Salah seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah Umar bin Khattab. Kemuliaan sosok berjulukan al-Faruq itu tecermin antara lain pada kejadian-kejadian turunnya beberapa ayat Alquran (asbabun nuzul). Ada sejumlah firman Allah Ta’ala yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam konteks peristiwa yang dialami atau disaksikan Umar.
Ketika keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang dilanda ujian. Fitnah menerpa seorang istri beliau, ‘Aisyah binti Abu Bakar. Saat itu, orang-orang munafik menyebarkan gosip bahwa putri ash-Shiddiq itu telah berselingkuh.
Saat itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pendapat beberapa sahabat terdekat tentang perkara ini. Ketika sampai gilirannya Umar, sang al-Faruq mengatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang menikahkan engkau dengan ‘Aisyah?”
“Allah,” jawab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
“Maka apakah mungkin Allah menipu engkau?” tanya Umar lagi.
“Subhanallah! Sesungguhnya ini (fitnah terhadap ‘Aisyah) adalah berita bohong,” kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyadari arah perkataan Umar.
Benar saja. Tak lama kemudian, turunlah firman Allah, yakni surah an-Nur ayat 16.
“Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, ‘Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”
Peristiwa lainnya berkaitan dengan kegelisahan Umar tentang maraknya minuman keras di tengah umat Islam Madinah. Saat itu, khamr memang belum diharamkan oleh syariat Islam. Lagi pula, masih banyak tradisi Arab yang menjadikan minuman keras sebagai sajian umum demi mengakrabkan suasana pertemuan atau kumpul-kumpul.
Yang sudah turun saat itu, ialah ayat-ayat Alquran yang menyebut tentang dampak buruk minuman keras. Hanya saja, belum sampai pada taraf mengharamkannya. Maka, beberapa sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih ada yang gemar menenggak miras. Termasuk di antara mereka ini, Umar bin Khattab.
Lama-kelamaan, Umar sendiri justru merasa khawatir akan imbas jangka panjang khamr. Para sahabat kerap lalai tentang jumlah rakaat yang sedang dikerjakan. Itu ketika mendirikan shalat dalam keadaan belum pulih 100 persen dari pengaruh alkohol.
Maka, di tiap kesempatan Umar sering bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kapankah Allah mengharamkan minuman keras. Akhirnya, turunlah firman-Nya, yakni surah al-Maidah ayat 90.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Sesudah datangnya ayat itu, maka tidak ada satupun orang Islam yang meminum minuman keras.
Perkara lainnya tentang Umar bin Khattab dan asbabun nuzul beberapa ayat Alquran adalah tentang sosok Abdullah bin Ubai. Dialah pemimpin kaum munafik di Madinah. Bagaimanapun, Abdullah ternyata memiliki putra yang meneguhkan identitas diri sebagai seorang Muslim yang beriman kuat, pemberani, dan setia membela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Ketika Abdullah bin Ubai meninggal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak menshalati jenazahnya. Hal itu dilakukan beliau sebagai tanda simpati kepada putranya yang Muslim saleh itu.
Namun, Umar menampakkan wajah tidak setuju. Ia meminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau menshalati orang munafik ini, padahal dia itu semasa hidupnya berkata, ‘orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari Madinah’?” Maksudnya, si mendiang semasa hidupnya gemar memprovokasi Suku Aus dan Khazraj–yakni penduduk Arab asli Madinah–untuk memusuhi kaum Muhajirin. Ia juga sering membela kaum musyrik Makkah, alih-alih Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Usai Umar bin Khattab berkata itu, turunlah firman Allah, yakni surah at-Taubah ayat 84. Isinya membenarkan pendapat Umar itu.
“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”
Kisah lainnya terjadi pada masa awal konsolidasi umat Islam di Madinah. Saat itu, terjadilah Perang Badar. Dengan pertolongan Allah Ta’ala, kaum Muslimin walau berjumlah lebih sedikit daripada pasukan musuh berhasil memenangkan pertarungan krusial ini.
Orang-orang Islam banyak mendapatkan tawanan dari kalangan musyrikin Quraisy. Maka, seperti biasa, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pendapat para sahabat senior untuk menentukan nasib para tawanan ini. Untuk diketahui, saat itu syariat Islam belum memuat ketentuan hukum terkait nasib tawanan perang.
Abu Bakar berpendapat, mereka hendaknya dibebaskan. Itu dengan syarat, keluarga mereka masing-masing memberikan tebusan kepada Muslimin.
Berbeda dengan itu, Umar menyarankan agar mereka dibunuh saja. Alasannya, mereka bukanlah musuh biasa. Al-Faruq menerangkan, mereka adalah para tokoh Quraisy yang memang sengaja keluar dari Makkah untuk berperang melawan dan membunuh kaum Muslimin Madinah.
Ternyata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam condong pada pendapat Abu Bakar. Maka para tawanan dibebaskan dengan jaminan.
Keesokan harinya, turunlah firman Allah, surah al-Anfal ayat 67.
“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Pagi-pagi, di Masjid Nabawi Umar mendapati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar duduk sambil menangis. Keheranan, Umar pun bertanya kepada dua orang mulia ini.
“Wahai Rasulullah dan Abu Bakar, apakah kiranya yang membuat kalian bersedih hati? Katakanlah kepadaku sehingga aku bisa ikut menangisinya bersama kalian?” ujar Umar.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun menuturkan perihal turunnya surah al-Anfal ayat 67 itu. Surah tersebut membenarkan pendapat Umar tentang hukum yang seharusnya dijatuhkan atas para tawanan. Abu Bakar kemudian berkata, “Wahai Umar, kalaulah turun azab dari langit, maka tidak akan ada yang selamat kecuali engkau, Umar.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuliskan Komentar, Kritik dan Saran SAHABAT Disini .... !!!