar bin Khattab.” (HR.Tirmidzi)

Umar bin Khattab lahir 13 tahun setelah Tahun Gajah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi.

Umar bin Khattab masuk Islam pada tahun keenam kenabian saat berumur 27 tahun.

Umar bin Khattab adalah khalifah pertama yang mendapat gelar ’amirul mukminin.

Menurut Ibnu Umar, Umar bin Khattab berkulit putih bersih dengan kemerah-merahan. Postur tubuhnya tinggi, kepalanya botak dan beruban.

“Umar bin Khattab berpostur tinggi jauh melampaui umumnya manusia.” [Ubaid bin Umar]

”Kedua tulang pipinya menonjol, bagian depan jenggotnya besar dan di ujungnya ada warna hitam kemerah-merahan.” [Abi Raja Al-Athari]

Tahukah anda? Umar adalah keponakan dari Abu Jahal dan beliau juga keponakan secara hukum dari Rasulullah SAW. Ummu Salma, bibi Umar, menikah dengan Rasulullah SAW.

Umar bin Khattab diberi gelar Al Faruq oleh Rasulullah SAW.

Ibnu Sa’ad dari Dzakwan bertanya kepada ’Aisyah, “Siapa yang menggelari Umar bin Khattab dengan Al-Faruq?” Dia berkata: ”Rasulullah.”

Al Faruq artinya pembeda antara yang haqq (benar) dan yang bathil (salah).

Umar adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Rasul SAW pernah bermimpi melihat Umar ra di surga. Beliau SAW melihat seorang wanita sedang berwudhu disamping sebuah Istana. Kemudian Rasul SAW menanyakan milik siapa rumah itu, lalu dikatakan, "Milik Umar." (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi)

Senin, 21 April 2014

Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Mengangkat tangan ketika sedang berdoa adalah hal yang disyariatkan dalam Islam. Perbuatan ini merupakan salah satu adab dalam berdoa dan juga nilai tambah yang mendukung terkabulnya doa. Mari kita bahas secara rinci bagaimana hukum dan tata caranya.

Hukum Asal Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Tidak kami ketahui adanya perbedaan diantara para ulama bahwa pada asalnya mengangkat tangan ketika berdoa hukumnya sunnah dan merupakan adab dalam berdoa. Dalil-dalil mengenai hal ini banyak sekali hingga mencapai tingkatan mutawatir ma’nawi. Diantaranya hadist Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Alla Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud 1488, At Tirmidzi 3556, di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 2070)

As Shan’ani menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak” (Subulus Salam, 2/708)

Demikianlah hukum asalnya. Jika kita memiliki keinginan atau hajat lalu kita berdoa kepada Allah Ta’ala, kapan pun dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, tempat atau ibadah tertentu, kita dianjurkan untuk mengangkat kedua tangan ketika berdoa.

Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Dalam Suatu Ibadah

Banyak hadits-hadits yang menyebutkan praktek mengangkat tangan dalam berdoa dalam beberapa ritual ibadah, diantaranya:

1. Ketika berdoa istisqa dalam khutbah

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء ، وإنه يرفع حتى يرى بياض إبطيه

Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa, kecuali ketika istisqa. Beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat ketiaknya yang putih” (HR. Bukhari no.1031, Muslim no.895)

Minggu, 13 April 2014

Umar, Teladan Terbaik Bagi Pemimpin

Suatu ketika Pemimpin orang-orang mukmin sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Khalifah Umar bin Khattab, berjalan kaki berpergian keluar kota untuk melihat kondisi rakyat bersama salah seorang sahabatnya. Kemudian Umar melihat sebuah kemah dan ada seorang wanita yang sedang memasak.

Umar meminta izin kepada wanita itu, “Assalamualaikum, bolehkah saya mendekat?” tanya Umar. Wanita itu menjawab : “Silahkan, jika engkau membawa kebaikan”. Lalu Umar mendekat dan bertanya : “Kenapa anak-anakmu menangis?”. Wanita itu menjawab : “Mereka lapar”. “Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”. Lanjut wanita itu yang tidak mengetahui bahwa orang yang sedang diajaknya berbicara adalah Umar.

Mendengar perkataan wanita itu, sahabat Umar lalu ingin menyanggah untuk memberitahukan bahwa dia sebenarnya sedang berbicara dengan Umar, lalu Umar menahan ucapan sahabatnya itu untuk tidak memberitahukan apapun kepada wanita itu. Umar kembali bertanya kepada wanita itu : “Apa yang kau masak?”. “Aku memasak air, mengaduk-ngaduk air ini, membuat suara agar anak-anakku tertidur supaya mereka mengira aku sedang memasak makanan untuk mereka”. Jawab wanita malang itu.

