Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Cari Berkah

Senin, 19 Januari 2026

Kisah Hamzah bin Abdul Mutholib : Saat Amarah Berubah Menjadi Iman

Makkah siang itu berdebu dan panas. Di lembah kota yang keras itu, Rasulullah berdiri sendirian di dekat Bukit Shafa. Tidak ada pasukan. Tidak ada pelindung. Hanya seorang Nabi dengan dakwah yang ditertawakan dan dihina.

Tiba-tiba Abu Jahl datang. Dengan wajah penuh kebencian, ia mencaci Rasulullah. Kata-katanya tajam, menghina nasab, mencela ajaran, merendahkan kehormatan. la tidak hanya melukai lisan tetapi menusuk harga diri seorang keponakan yang dicintai.

Rasulullah diam. Beliau tidak membalas. Beliau tidak melawan. Beliau menahan semuanya di dadanya.

Tak jauh dari situ, seorang budak perempuan melihat kejadian itu. Hatinya terbakar. Namun ia tak berdaya. la hanya menyimpan peristiwa itu-menunggu waktu.
Sore harinya, Hamzah bin Abdul Muththalib pulang dari berburu. Tubuhnya tegap. Busurnya masih di tangan. Wajahnya keras, wajah seorang singa Quraisy. la adalah paman Rasulullah, saudara sepersusuan beliau, dan salah satu lelaki paling disegani di Makkah.

Budak perempuan itu mendekat dan berkata dengan suara bergetar,
“Wahai Abu ‘Umarah… andai engkau melihat apa yang Abu Jahl lakukan pada keponakanmu.”
Hamzah berhenti melangkah.
“Apa yang ia lakukan?” tanyanya.
la mendengar semuanya. Setiap kata hinaan. Setiap cercaan. Setiap penghinaan terhadap keponakannya.
Darah Hamzah mendidih. Bukan karena agama. Bukan karena dakwah. Tetapi karena kehormatan keluarga Bani Hasyim diinjak-injak di depan umum.
Tanpa berkata apa pun, Hamzah melangkah cepat menuju Ka’bah. Abu Jahl sedang duduk di sana bersama para pembesar Quraisy. Mereka tertawa-merasa menang.
Hamzah mendekat.
Tanpa peringatan, ia mengangkat busurnya dan menghantam kepala Abu Jahl hingga berdarah. Dengan suara mengguntur, Hamzah berkata:
“Bagaimana mungkin engkau mencaci Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya?!
Aku mengatakan apa yang ia katakan!”
Semua terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan karena iman. Bukan karena yakin. Tetapi karena amarah dan pembelaan. Namun kalimat itu telah diucapkan. Dan langit mendengarnya.
Abu Jahl terhuyung. Orang-orang Quraisy hendak membalas, tetapi ia menghentikan mereka.
“Biarkan,” katanya. “Aku memang telah mencacinya.”
Malam itu, Hamzah pulang dengan dada bergemuruh. Amarahnya mereda dan kegelisahan datang.
la duduk sendiri. Kalimat yang ia ucapkan siang tadi terus terngiang di kepalanya.
“Apakah aku benar-benar berada di atas agamanya?”
Hatinya gelisah. Jiwanya berperang dengan dirinya sendiri.
Hamzah menuju Ka’bah di malam sunyi. la berdoa kepada Allah-Tuhan yang sejak lama ia kenal, tetapi belum sepenuhnya ia ikuti.
“Ya Allah… jika apa yang dibawa Muhammad itu benar, lapangkanlah dadaku. Jika tidak, tunjukkan kepadaku.”

Kalah dalam kesholehan, bersainglah dengan pendosa 😢🤲

Kalau tidak bisa bersaing dengan orang sholeh dalam memperbanyak amal,maka bersainglah dengan para pendosa dalam memperbaiki diri.
~ Ustadz Adi Hidayat ~

🛒 [MUKENA] Mukena Sutra Fanel Vanelsilk Armania Premium 2in1 Free Sajadah Mewah Jumbo Terlaris 👍💯

Temukan Mukena Sutra Fanel Vanelsilk Armania Premium 2in1 Free Sajadah Mewah Jumbo Terlaris. 💯🧕


Dapatkan sekarang juga di Shopee! 

Minggu, 18 Januari 2026