Nama
aslinya adalah Jundub bin Junadah bin Sakan, tetapi dia dikenal
dengan sebutan Abu Dzar Al Ghifari r.a. Dia adalah sahabat Rasulullah Saw yang
berasal dari suku ghiffar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam.
Sebelum menjadi seorang muslim, Abu Dzar Al Ghifari r.a dikenal sebagai
seorang perampok yang suka merampok para kabilah yang pedagang yang melewati
padang pasir. Suku Ghiffar memang sudah dikenal sebagai binatang buas malam dan
hantu kegelapan. Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat
dari perampokan.
Abu
Dzar Al Ghifari r.a adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang
paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi
pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan r.a, seperti Marwan bin Al-Hakam,
Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.
Ia
mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak
menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya. Ia mendapat
hidayat Allah Swt dan memeluk Islam di kala Rasulullah Saw menyebarkan dakwah
risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang
lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar Al Ghifari r.a tanpa
menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di
hadapan orang-orang kafir Quraisy. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari
Mekah, Abu Dzar Al Ghifari r.a berhasil mengajak semua anggota qabilahnya
memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam,
berhasil pula di Islamkan.
Demikian
gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar Al Ghifari r.a bergerak menyebarkan
Islam, sehingga Rasulullah Saw sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya.
Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad Saw dengan bangga
mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah
menyelamatkan kehidupan mereka!”
Sejak
menjadi orang muslim, Abu Dzar Al Ghifari r.a benar-benar telah menghias
sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu
siap berkorban untuk menegakkan kebenaran Allah Swt dan Rasul-Nya. Tanpa tedeng
aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan
dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar
Al Ghifari r.a dinilai oleh Rasulullah Saw sebagai “cahaya terang benderang.”
Pada
pribadi Abu Dzar Al Ghifari r.a tidak terdapat perbedaan antara lahir dan
bathin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian.
Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau
disesali orang lain. Kesetiaan pada kebenaran Allah Swt dan Rasul-Nya
terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam
berjuang melaksanakan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, Abu Dzar Al
Ghifari r.a benar-benar serius, keras, dan tulus. Namun demikian ia tidak
meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.
Pada
suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasulullah Saw tentang tindakan apa kira-kira
yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa
yang mengangkangi harta Ghanimah milik kaum muslimin. Dengan
tandas Abu Dzar Al Ghifari r.a menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu
membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”
Menanggapi
sikap yang tandas dari Abu Dzar Al Ghifari r.a ini, Nabi Muhammad Saw
sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata:
“Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa
dengan aku di hari kiamat kelak!”