Umar pun terhenyak mendengar hal itu dan berkata : “Tunggulah disini, aku akan kembali lagi membawakan sesuatu untukmu”. Umar pun bergegas kembali ke pusat kota dan pergi ke gudang makanan, mengambil satu karung gandum dan berkata : “Bantulah aku angkat karung ini ke punggungku”. Sahabat Umar kaget dan berkata : “Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya yang mengangkat karung yang berat ini”. Lalu Umar menampik dan berkata : “Apakah engkau sanggup menanggung bebanku nanti di Akhirat?”. Sahabat pun terdiam dan membiarkan Umar mengangkat sendiri karung yang berat itu.

Umar pun dengan tertatih sambil membawa tongkatnya berjalan kaki menuju kemah wanita yang kelaparan tadi. Sesampainya di kemah wanita itu, Umar membuka karung gandum itu, menaruhnya dipanci dan memasakkannya sendiri. “Aduklah, aku akan menaruh gandum ini secara perlahan. Beginilah cara memasak yang baik”. Ucap Umar sambil meniupkan kayu bakar untuk memanaskan makanan. Kemudian Umar menuangkan makanan tersebut kedalam piring lalu diberikan kepada wanita itu. Alangkah bahagianya wanita itu karena akhirnya dia bisa memberikan makanan kepada anak-anaknya. Diapun menghampiri anak-anaknya yang berjumlah tiga orang dan menyuapinya satu persatu, anak-anaknya makan dengan sangat lahap karena lama tidak mendapatkan makanan. “Engkau lebih baik dari Amirul Mukminin”, ucap wanita itu kepada Umar. Lalu Umar menjawab :”Besok, temuilah Amirul Mukminin, katakanlah kebutuhanmu, dia akan mencukupimu”.

Masyaallah, begitu mulia teladan yang diberikan oleh salah satu pemimpin umat terbaik setelah Nabi SAW wafat. Umar dengan rasa takutnya yang sangat tinggi kepada Allah swt begitu gelisah jika ada amanah yang belum dia tunaikan. Umar rela memikul beban hidupnya demi kebaikan umatnya. Saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis keteladanan pemimpin dan penguasa dari berbagai bidang. Semoga kisah Umar ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya bagi pemimpin dan calon-calon pemimpin.

Semoga Allah SWT, memberkahi Umar Bin Khattab. Dan mengumpulkannya bersama Rasulullah SAW di Surga, Aamiiin...

Rabu, 09 April 2014

Bacaan Dzikir Dan Pembatas Sholat

Pernahkan terlintas pertanyaan dibenak anda?
1.  Apakah ada tuntunan dari Rasul shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengenai tertib (susunan) dzikir setelah sholat fardhu ?
2.  Berapa jauh (jaraknya) orang bisa lewat di depan orang yang sedang sholat yang tidak menggunakan pembatas (sutrah) ?

Dengan  meminta pertolongan dari Allah, pertanyaan anda dijawab sebagai berikut :

Jawaban Pertanyaan Pertama :

Para ulama sepakat akan disunnahkannya dzikir setelah sholat sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawy dalam kitab Al-Adzkar 1/200 tahqiq Salim Al-Hilaly. Akan tetapi tidak ada tuntunan secara pasti dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengenai urutan/tertib dzikir tersebut. Maka boleh berijtihad dalam urutan dzikir tersebut.

Tapi bagi orang yang memperhatikan konteks hadits-hadits tentang dzikir di belakang sholat bisa menyimpulkan suatu kesimpulan yang baik tentang urutannya. Berikut ini kami sebutkan hadits-hadits tersebut :

Hadits Pertama : Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata :

مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ بِالتَّكْبِيْرِ

“kami tidak mengetahui selesainya sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, kecuali dengan (mendengar) takbir”.(HR. Bukhary-Muslim).

Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya mengucapkan takbir dengan suara yang keras dan Ibnu ‘Abbas menjadikan ini sebagai tanda selesainya sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang berarti takbir itu diucapkan langsung setelah sholat.

Hadits Kedua : Hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ : اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila selesai dari sholatnya, beliau istighfar (meminta ampun) tiga kali dan beliau membaca : “Allahumma Antas salam wa minkas Salam tabarakta ya dzal Jalali wal Ikram” (Wahai Allah Engkau adalah As-Salam [1] dan dari-Mulah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Pemilik Al-Jalal (keagungan) dan Al-Ikram (kemuliaan). (HR. Muslim)

[1]  Berkata Ibnu ‘Allan dalam Al-Futuhut Ar-Rabbaniyah 3/33 : “yaitu Yang Maha Selamat dari perubahan dan afat (penyakit/kerusakan) atau (Yang Maha) Pemberi keselamatan bagi siapa yang Engkau kehendaki”.

Imam Al-Auza‘iy rahimahullah – salah seorang rawi hadits tersebut di atas- ditanya : “Bagaimana istighfar ?”, beliau menjawab : “Kamu memgucapkan Astaghfirullah, Astaghfirullah“.

Dan serupa dengannya hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim :

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَلاَمُ تَبَارَكْتُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ

“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau salam, beliau tidak duduk kecuali sekedar membaca : “Allahumma Antas salam wa minkas Salam tabarakta ya dzal Jalali wal Ikram”.